Sebaran kawin     Sebaran menetap     Sebaran non-kawin
Cerek salju (Anarhynchus nivosus) adalah burung perandai kecil yang ditemukan di benua Amerika. Burung ini termasuk kedalam famili Charadriidae, yang mencakup cerek, kentar-kentar dan trulek. Cerek salju awalnya dideskripsikan oleh John Cassin pada 1858,[2] tetapi dijadikan sebaagai subspesies dari cerek tilil pada 1922. Sejak 2011, burung ini telah dianggap sebagai spesiesnya sendiri berdasarkan perbedaan genetik dan anatomi dari cerek tilil. Dua atau tiga subspesies burung ini telah diketahui, tersebar di sepanjang pesisir Pasifik di Amerika Utara, Ekuador, Peru dan Chili, serta pada beberapa wilayah pedalaman AS dan Meksiko, disepanjang Teluk Meksiko, dan pada pulau-pulau Karibia. Populasi pesisirnya terdiri dari burung-burung migran dan penetap, sementara populasi pedalamannya sebagian besar migran. Cerek salju menjadi salah satu jenis burung perandai endemik Amerika yang paling dipelajari, serta menjadi salah satu yang terlangka.[3]
Burug ini berbulu cokelat pucat di atas dan putih di bawah, dengan sebuah garis putih di leher belakang. Selama musim kawin, jantan memiliki bulu berwarna hitam di belakang mata dan di sisi lehernya; kedua bercak hitam ini terpisah, dan tidak menyatu seperti pada cerek-cerek lainnya. Cerek salju juga dapat dibedakan dari cerek lainnya dengan parunya yang ramping dan sepenuhnya hitam, serta kaki yang kelabu hingga hitam. Panggilan biasa mereka adalah "tu-wheet" yang berulang.
Cerek ini hidup di wilayah-wilayah terbuka tempat sedikit tumbuhnya vegetasi, terkhususnya pada pantai pasir pesisir serta di tepi danau garam atau danau soda. Mereka memakan invertebrata seperti krustasea, cacing, kumbang dan lalat.[4] Pada permulaan musim kawin, jantan akan menggali beberapa sarang dangkal di tanah yang dipamerkan ke betina. Nantinya, salah satu dari beberapa sarang yang digali akan dipilih untuk dijadikan tempat kawin. Beberapa betina akan meninggalkan anakan mereka tak lama setelah anakannya menetas untuk kawin dengan jantan yang lain, sementara jantan pertama mereka terus menjaga anakannya. Poligami semacam ini jarang dijumpai pada burung, dan kemungkinan merupakan sebuah strategi untuk memaksimalkan keberhasilan kawin.[5]