Patung Buddha Tidur kini menjadi salah satu pameran paling menarik perhatian di Museum Purbakala Nasional Tajikistan di Dushanbe. Patung ini merupakan sebuah patung Buddha berbaring yang terbuat dari tanah liat dengan panjang 13 meter, meskipun hanya bagian bawah dan kepalanya yang terlestarikan, sedangkan bagian tengah tubuhnya merupakan hasil pemugaran. Ketika kuil Ajina Tepe rusak parah selama penaklukan Arab pada abad ke-7, patung Buddha dalam Nirwana rusak parah, dan wajah serta bagian dadanya hancur. Sebuah tim pemugaran dari Museum Hermitage di Saint Petersburg (saat itu Leningrad) mengumpulkan dan mengangkut 43 buah patung raksasa dari tanah liat tersebut ke Dushanbe.[1]
Foto ambilan dekat kepala Buddha
Asal-usul
Pada abad ke-5 dan ke-6 era ini, penduduk Asia Tengah dan Afganistan menganut berbagai agama dan aliran kepercayaan, sementara di Tajikistan Selatan menganut agama Buddha selama beberapa abad. Jalur Sutra termasyhur yang menghubungkan Asia Tengah dengan India juga membentang di sini. Lembah Vakhsh adalah alasan mengapa para arkeolog telah menemukan ratusan kuil Buddhis di sana.[2]
Hipotesis tentang Xuanzang
Menurut beberapa cendekiawan,[3] meskipun tidak ada konsensus mengenai hal ini, patung Buddha ini dapat diidentifikasikan dengan patung yang digambarkan oleh peziarah Buddha Tiongkok, Xuanzang, sekitar tahun 631 M, tak lama setelah kunjungannya ke Buddha Bamiyan:
Di dalam biara terdapat patung lain yang menggambarkan Buddha memasuki Nirwana: panjangnya 1.000 kaki. Semua patung ini tampak mengesankan dan pengerjaannya luar biasa.
—I-Tsing - Hwui Li, Resoconti di viaggio di Xuánzàng, pp. 69-70 ed. Julien.
Lokasi
Kemungkinan pemugaran penuh baru muncul bagi para pemugar ketika Museum Purbakala Nasional dibangun, dengan aula terbesar dialokasikan untuk Buddha dalam Nirwana ini. Pada awal tahun 2001, Amerika Serikat mengalokasikan 30 ribu dolar untuk pemugaran patung tanah liat tersebut. Tak lama kemudian, pemerintah Jepang memberikan hibah sebesar 260 ribu dolar kepada museum tersebut.
Untuk pemugaran akhir patung Buddha ini, para pemugar dari Museum Hermitage, di bawah arahan Vera Fomin, datang membantu para rekan sejawat mereka dari Museum Purbakala Tajikistan.
Pemugaran patung raksasa ini berlangsung selama dua tahun, dari tahun 2000—2001. Patung Buddha tanah liat terbesar di dunia ini terpajang di hadapan para pengunjung Museum Purbakala pada 9 September 2000, bertepatan dengan peringatan 10 tahun kemerdekaan Tajikistan. Kini, kunjungan ke "Buddha dalam Nirwana" ini termasuk dalam program kunjungan semua kepala negara dan pemerintahan, kepala organisasi internasional yang berwenang, para cendekiawan, dan tokoh budaya yang berkunjung ke Tajikistan. Senyum Buddha yang misterius menarik pengunjung dari berbagai agama dan usia.[4]