Lempeng tektonik adalah potongan-potongan Kerak Bumi dan mantel teratas, yang secara bersama-sama disebut sebagai litosfer. Lempeng-lempeng tersebut memiliki ketebalan sekitar 100km (62mi) dan terdiri dari dua jenis material utama: Kerak samudra (juga disebut sima dari silikon dan magnesium) dan Kerak benua (sial dari silikon dan aluminium). Komposisi kedua jenis kerak tersebut sangat berbeda, dengan batuan basaltik mendominasi kerak samudra, sedangkan kerak benua terutama terdiri dari batuan felsikgranit berdensitas rendah.
Daftar lempeng tektonik
Geolog pada umumnya sepakat bahwa lempeng tektonik saat ini ada di Permukaan Bumi dengan batas-batas yang dapat ditentukan secara kasar. Lempeng tektonik terkadang dibagi lagi menjadi tiga kategori: lempengutama (atau primer), lempengminor (atau sekunder), dan lempeng mikro (atau lempeng tersier).[1]
Lempeng utama
Peta yang menunjukkan lempeng tektonik utama Bumi dan batas-batasnya secara rinci
Lempeng ini menyusun sebagian besar benua dan Samudera Pasifik. Lempeng dengan luasnya lebih dari 20 juta km2.
Lempeng-lempeng yang lebih kecil ini sering kali tidak ditampilkan pada peta lempeng besar, karena sebagian besar lempeng tersebut tidak mencakup wilayah daratan yang signifikan. Untuk keperluan daftar ini, lempeng minor adalah lempeng apa pun yang luasnya kurang dari 20 juta km2 tetapi lebih besar dari 1 juta km2.
Lempeng Burma - Lempeng tektonik minor di Asia Tenggara – 1.100.000km2 (420.000sqmi)
Lempeng Karibia - Lempeng tektonik yang sebagian besar berupa lempeng samudra, meliputi sebagian Amerika Tengah dan Laut Karibia – 3.300.000km2 (1.300.000sqmi)
Lempeng Caroline - Lempeng tektonik samudra kecil di utara Nugini – 1.700.000km2 (660.000sqmi)
Lempeng Cocos - lempeng tektonik muda, meliputi barat daya Samudra Pasifik, dan Amerika Tengah - 2.900.000km2 (1.100.000sqmi)
Bagian lapisan luar, interior bumi dibagi menjadi lapisan litosfer dan lapisan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Llitosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel.
Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempengan adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempengan-lempengan tektonik yang berbeda-beda. Lempengan ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempengan bisa mencapai 10–40mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Punggungan tengah Atlantik, ataupun bisa mencapai 160mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca.[7][8]
Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak. Yang pertama
adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan magnesium. Yang kedua adalah kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon dan aluminium.
Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30–50km sedangkan kerak samudera hanya 5–10km.
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.
Perbedaan antara kerak benua dengan kerak samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya.
Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya silikon.
Kerak benua kurang padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang felsik.[9] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.
↑Niels Henriksen; A.K. Higgins; Feiko Kalsbeek; T. Christopher R. Pulvertaft (2000). "Greenland from Archaean to Quaternary"(PDF). Greenland Survey Bulletin. No.185. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2008-12-07. Diakses tanggal 2009-10-04.