Burhanuddin Rabbani[a] (20 September 1940–20 September 2011) adalah seorang politikus dan guru Afghanistan yang menjabat sebagai presiden keenam Afghanistan dari tahun 1992 hingga 1996, dan lagi dari November hingga Desember 2001 (dalam pengasingan dari tahun 1996 hingga 2001).
Lahir di Provinsi Badakhshan,[3] Rabbani belajar di Universitas Kabul dan bekerja di sana sebagai profesor teologi Islam. Ia membentuk Jamiat-e Islami di universitas tersebut yang menarik mahasiswa saat itu, Gulbuddin Hekmatyar dan Ahmad Shah Massoud, yang keduanya kemudian menjadi dua komandan terkemuka Mujahidin Afghanistan dalam Perang Soviet-Afghanistan sejak 1979. Rabbani terpilih menjadi Presiden Afghanistan setelah berakhirnya rezim komunis pada tahun 1992. Rabbani dan pemerintahannya dari Negara Islam Afghanistan kemudian dipaksa mengasingkan diri oleh Taliban, dan ia kemudian menjabat sebagai kepala politik Aliansi Utara, sebuah aliansi berbagai kelompok politik yang berjuang melawan rezim Taliban di Afghanistan. Selama masa jabatannya, terjadi banyak bentrokan internal antara berbagai kelompok yang bertikai.
Setelah pemerintahan Taliban digulingkan selama Operasi Kebebasan Abadi, Rabbani kembali ke Kabul dan menjabat sebentar sebagai presiden dari 13 November hingga 22 Desember 2001, ketika Hamid Karzai dipilih sebagai pemimpin sementara penggantinya pada Konferensi Internasional Bonn. Di tahun-tahun berikutnya ia menjadi kepala Front Nasional Afghanistan (dikenal di media sebagai Front Nasional Bersatu), oposisi politik terbesar terhadap pemerintahan Karzai.
Pada 20 September 2011, Rabbani dibunuh oleh seorang pelaku bom bunuh diri yang memasuki rumahnya di Kabul. Sesuai saran parlemen Afghanistan, Presiden Afghanistan Hamid Karzai memberinya gelar "Martir Perdamaian". Putranya, Salahuddin Rabbani, dipilih pada April 2012 untuk memimpin upaya membangun perdamaian di Afghanistan dengan Taliban.