Pada 2017, tempat ini sempat viral di media sosial dan dikunjungi oleh banyak orang, tetapi saat itu tempat ini masihlah tempat penimbunan kayu Perhutani. Setelah menimbang potensi wisata dari tempat tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bersama Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi selaku pemilik lahan resmi membuka De Djawatan sebagai tempat wisata pada Juni 2018.[2][3]
Flora dan Fauna
De Djawatan didominasi dengan pohon-pohon trembesi (Samanea saman) yang berjumlah hingga sekitar 805 pohon, yang sudah berumur sekitar 100-150 tahun (satu setengah abad) dan telah tumbuh dari zaman Belanda. Pohon-pohon trembesi ini ditutupi oleh lumut, epifit, dan berbagai tanaman pakis di sepanjang dahannya. [4] Selain itu, juga terdapat burung-burung endemik dan beberapa satwa liar lainnya yang hidup disini. [5]
Biaya masuk
Karcis masuk De Djawatan sebesar Rp5000, dan parkir sepeda motor sebesar Rp2000.[1]