Sejarah
Kota ini bermula dari sebuah sumur bernama Ceel-Gooni pada akhir abad ke-18 yang digunakan oleh para pengembara dari daerah sekitarnya.[5] Kota tersebut kemudian berkembang di sekitar sumur itu.[6][7] Berkat ketersediaan air di lembah kering, Burao tumbuh menjadi pusat pasar kecil di pedalaman yang menghubungkan pelabuhan Berbera dengan wilayah pedalaman serta menyediakan fasilitas perdagangan bagi penduduk nomaden di kawasan tersebut.[8] Permukiman ini kemudian dibakar habis oleh pasukan Britania pada tahun 1900, dan permukiman modernnya dibangun kembali pada tahun 1910.[9][7]
Selama sebagian besar abad ke-19, Burao berfungsi sebagai ibu kota Kesultanan Habr Yunis. Sultan Nur Ahmed Aman, Sultan Awad Deria, dan Sultan Madar Hersi memerintah dari Burao pada masa yang berbeda.[10][11]
Gerakan Darwis berdiri di Burao pada tahun 1899 di bawah pimpinan Mohammed Abdullah Hassan bersama para pemimpin klan lain seperti Haji Sudi dan Sultan Nur Ahmed Aman, yang secara terbuka menyatakan perlawanan terhadap penjajah Britania.[12]
Pada tahun 1922, penduduk Burao memberontak menentang pajak berat yang diberlakukan Britania. Pemberontakan itu menewaskan Kapten Allan Gibb, sehingga Britania menanggapinya dengan membombardir kota menggunakan pesawat RAF hingga hancur total. Setelah itu, para pemimpin lokal menyerah dan membayar denda, tetapi menolak menyerahkan para pelaku. Akibat kegagalan kebijakan pajak ini, Britania mencabutnya.[13][14][15]
Pada tahun 1945, Sheikh Bashir memimpin pemberontakan melawan Britania.[16] Ia menyerang penjara dan rumah komisaris di Burao, lalu mundur ke pegunungan Bur Dhab. Setelah pertempuran sengit, Sheikh Bashir dan wakilnya Qaybdiid gugur, tetapi ia dikenang sebagai syahid dan tokoh pemersatu suku.[17][18]
Burao kemudian menjadi ibu kota distrik.[19] Meski sempat menurun setelah Hargeisa menjadi ibu kota protektorat pada 1941, kota ini bangkit kembali pada 1950-an berkat perdagangan ternak yang pesat dan menjadi kota terbesar kedua di protektorat. Setelah kemerdekaan tahun 1960, Burao menjadi ibu kota wilayah Togdheer dan kota terbesar ketiga di Somalia.[20][21]
Perkembangannya semakin pesat pada 1970-an dengan adanya Bank Komersial Somalia, investasi properti, migrasi warga ke negara Teluk, serta pertumbuhan industri sepatu dan pendidikan.[22]
Pascaperang saudara
Pada Mei 1991, Komite Pusat Gerakan Nasional Somalia (SNM) mengadakan pertemuan di Burao dan secara kolektif sepakat untuk mencabut penyatuan sukarela mereka dengan Republik Demokratik Somalia.[23][24] Para perwakilan dari klan Isaaq secara bersama mendukung pemisahan tersebut, yang diperkuat oleh dukungan para tetua klan non-Isaaq yang turut hadir dalam konferensi Burao.[23] Setelah melalui berbagai konsultasi antara para pemimpin SNM dan perwakilan klan, disepakati bahwa Somalia Utara (sebelumnya Negara Somaliland) akan mencabut penyatuan sukarelanya dengan Somalia dan membentuk “Republik Somaliland”.[24] Konferensi tersebut diakhiri dengan pembentukan pemerintahan sementara, di mana Abdirahman Ahmed Ali Tuur terpilih sebagai pemimpin untuk masa jabatan dua tahun.[25][26]