Dayung Sampan adalah lagu rakyat Indonesia yang berasal dari Banten.[1][2] Lagu ini kerap dikaitkan dengan budaya Betawi dan Peranakan Benteng. Lagu "Dayung Sampan" cukup populer di Indonesia dan Singapura.[3][4]
Latar belakang dan deskripsi
"Dayung Sampan" berasal dari Indonesia pada era 1940-an dan dipopulerkan oleh pasindhèn bernama Dasimah.[5] Lagu ini kemudian dikenal luas dan memiliki keterkaitan kuat dengan masyarakat Tionghoa Betawi di Banten.[6] Secara tradisional, lagu ini dimainkan dengan iringan gambang kromong, yaitu orkes tradisional Betawi yang mendapat pengaruh musik Tionghoa.
Lirik lagu "Dayung Sampan" menceritakan kehidupan para nelayan serta perjalanan mereka melaut untuk mencari ikan.[7][8]
Popularitas di luar Indonesia
"Dayung Sampan" pertama kali dibawa ke Singapura oleh para migran dari Indonesia.[9] Pada tahun 1956, lagu ini diadaptasi ke dalam bahasa Mandarin dengan judul "Poor Great Uncle" atau 可怜阿伯大, dan dinyanyikan oleh Wu Meiling serta Chen Chuan.[10]
Pada tahun 1978, penyanyi asal Taiwan, Teresa Teng, merekam versi Indonesia dari lagu ini. Versi "Dayung Sampan" yang dibawakan Teresa Teng digarap oleh komponis asal Singapura, Osman Ahmad,[11] dan diyakini berasal dari era 1950-an. Pada 20 September 1979, Teresa Teng merilis album An Unforgettable Day atau 難忘的一天 yang memuat versi Mandarin dari "Dayung Sampan" berjudul "Tian Mi Mi" atau 甜蜜蜜, dengan lirik yang ditulis oleh Zhuang Nu.[12]
Aransemen dan versi
Rekaman tertua "Dayung Sampan" yang diketahui dinyanyikan oleh Rita Zahara pada album Presents Songs From Old Djakarta In Krontjong Beat tahun 1956. Album ini diaransemen dan disutradarai oleh Rudi Pirngadi.[13][14] Sementara itu, versi dengan lirik yang paling populer dan dikenal luas pertama kali dinyanyikan oleh Aida Mustafa dalam album Dayung Sampan[15][16] tahun 1969. Lagu tersebut kemudian dimasukkan kembali ke dalam album lagu rakyatnya yang berjudul Sarinande.[17]
Versi lainnya
Titiek Sandhora merilis versi daur ulang pada tahun 1970 dengan lirik yang mirip dengan versi yang digunakan oleh Teresa Teng.[18]
Benyamin Sueb mengadaptasi melodi lagu ini untuk lagu berjudul "Minta Kawin" dalam album Telpon Umum tahun 1977, dengan tema tentang permintaan menikah dengan perempuan Tionghoa Indonesia.[19]
Waldjinah merilis versi berbahasa Jawa dari lagu ini dalam albumnya Glenak-Glenik.
Versi keroncong lagu "Dayung Sampan" dirilis oleh Hetty Koes Endang dalam album yang menggunakan judul yang sama.[20]
Pada tahun 2006, Noraniza Idris membawakan lagu ini dengan lirik bahasa Melayu dalam album Lenggok 20 Tahun, berkolaborasi dengan He Yun.[21]
Komponis Ananda Sukarlan akhirnya menciptakan karya pianonya yang virtuosik, Rapsodia Nusantara no. 36 berdasarkan Dayung Sampan dan Tian Mi Mi, menunjukkan proses transformasi dari lagu aslinya ke versi Teresa Teng, lengkap dengan tangganada Cina (termasuk menggunakan tuts hitam di piano). Karya ini menjadi populer di kalangan musik klasik dan kini dimainkan banyak pianis lain dari dalam dan luar negeri, dapat didengar di YouTube. Rapsodia Nusantara no. 36 telah membuka mata internasional bahwa lagu Teresa Teng yang sangat populer itu sebetulnya adalah adaptasi dari lagu Banten ini.