Rumkowski memperoleh banyak kekuasaan dengan mengubah ghetto tersebut menjadi pusat industri manufaktur yang memproduksi perlengkapan perang untuk Wehrmacht karena mengira produktivitas adalah kunci kelangsungan hidup komunitas Yahudi di masa Holokaus. Nazi menutup ghetto pada tahun 1944, di mana semua penduduk yang tersisa (termasuk Rumkowski) diangkut ke kamp pemusnahan setelah kekalahan Jerman Nazi di Front Timur.
Sebagai kepala Judenrat, Rumkowski dikenang karena pidatonya "Berikan Anak-Anakmu Padaku", yang disampaikan saat Jerman memintanya untuk menyerahkan 20.000 kanak-kanak Yahudi untuk dikirim ke kamp pemusnahan Chełmno. Pada Agustus 1944, Rumkowski dan keluarganya bergabung dengan rombongan tahanan terakhir ke Auschwitz,[1] dan tewas di sana pada 28 Agustus 1944, di tangan para tawanan Yahudi Sonderkommando yang memukulinya hingga mati sebagai balasan atas peranannya dalam Holokaus. Kisah tentang saat-saat terakhirnya ini dikonfirmasi oleh pernyataan para saksi selama persidangan Auschwitz Frankfurt.[2][3]
Latar belakang
Panti asuhan milik Rumkowski
Chaim Rumkowski lahir pada 27 Februari 1877, dari orang tua Yahudi di Ilyino, sebuah shtetl di Kegubernuran Vitebsk, Kekaisaran Rusia.[4] Pada tahun 1892, Rumkowski pindah ke Polandia Rusia. Ia menjadi warga negara Polandia setelah berdirinya Republik Polandia Kedua pada tahun 1918. Rumkowski adalah seorang zionis dan terlibat dalam Komite Zionis Łódź.[5]
Sebelum penyerbuan Polandia, Rumkowski adalah seorang agen asuransi di Łódź, anggota Qahal, dan kepala panti asuhan Yahudi di Jalan Krajowa 15 antara tahun 1925 dan 1939. Menurut Dr. Edward Reicher, seorang penyintas Holokaus dari Łódź, Rumkowski memiliki ketertarikan yang tidak wajar pada kanak-kanak.[6] Kota Łódź lalu dianeksasi oleh Jerman dan dimasukkan ke wilayah Reichsgau Wartheland, terpisah dari Generalgouvernement yang mencakup sebagian besar wilayah Polandia yang diduduki. Komunitas Yahudi yang lebih kecil dibubarkan dan dipindahkan secara paksa ke ghetto-ghetto di perkotaan. Otoritas pendudukan memerintahkan pembentukan Dewan Yahudi baru yang dikenal sebagai Judenräte yang bertindak sebagai jembatan penghubung pemerintah Nazi dengan para tahanan. Selain mengelola layanan dasar seperti dapur umum, rumah sakit, kantor pos, dan sekolah kejuruan, tugas umum Judenräte termasuk menyediakan tenaga kerja paksa bagi rezim Nazi, dan memenuhi kuota orang Yahudi untuk "penempatan kembali di Timur," sebuah eufemisme untuk deportasi ke kamp-kamp pemusnahan dalam fase yang paling mematikan dari Holokaus.
Rumkowski (kiri) sedang berbincang dengan Hans Biebow
Pada tanggal 13 Oktober 1939, Amtsleiter Nazi di Łódź menugaskan Rumkowski sebagai Judenältester ('Kepala Tetua Yahudi'), kepala Ältestenrat ('Dewan Sesepuh'). Dalam posisi ini, Rumkowski melapor langsung kepada administrasi ghetto Nazi pimpinan Hans Biebow.[7] Ketika jabatan rabi dibubarkan, Rumkowski meresmikan pernikahan. Mata uang ghetto, yang disebut Rumki (kadang-kadang Chaimki), berasal dari namanya, karena itu adalah idenya. Wajahnya dipajang di prangko dan mata uang ghetto, yang membuatnya mendapat julukan sarkas "Raja Chaim".[8]
Dengan mengindustrialisasi Ghetto Łódź, ia berharap dapat menjadikan komunitas tersebut berharga bagi Jerman sehingga warganya bisa selamat. Pada tanggal 5 April 1940, Rumkowski mengajukan petisi kepada pemerintah Jerman untuk menyuplai bahan baku industri kepada orang Yahudi agar mereka bisa bekerja, beserta pasokan makanan dan uang untuk bertahan hidup. Pada akhir bulan, Jerman telah mengabulkan sebagian permintaannya, setuju untuk menyediakan makanan, tetapi tidak dengan uang. Meskipun Rumkowski dan "tetua Yahudi" lainnya pada era Nazi kemudian dianggap sebagai kolaborator dan pengkhianat, para sejarawan telah meninjau kembali penilaian ini sejak akhir abad ke-20 mengingat kondisi yang mengerikan di masa itu. Seorang penyintas Ghetto Łódź, Arnold Mostowicz, mencatat dalam memoarnya bahwa Rumkowski memberi sebagian dari bangsanya kesempatan untuk bertahan hidup dua tahun lebih lama daripada orang-orang Yahudi di Ghetto Warsawa, yang luluh lantak akibat pemberontakan.[9] Namun, seperti yang dicatat oleh Lucjan Dobroszycki, keputusan akhir tentang masa depan ghetto berada di luar kendalinya.[10]
Sejarah Ghetto sebelum "Solusi Akhir"
Pembentukan ghetto di Łódź diputuskan pada tanggal 8 September 1939, atas perintah SS-Oberführer Friedrich Uebelhoer. Dokumen rahasianya menyatakan bahwa ghetto ini hanyalah solusi sementara untuk "persoalan Yahudi" di Łódź. Uebelhoer tidak pernah mempertimbangkan keberlangsungan hidup jangka panjang para penghuninya.[11] Ghetto tersebut rencananya akan ditutup pada tanggal 30 April 1940, beserta usia 164.000 orang di dalamnya.[12] Pada tanggal 16 Oktober 1939, Rumkowski memilih 31 tokoh masyarakat untuk membentuk dewan. Namun, kurang dari tiga minggu kemudian, pada tanggal 11 November, dua puluh dari mereka dieksekusi dan sisanya menghilang, karena Rumkowski mengadukan mereka kepada otoritas Jerman setelah "menolak untuk menyetujui kebijakannya". Meski Judenrat baru secara resmi diangkat beberapa minggu kemudian, orang-orang yang dilantik tidak secakap sebelumnya, dan tetap jauh kurang berbakat daripada para tetua yang sebenarnya. Perubahan ini memberikan lebih banyak kekuasaan kepada Rumkowski, dengan tidak menyisakan siapa pun untuk menentang atau membatasi keputusannya. Rumkowski juga mengawasi Polisi Ghetto Yahudi.[13]
Jerman memberi wewenang kepada Rumkowski sebagai "satu-satunya otoritas dalam mengelola dan mengatur kehidupan internal di ghetto".[14] Rumkowski memperoleh kekuasaan melalui kepribadiannya yang dominan serta melalui kata-kata dan perbuatannya.[14] Sejak awal, Biebow memberi Rumkowski kekuasaan penuh dalam mengatur ghetto, selama hal itu tidak mengganggu tujuan utamanya: ketertiban absolut, penyitaan harta dan aset Yahudi, kerja paksa, dan keuntungan pribadi Biebow sendiri.[15] Hubungan mereka tampaknya berjalan efektif. Rumkowski memiliki kesempatan untuk mengatur ghetto sesuai keinginannya sendiri, sementara Biebow duduk santai dan menuai hasilnya.[15] Dalam upaya untuk membuat Biebow senang, Rumkowski mematuhi setiap perintah tanpa banyak tanya, serta memberinya hadiah dan bantuan pribadi. Rumkowski dikatakan telah membual tentang kesediaannya untuk bekerja sama dengan otoritas Jerman: "Semboyan saya adalah selalu setidaknya sepuluh menit lebih cepat dari setiap tenggat waktu yang diberikan Jerman."[16] Dia percaya bahwa dengan selalu selangkah lebih maju dari pemikiran Jerman, dia dapat memuaskan mereka dan melindungi orang Yahudi. Ghetto Łódź sendiri menjadi ghetto terakhir di Eropa Tengah yang dilikuidasi.[17]
Administrasi
Chaim Rumkowski di Ghetto Łódź, sedang mencicipi sup.
Karena penyitaan uang tunai dan barang-barang lainnya, Rumkowski mengusulkan mata uang yang akan digunakan khusus di ghetto – ersatz. Mata uang baru ini akan digunakan sebagai alat tukar, dan hanya dengan ini, seseorang dapat membeli ransum makanan dan kebutuhan lainnya.[18] Usulan ini dianggap arogan dan menggambarkan nafsu kekuasaan Rumkowski. Oleh karena itu, mata uang ini dijuluki oleh penduduk ghetto sebagai "Rumkin".[19] Hal ini bertujuan mencegah penyelundup membahayakan nyawa mereka dengan keluar-masuk ghetto membawa barang, karena tahanan tidak mampu membayar dengan mata uang biasa. Rumkowski percaya bahwa penyelundupan makanan akan "mengganggu stabilitas ghetto terkait harga kebutuhan dasar" sehingga ia berupaya mencegahnya.[19]
Rumkowski tidak mengizinkan protes publik dan perbedaan pendapat. Dengan bantuan Kepolisian Ghetto Yahudi, ia dengan kekerasan membubarkan para demonstran. Kadang, ia meminta aparat Nazi untuk datang dan meredakan keributan, yang biasanya berujung pada tewasnya pengunjuk rasa. Para pemimpin kelompok ini dihukum dengan cara dilarang untuk bekerja, yang pada intinya berarti mereka ditakdirkan untuk mati kelaparan. Terkadang, mereka yang mogok kerja beserta para pengunjuk rasa ditangkapi, dipenjara, atau dibawa ke kamp kerja paksa.[20] Pada musim semi tahun 1941, hampir semua oposisi terhadap Rumkowski telah lenyap. Pada awalnya, Jerman belum memiliki rencana jangka panjang yang jelas untuk ghetto, karena mekanisme untuk "Solusi Akhir" masih sedang dimatangkan. Mereka menyadari bahwa rencana awal untuk melikuidasi ghetto pada Oktober 1940 tidak dapat dilakukan, sehingga mereka mulai menganggap serius agenda kerja Rumkowski.[21] Kerja paksa menjadi bagian penting dari kehidupan di ghetto, di mana Rumkowski memimpin kegiatan tersebut. “Dalam tiga tahun lagi – katanya – ghetto akan beroperasi rutin sebagaimana jam berdetak.”[22] Namun, “optimisme” semacam ini dinilai buruk oleh Max Horn dari Ostindustrie, yang mengatakan bahwa ghetto tersebut dikelola dengan buruk, tidak menguntungkan, dan menghasilkan produk yang salah.[23]
Deportasi
Pada Januari 1942, sekitar 10.000 orang Yahudi dikirim dengan kereta api kematian ke Chełmno berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Judenrat.[24] Sebanyak 34.000 korban tambahan dikirim ke Chelmno pada tanggal 2 April, dengan 11.000 lagi pada bulan Mei, dan lebih dari 15.000 pada bulan September 1942, sehingga totalnya menjadi 71.000 untuk keseluruhan tahun 1942. Anak-anak dan orang tua serta siapa pun yang dianggap “tidak mampu untuk bekerja” di mata Judenrat akan menyusul mereka.[24]
Rumkowski secara aktif bekerja sama dengan rezim Nazi, berharap dapat menyelamatkan sebagian besar penghuni ghetto. Perilaku seperti itu membuatnya berselisih dengan umat Ortodoks yang taat, karena tidak ada pembenaran untuk menyerahkan seseorang ke ambang kematian yang pasti. Setelah kamp pemusnahan berdiri di Chełmno pada tahun 1941, Nazi memerintahkan Rumkowski untuk mengatur beberapa gelombang deportasi. Rumkowski mengklaim bahwa ia mencoba melobi Jerman untuk mengurangi jumlah orang Yahudi yang hendak dideportasi tetapi gagal.[25]
Berikan Anak-Anakmu Padaku
Chaim Rumkowski menyampaikan pidato di ghetto, 1941–42
Atas perintah Jerman, Rumkowski menyampaikan pidato pada tanggal 4 September 1942, memohon kepada orang-orang Yahudi di ghetto untuk menyerahkan anak-anak berusia 10 tahun ke bawah, serta orang tua di atas 65 tahun, agar orang lain dapat bertahan hidup. "Ratapan yang mengerikan dan menakutkan di antara kerumunan yang berkumpul" dapat terdengar, demikian catatan transkripsionis untuk pidatonya yang diberi tajuk: "Berikan Anak-Anakmu Padaku".[25] Beberapa komentator melihat pidato ini sebagai contoh aspek-aspek Holokaus.[26]
Pukulan berat telah menghantam ghetto. Mereka [Jerman] meminta kita untuk menyerahkan yang terbaik yang kita miliki – anak-anak dan orang tua. Saya tidak bisa memiliki anak sendiri, sehingga saya mendedikasikan tahun-tahun terbaik dalam hidup saya untuk anak-anak. Aku telah hidup dan bernapas bersama anak-anak. Kutak pernah membayangkan akan dipaksa untuk mempersembahkan pengorbanan ini ke altar dengan tanganku sendiri. Di usia tuaku, aku harus mengulurkan tangan dan memohon: Saudara-saudari! Serahkan mereka kepadaku! Ayah dan ibu: Berikan anak-anakmu kepadaku!
Rumkowski sangat kejam, memanfaatkan posisinya sebagai kepala Judenrat untuk menyita properti dan bisnis yang masih dijalankan oleh pengusaha Yahudi di ghetto. Ia mendirikan banyak departemen dan lembaga yang menangani semua urusan internal ghetto, mulai dari menampung puluhan ribu orang, hingga membagikan ransum makanan.[27] Sistem kesejahteraan dan kesehatan juga ia dirikan. Untuk sementara waktu, administrasinya mengelola tujuh rumah sakit, tujuh apotek, dan lima klinik yang mempekerjakan ratusan dokter dan perawat. Terlepas dari usahanya, banyak orang yang tidak tertolong karena minimnya pasokan medis yang diizinkan masuk oleh Jerman.
Rumkowski membantu memelihara fasilitas sekolah. 47 sekolah tetap beroperasi dan mendidik 63% anak usia sekolah. Tidak ada pendidikan di ghetto lain yang semaju di Łódź.[28] Ia membantu mendirikan "Rumah Budaya" tempat pertemuan budaya termasuk drama, orkestra, dan pertunjukan lainnya dapat berlangsung. Ia sangat terlibat dalam detail acara-acara ini, termasuk merekrut dan memecat pemeran serta menyunting isi pertunjukan.[29] Ia juga ikut campur mengurusi hal-hal keagamaan. Keterlibatan ini sangat mengganggu masyarakat yang religius. Misalnya, sejak Jerman membubarkan lembaga kerabian pada September 1942, Rumkowski mulai menggelar upacara pernikahan, dan mengubah kontrak pernikahan (ketubah).[30] "Ia memperlakukan orang Yahudi di ghetto seperti barang pribadi. Ia berbicara kepada mereka dengan arogan dan kasar dan terkadang memukuli mereka".[31]
Karena perlakuan Rumkowski yang keras, dan kepribadiannya yang tegas dan sombong, orang-orang Yahudi mulai menyalahkannya atas kesulitan yang dialami, dan melampiaskan frustrasi mereka kepadanya alih-alih kepada otoritas Jerman, yang berada jauh di luar jangkauan.[32] Perwujudan paling signifikan dari frustrasi dan perlawanan ini adalah serangkaian pemogokan dan unjuk rasa antara Agustus 1940 dan musim semi 1941. Dipimpin oleh para aktivis dan partai-partai sayap kiri melawan Rumkowski, para pekerja meninggalkan tempat kerja mereka dan turun ke jalan membagikan selebaran:
Saudara-saudari! Keluarlah secara massal untuk menghapus, dengan kekuatan bersama dan terpadu, kemiskinan yang mengerikan dan perilaku biadab perwakilan Kehilla terhadap masyarakat yang sengsara, kelelahan, dan kelaparan... Slogan kami: roti untuk semua!! Mari kita bergabung dalam perang melawan parasit Kehilla yang terkutuk...
Terdapat catatan yang saling bertentangan mengenai saat-saat terakhir Rumkowski. Menurut salah satu sumber kontemporer, ia dibunuh setibanya di Auschwitz oleh orang-orang Yahudi Łódź yang lebih dahulu tiba di sana.[34] Namun, versi kejadian ini telah ditentang oleh para sejarawan. Laporan lain, yang disampaikan oleh seorang anggota Sonderkommando dari Hongaria, Dov Paisikovic, menyatakan bahwa orang-orang Yahudi Łódź mendekati orang-orang Yahudi di Sonderkommando secara rahasia, dan meminta mereka untuk membunuh Rumkowski atas kejahatan yang dilakukannya di Ghetto Łódź, yang mana ia dipukuli sampai tewas di gerbang Krematorium No. 2 lalu mayatnya dibuang.[2]
Debat tentang peranan Rumkowski dalam Holokaus
Uang token di ghetto dengan tanda tangan Rumkowski
Dalam memoarnya, Yehuda Leib Gerst menggambarkan Rumkowski sebagai pribadi yang kompleks: "Orang ini memiliki kecenderungan yang buruk dan bertentangan. Terhadap sesama Yahudi, dia adalah seorang tiran yang tak tertandingi yang berperilaku seperti seorang Führer dan menebar teror mematikan kepada siapa pun yang berani menentang cara-caranya yang rendahan. Namun, terhadap para pelaku, dia selembut domba dan tidak ada batasan bagi kepatuhannya terhadap semua perintah, bahkan jika tujuan mereka adalah untuk memusnahkan kita sepenuhnya. Bagaimanapun, dia tidak memahami situasi dan posisinya serta batasannya dengan benar."[2]
Sejarawan Michal Unger, dalam karyanya Reassessment of the Image of Mordechai Chaim Rumkowski (2004) meneliti materi yang mengarah pada reputasinya. Rumkowski digambarkan "di satu sisi, sebagai orang yang agresif, mendominasi, haus akan kehormatan dan kekuasaan, kasar, vulgar dan bodoh, tidak sabar (dan) intoleran, impulsif dan penuh nafsu. Di sisi lain, ia digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan organisasi yang luar biasa, cepat, sangat energik, dan setia pada tugas yang diberikan untuk dirinya sendiri."[35] Penelitian yang dilakukan oleh Isaiah Trunk untuk buku Judenrat mencoba merevisi pandangan umum tentang Rumkowski sebagai pengkhianat dan kolaborator.[36]
Rumkowski mengambil peran aktif dalam deportasi orang Yahudi. Beberapa sejarawan dan penulis menggambarkannya sebagai pengkhianat dan kolaborator Nazi; Rumkowski bersedia untuk memenuhi tuntutan Nazi dengan bantuannya jika diperlukan.[37] Pemerintahannya, tidak seperti para pemimpin ghetto lainnya, dicirikan dengan penyalahgunaan kekuasaan terhadap rakyatnya sendiri yang disertai dengan pembunuhan fisik terhadap lawan-lawan politik. Ia dan dewan penasihatnya memiliki jatah makanan yang enak dan toko khusus milik mereka sendiri. Ia dikenal menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya secara pribadi dengan mengirim mereka ke kamp. Selain itu, ia melakukan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis rentan di bawah pengawasannya.[38][39] Kegagalan untuk tunduk kepadanya berarti kematian bagi gadis tersebut. Lucille Eichengreen, seorang penyintas Holocaust yang mengaku telah dilecehkan olehnya selama berbulan-bulan ketika masih muda dan bekerja di kantornya, berkata, "Saya merasa jijik dan marah, ah, tetapi jika saya melarikan diri, dia akan mendeportasi saya, maksud saya itu sangat jelas."[39]
Primo Levi, seorang penyintas Auschwitz, dalam bukunya The Drowned and the Saved, menyimpulkan: "Seandainya dia selamat dari tragedinya sendiri... tidak ada pengadilan yang akan membebaskannya, dan tentu saja, kita tidak dapat membebaskannya dengan alasan moral. Namun, ada keadaan yang meringankan: tatanan neraka seperti Nazisme memungkinkan munculnya kekuatan korup yang mengerikan yang sulit untuk dilawan. Untuk melawannya dibutuhkan kerangka moral yang benar-benar kokoh, dan yang dimiliki Chaim Rumkowski... rapuh." Paling tidak, Levi memandang Rumkowski sebagai sosok yang ambigu secara moral dan menipu dirinya sendiri. Hannah Arendt, dalam bukunya Eichmann in Jerusalem, menempatkan keegoisan Rumkowski di ujung bawah spektrum contoh kepemimpinan ghetto masa perang.[40]
Profesor Yehuda Bauer berpendapat bahwa seandainya Rusia melanjutkan serangan musim panas mereka pada tahun 1944, Łódź mungkin menjadi satu-satunya ghetto yang dibebaskan yang sejumlah besar penduduknya masih hidup, dan Rumkowski mungkin akan dikenang dengan cara yang sangat berbeda, dengan penilaian yang jauh lebih baik.[41]
↑Pietrzak, Leszek (2019-02-27). "Władca getta". ZAKAZANE HISTORIE (dalam bahasa Polski).
↑Dr. Edward Reicher (2013). Country of Ash: A Jewish Doctor in Poland, 1939–1945. Diterjemahkan oleh Magda Bogin. Bellevue Literary Press. hlm.47–48. ISBN978-1-934137-45-1.
12Shirley Rotbein Flaum (2007). "Lodz Ghetto Deportations and Statistics". Timeline. JewishGen Home Page. Source: Encyclopedia of the Holocaust (1990), Baranowski, Dobroszycki, Wiesenthal, Yad Vashem Timeline of the Holocaust, others.
Sem-Sandberg, Steve. (novel) De fattiga i Łódźcode: sv is deprecated . Stockholm: Albert Bonniers Förlag, (novel, in Swedish); English title The Emperor of Lies, published in translation in 2011