Sejarah
Ritual buklog diyakini berasal dari sebuah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Subanen sejak ratusan tahun lalu. Kisah ini pertama kali dipopulerkan oleh Thimuay Imbing, seorang pemimpin suku di era 1800an dan kemudian disampaikan secara turun temurun hingga akhirnya legenda tersebut tetap lestari terutama di kalangan balyan seperti sekarang. Konon, dahulu hiduplah seorang laki-laki bernama Jobrael yang terkadang juga dipanggil dengan sebutan Jobraim. Jobrael merupakan putra persatuan dari penduduk bumi dan supranatural. Ia hidup selama 1000 tahun, melebihi waktu tinggal yang ditetapkan oleh Diwata Magbabaya. Diwata Magbabaya sendiri adalah dewa tertinggi yang menciptakan seisi surga dan bumi yang dipercayai oleh masyarakat Suku Subanen.[3]
Melalui Palmot, utusan Magbabaya, Jobrael diperintahkan untuk kembali ke surga. Namun lantaran Jobrael tidak mengikuti perintahnya, maka Jobrael ditangkap dan dikurung di surga. Ia tidak diperbolehkan untuk pergi kemana-mana. Jobrael memiliki seorang putra. Lantaran merasa khawatir, ia pun bertanya kepada Magbabaya bagaimana nasib putra dan keluarganya di bumi. Magbabaya kemudian menjelaskan bahwa putranya masih punya waktu 7 tahun untuk tinggal di bumi dan akan dikirim ke surga jika lewat dari batas waktu yang ditentukan.[3]
Palmot menyampaikan pesan Magbabaya kepada Putra Jobrael. Dengan statusnya yang masih lajang, teman-teman Putra Jobrael tidak rela jika Putra Jobrael pergi ke surga begitu saja. Mereka kemudian berusaha mencarikannya istri agar ia memiliki keturunan sebelum waktunya habis dan pergi ke surga. Setelah mencari ke berbagai arah dan bertemu dengan banyak wanita, akhirnya mereka menemukan seorang wanita yang dianggap cocok untuk menjadi pendamping hidup putra Jobrael. Wanita itu adalah putri dari seorang gomotan. Mereka berdua pun menikah. Meskipun begitu, putri Gomotan tidak melayani putra Jobrael sebagaimana istri pada umumnya. Mereka bahkan hidup berpisah. Ketika ditanya tentang situasi ini, sang istri menjawab bahwa mereka harus melakukan sesuatu karena suaminya yakni Putra Jobrael hanya punya waktu 7 tahun saja di bumi.[3]
Sejak itu setiap tahunnya mereka melakukan berbagai upaya. Pada tahun pertama pernikahan, setelah masa panen, istri putra Jobrael memberikan instruksi kepada warga setempat untuk memasang salib menghadap timur. Selain itu ia juga memerintahkan kepada mereka untuk mempersembahkan sirih dan kapur. Dengan citranya sebagai sosok wanita yang bijak, penduduk setempat percaya kepadanya sehingga mereka mengikuti apa yang diperintahkan. Tahun berikutnya, ia meminta warga setempat untuk memasang altar berhiaskan daun buri. Bentuknya seperti persegi dan di atasnya diletakkan persembahan berupa darah ayam, telur rebus, nasi yang dibentuk menjadi bola bahkan hingga potongan daging babi rebus yang tidak digarami. Pada altar tersebut juga ditempatkan sebuah guci berisikan gasi atau minuman memabukkan yang terbuat dari beras sejenis sake.[3]
Pada tahun ketiga, istri dari putra Jobrael menginstruksikan orang-orang di sekitarnya untuk membuat altar dengan dekorasi kain warna hitam dan kuning serta memotong kayu dan membuat ukiran di atasnya. Pada tahun keempat, istri dari Putra Jobrael meminta kepada warga setempat untuk mendapatkan guci tanah berukuran besar dengan tongkat bambu yang dimasukkan ke dalamnya. Pada tahun kelima, ia meminta kepada orang-orang untuk pergi ke hutan dan mengumpulkan kayu tertentu untuk dijadikan tiang. Kemudian ia memanggil balian untuk memberikan obat pada tiang-tiang tersebut dan berdoa agar mereka dihindari dari hal-hal buruk seperti penyakit ataupun insiden yang tak diinginkan.[3]
Pada tahun keenam, ia menyuruh orang-orang di sekitarnya untuk pergi ke hutan untuk mengumpulkan jenis kayu yang disebut bayug untuk dijadikan sebagai lumpang kemudian ditempatkan di bawah rumah dengan ditutupi oleh daun nipa. Selain itu ia juga meminta orang-orang tersebut untuk memainkan gong, menari dan menyembelih daging babi. Begitu tiba tahun terakhir, istri Putra Jobrael memerintahkan orang-orang sekitarnya untuk pergi ke hutan dan mengumpulkan kayu spesial bernama labalud. Kayu tersebut dipotong menjadi 8 bagian untuk kemudian ditancapkan pada masing-masing lubang yang membentuk kotak dengan jarak satu sama lain mencapai 3 meter. Pada lubang-lubang ini, sebuah pos ditempatkan di tengah dengan posisi menghadap ke arah timur. Pada pos inilah seorang balian akan mengaplikasikan obatnya setelah 7 lainnya dipasang.[3]
Di samping itu, ia juga meminta mereka untuk menyiapkan bambu yang terbelah dan diratakan untuk digunakan sebagai lantai panggung atau mimbar. Demi merekatkan antara kayu-kayu yang telah dijadikan tiang dan bambu yang dijadikan sebagai lantai, mereka juga menggunakan tanaman merambat sebagai pengganti paku. Konstruksi panggungnya diselesaikan hingga matahari terbenam dengan serangkaian kegiatan dilakukan mulai dari acara pesta, tari-tarian dan kegiatan meminum gasi. Tak lama kemudian Palmot datang untuk menjemput putra Jobrael ke surga sesuai yang pernah disampaikan sebelumnya. Ia menghampiri putra Jobrael beserta istrinya di pusat bumi kemudian menyampaikan maksudnya.[3]
Akan tetapi, istri putra Jobrael menolak dengan alasan warga setempat sudah membuat konstruksi panggung sedemikian rupa namun mereka belum menentukan apa nama sebutannya. Ia kemudian memberikan ketentuan bersyarat bahwa jika Palmot mampu memberikan nama pada apa yang telah mereka persiapkan selama 7 tahun belakangan, maka suaminya boleh ikut bersama Palmot ke surga. Selain itu mereka juga harus membuat pertunjukan meskipun mereka belum tahu apa nama pertunjukan tersebut.[3]
Palmot yang tidak tahu apa nama dari segala hal yang telah dipersiapkan oleh istri putra Jobrael tidak bisa berbuat apa-apa. Alhasil, ia kembali ke surga dan begitu tiba, Magbabaya mempertanyakan kepadanya kenapa ia tidak membawa putra Jobrael. Palmot kemudian mendeskripsikan satu demi satu atas apa yang dilakukan oleh istri putra Jobrael sejak tahun pertama pernikahannya hingga tahun terakhir. Pada saat itulah Magbabaya memberitahukan nama dari masing-masing hal yang dibicarakan oleh Palmot. Ia menjelaskan bahwa persiapan pada tahun pertama disebut salangsang. Altar pada tahun kedua dinamakan binalay. Altar beserta persembahan pada tahun ketiga disebut palasanding. Tongkat bambu yang diikat dengan rotan dan dipasang pada kendi diartikan sebagai banghaso. Kemudian lumpang kayu dinamakan dulugan, alat penumbuk disebut pathaw, pos utama disebut guinghoram tumayam serta kayu yang fleksibel dan tidak mudah patah diartikan sebagai labalod.[3]
Terakhir, Magbabaya menyebut bahwa seluruh struktur dan aktivitas yang tercakup di dalamnya dikenal dengan nama buklog yang kemudian menjadi cikal bakal dari tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Subanen. Sejak istri dari putra Jobrael melakukan semua ini, Magbabaya berubah pikiran. Ia merasa tak berhak mengembalikan putra Jobrael ke surga. Pada akhirnya, ia pun membiarkan putra Jobrael beserta istrinya tinggal di bumi untuk tinggal bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya mereka berdua punya anak dan cucu.[3]