Penyanyi Cilik
Perjalanan karier bernyanyi Chicha dimulai tahun 1975. Bermula dari seringnya Chicha mengikuti ayahnya Nomo Koeswoyo pimpinan grup No Koes ke studio rekaman. Suatu hari sekitar bulan Agustus tahun 1975, ayahnya memperoleh pesanan membuat iklan tapal gigi Delident. Dicobanya merekam suara puteri sulungnya Chicha. Iklan yang sebetulnya pendek itu, tak terduga seperti petunjuk rahasia menuju ke sumber mata uang. "Ternyata suara Chicha itu kok nyengek tinggi melengking dan tampak komersiil", ujar Nomo pada TEMPO mencoba mengenang awal pengorbitan anaknya. Operator Studio Yukawi di mana rekaman kemudian dikerjakan setuju 100% dengan Nomo. Mereka mendesak. "Sudahlah, rekam saja suara Chicha!" Desakan ini menyebabkan Nomo membiarkan Chicha turut di studio Yukawi. Nomo membuatkan seluruh lagu untuk dinyanyikan Chica dalam sebuah album anak-anak, salah satunya berjudul Helli yang kemudian menjadi hits dan dikenal hingga saat ini. Inspirasi lagu tersebut diperoleh seekor anjing Peking peliharaannya yang bernama Helli, yang usianya setahun lebih tua dari Chicha. Anjing inilah yang memberi ilham lagu Helli yang laris itu.[3]
Waktu album pertama keluar, entah kebetulan atau lewat perhitungan anak-anak sekolah sedang liburan, sehingga mendapat tanggapan pasar yang sangat luar biasa. Kesuksesan album I lalu diikuti dengan rilis album II. Komposer lagu anak-anak terkenal A.T. Mahmud menganggap Chicha punya potensi baik. Album Chicha volume I dan II dianggapnya berhasil, karena memenuhi persyaratan lagu anak-anak. "Sebuah lagu akan digemari anak-anak, apabila setelah mendengar lagunya tubuh si anak akan ikut bergerak", kata Mahmud. Pengasuh acara Ayo Menyanyi TVRI, Bu Fat, ketika disodori album-album Chicha mengatakan: "Suara Chicha masih asli, dia tidak mencuri harga nada. Ia tidak banyak menggunakan variasi, lirik-liriknya sederhana, sehingga anak-anak gampang menerimanya".[4]
Album Chicha yang pertama itu berisi 11 buah lagu: Helli, Kelinciku, Berhitung, Sepasang Burung, Dang-dang tut, Loncengku, Si Gendut, Nasihat Ibu, Hompimpa, Ke Rumah Paman, Tarik Tambang. Adanya selang-seling yang jelas antara lagu yang iramanya cepat dengan yang iramanya lebih santai, menyebabkan lagu-lagu itu memperoleh posisi yang baik untuk sama-sama menonjol. Volume II Chicha berisi 10 buah lagu: Berbaris, Adikku Manis, Oma, Naik Kelas, Tukang Kue, Salam Bunga, Becak, Mawar Merah, Dunia Binatang, Di Kaki Bukit. Bu Fat juga berkomentar dengan mengatakan bahwa di samping bakat, keuntungan Chicha adalah lingkungan. Ia tumbuh di tengah keluarga Koeswoyo di Cipete yang semuanya mencari nafkah dari musik. Volume III Chicha dengan judul Senam Pagi berisi 10 buah lagu: Senam Pagi, Sha la-la, Kereta Api, Bangun Pagi, Pok Ame-Ame, Kling Klong, Guruku, Jangan Suka Melamun, Di Taman, Sepatu Roda. Album ini seperti meneruskan gaya "bertutur" yang mulai terasa pada volume II. Musiknya terasa tidak semantap album terdahulu. Mungkin karena ada kegoncangan dalam formasi No Koes yang selama ini mengiringi Chicha—dengan keluarnya Usman Bersaudara. Namun hal itu tak berpengaruh banyak pada penggemarnya, mereka tetap menunggu peluncuran album berikutnya. Belasan album kemudian berhasil diluncurkan oleh bintang cilik ini yang semakin memperkukuh popularitasnya dalam dunia tarik suara anak-anak tanah air masa itu.
Chicha Koeswoyo bisa dikatakan sebagai penyanyi cilik pertama yang membuat album rekaman di Indonesia. Keberhasilannya menjadikan pelopor bagi penyanyi cilik lainnya pada masa itu seperti Adi Bing Slamet, Yoan Tanamal, Ira Maya Sopha, Dina Mariana, Diana Papilaya, Vien Is Haryanto, Bobby Sandhora, Debbie Rhoma Irama, Santi Sardi, Nourma Yunita, Liza Tanzil, Sandra Dewi, Fitria Elvi Sukaesih, Puput Novel, Facrul Rozi, Iyut Bing Slamet, dsb. Jejaknya ini diikuti pula oleh adik kandungnya Hellen Koeswoyo dan sepupunya Sari Yok Koeswoyo.
Kesuksesan album-albumnya menjadikan Cicha terkenal sebagai penyanyi cilik dengan lagu bertema anak-anak. Pada masa itu ia menjadi artis cilik yang paling populer dan paling sering tampil di layar televisi nasional saat itu TVRI. Selain bersolo album, Chicha juga pernah berduet dengan Adi Bing Slamet dalam beberapa album dan terakhir dengan Chandra Darusman saat usianya meulai menginjak remaja. Selain itu sejumlah album Pop Natal, Qasidah, dan Operet telah dirilisnya untuk menyenangkan hati penggemarnya. Menginjak remaja kegiatan menyanyi Chicha semakin berkurang. Ia sempat mengeluarkan album remaja, tetapi tak mendapat respon seheboh sewaktu menjadi penyanyi cilik.