Braathens SAFE Penerbangan 139 adalah sebuah pembajakan pesawat yang terjadi di Norwegia pada 21 Juni 1985. Insiden tersebut melibatkan sebuah Boeing 737-205 milik Braathens SAFE yang sedang menjalani penerbangan domestik terjadwal dari Bandar Udara Trondheim, Værnes menuju Bandar Udara Oslo, Fornebu. Pembajaknya adalah Stein Arvid Huseby, yang berada dalam keadaan mabuk selama sebagian besar insiden berlangsung. Peristiwa ini menjadi pembajakan pesawat pertama yang terjadi di Norwegia. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Huseby kemudian dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan lima tahun pengawasan pencegahan (preventive supervision).
Dengan membawa pistol angin, Huseby mengancam seorang awak kabin dan memerintahkan kapten untuk tetap melanjutkan penerbangan menuju Fornebu sesuai rencana. Ia secara palsu mengklaim telah menempatkan bahan peledak di dalam pesawat. Tuntutannya adalah menyampaikan pernyataan politik dan berbicara langsung dengan Perdana Menteri Kåre Willoch dan Menteri Kehakiman Mona Røkke. Pesawat mendarat di Fornebu pada pukul 15.30 dan segera dikepung polisi. Setelah satu jam, Huseby membebaskan 70 sandera dengan imbalan pesawat dipindahkan lebih dekat ke gedung terminal. Tiga puluh menit kemudian, ia membebaskan seluruh penumpang yang tersisa. Sepanjang insiden berlangsung, Huseby terus meminum bir. Pada pukul 17.30, setelah persediaan bir di pesawat habis, ia menyerahkan senjatanya dengan imbalan tambahan bir. Tak lama kemudian, pasukan khusus menyerbu pesawat dan menangkapnya.
Pembajakan
Pembajakan terjadi di dalam Braathens SAFE Penerbangan 139 yang sedang terbang dari Bandar Udara Trondheim, Værnes menuju Bandar Udara Oslo, Fornebu. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-205 bernama Harald Gille, yang diambil dari nama Raja Harald IV dari Norwegia, dengan registrasi LN-SUG.[1]
Sehari sebelum pembajakan, Huseby baru saja lulus dari sekolah menengah atas tempat ia mempelajari bidang kesehatan dan pekerjaan sosial. Pada malam harinya, ia membeli sebuah pistol angin di Trondheim. Senjata tersebut dibawa di tas kabinnya ketika menaiki pesawat di Bandar Udara Trondheim, Værnes, yang pada saat itu belum memiliki pemeriksaan keamanan. Ia memilih duduk di bagian belakang pesawat.
Setelah pesawat mengudara, pembajak memperlihatkan pistol angin itu kepada seorang pramugari dan memintanya memberi tahu kapten bahwa ia ingin mengambil alih kendali pesawat, tetapi selain itu penerbangan harus tetap berjalan seperti biasa. Pramugari tersebut, dan kemudian pembajak sendiri, menggunakan interkom untuk berkomunikasi dengan pilot.[2] Polisi menerima laporan mengenai insiden tersebut melalui pengendali lalu lintas udara pada pukul 15.05.[3]
Pesawat mendarat di Fornebu pada pukul 15.30, lima belas menit lebih lambat dari jadwal. Pesawat kemudian diparkir sekitar 700m (2.300ft) dari terminal dan langsung dikepung oleh pasukan khusus polisi serta petugas dari Departemen Kepolisian Asker dan Bærum. Dua polisi yang memiliki pelatihan khusus ditempatkan di menara pengawas untuk bernegosiasi dengan Huseby. Bandar Udara Fornebu ditutup sementara, dan lalu lintas udara dialihkan ke Bandar Udara Oslo, Gardermoen.
Para penumpang tidak diberi tahu mengenai pembajakan tersebut sampai pesawat sudah dikepung polisi. Huseby secara palsu mengatakan kepada penumpang dan awak bahwa ia telah menempatkan bahan peledak di toilet pesawat, tetapi tidak seorang pun akan terluka apabila mereka bekerja sama. Huseby mengenakan setelan jas dan kacamata hitam. Para penumpang menggambarkan sikapnya sebagai tenang.[4] Sepanjang insiden, Huseby terus meminta dan meminum bir.
Tuntutan Huseby adalah berbicara dengan Perdana Menteri Kåre Willoch dan Menteri Kehakiman Mona Røkke, keduanya berasal dari Partai Konservatif. Ia juga ingin mengadakan konferensi pers di Fornebu. Huseby merasa tidak puas dengan perlakuan yang diterimanya setelah keluar dari penjara. Ia menuntut jaminan perlakuan yang lebih baik dan keamanan ekonomi dari pemerintah.
Dengan bantuan seorang psikolog, polisi melakukan negosiasi dengan Huseby. Satu jam setelah pesawat mendarat, sebanyak 70 penumpang diizinkan keluar dari pesawat. Kelompok pertama yang dibebaskan adalah penumpang yang memiliki atau mengaku memiliki penerbangan lanjutan. Sebagai imbalannya, pesawat dipindahkan lebih dekat ke terminal. Para penumpang kemudian diangkut menggunakan bus menuju terminal domestik untuk dimintai keterangan oleh polisi. Tiga puluh menit kemudian, seluruh penumpang yang tersisa dibebaskan. Hanya lima awak pesawat yang masih berada di dalam pesawat.[5]
Seorang teman Huseby turut membantu polisi dalam proses negosiasi. Pada pukul 18.30, persediaan bir di pesawat habis sehingga Huseby setuju melemparkan pistolnya keluar jendela sebagai imbalan tambahan bir. Bir tersebut diantarkan oleh seorang polisi berpakaian sipil. Sesaat kemudian, pasukan khusus segera menyerbu pesawat dan menangkap Huseby. Tidak ada seorang pun yang terluka dalam pembajakan tersebut.[6]
Dampak dan proses hukum
Stein Arvid Huseby, yang berasal dari Munisipalitas Karmøy, berusia 24 tahun pada saat kejadian. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah menengah Kristen di Trondheim. Sebelumnya, ia telah lima kali dijatuhi hukuman atas tindak kekerasan, termasuk perampokan bersenjata terhadap taksi dan mengancam seorang lensmann (kepala polisi distrik pedesaan di Norwegia) dengan menggunakan senapan.[7]
Huseby diketahui mengalami kekerasan dan penganiayaan dari ayahnya sejak kecil, serta mulai mengonsumsi alkohol pada usia 13 tahun.[8] Ia kehilangan pekerjaannya sebagai pelaut akibat kebiasaan mabuk, lalu ditempatkan di institusi psikiatri pada tahun 1980 ketika berusia 19 tahun. Pada tahun 1983, ia diterima di sekolah Kristen dan sempat berhasil menjauhi alkohol selama dua tahun, tetapi kembali minum sesaat sebelum insiden pembajakan terjadi. Ia mengatakan bahwa dirinya takut kehilangan teman-temannya akibat penyalahgunaan alkohol.
Dalam persidangan, Huseby menyatakan bahwa ia hanya menginginkan bantuan dari masyarakat sekaligus perhatian terhadap kondisinya. Namun, ia mengaku menyesal telah melakukannya melalui pembajakan pesawat. Ia mengatakan bahwa tujuan utamanya hanyalah menyampaikan pesan kepada perdana menteri dan menteri kehakiman bahwa dirinya membutuhkan bantuan, dan ia tidak bermaksud membuat penumpang lain mengetahui ancamannya. Huseby juga menyatakan bahwa pembajakan tersebut dilakukan secara spontan. Sebelumnya, ia berencana melakukan perampokan bersenjata atau menyandera orang di Hotel Radisson SAS di Oslo.
Pengacara pembelanya berargumen bahwa Huseby sebenarnya tidak melakukan pembajakan pesawat menurut definisi hukum, melainkan hanya melakukan penyanderaan, yang ancaman hukumannya lebih ringan.[9] Psikolog pengadilan menyatakan bahwa Huseby mengalami masa kecil yang sulit dan telah dianggap sebagai pecandu alkohol sejak usia 17 tahun. Mereka menilai bahwa ia memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam mengambil keputusan rasional serta kondisi kesehatan mental yang lemah. Mereka juga menyatakan bahwa Huseby melakukan tindak kriminal sebagai cara untuk mencari identitas diri akibat rendahnya rasa percaya diri.
Pada 29 Mei 1986, Pengadilan Banding Eidsivating menyatakan Huseby bersalah atas pembajakan pesawat. Ia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan lima tahun pengawasan pencegahan.
Referensi
↑Tjomsland, Audun; Wilsberg, Kjell (1996). Braathens SAFE 50 år: Mot alle odds[Braathens SAFE 50 years: Against all odds] (dalam bahasa Norwegia). Oslo. hlm.279. ISBN8299040019. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑"Den 24 år gamle mannen fra Karmøy som fredag kapret et" [Pria berusia 24 tahun asal Karmøy yang pada hari Jumat menculik seorang] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 23 Juni 1985.
↑"Foreløpig samlemelding" [Laporan ringkasan awal] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 21 Juni 1985.
↑"- Det var en skremmende opplevelse" [- Itu adalah pengalaman yang menakutkan.] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 21 Juni 1985.
↑"Flykapreren i dramaet på Fornebu kastet våpnet ut av flyvinduet" [Pembajak penerbangan di Fornebu melemparkan senjatanya keluar jendela pesawat] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 21 Juni 1985.
↑Andersen, Alf G. (22 Juni 1985). "Da kapreren strakte våpen" [Ketika pembajak itu mengeluarkan senjatanya]. Aftenposten (dalam bahasa Norwegia).
↑"Flykapreren angrer" [Pelaku pembajakan menyesalinya] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 26 Mei 1986.
↑"Tre års fengsel for flykapreren" [Tiga tahun penjara bagi pelaku pembajakan] (dalam bahasa Norwegia). Kantor Berita Norwegia. 30 Mei 1986.
↑"24åring kjent skyldig som flykaprer: første dom efter ny lov" [Seorang pemuda berusia 24 tahun divonis bersalah sebagai pelaku pembajakan pesawat: vonis pertama berdasarkan undang-undang baru]. Aftenposten (dalam bahasa Norwegia). 30 Mei 1986.