Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation adalah lembaga swadaya masyarakat nirlaba Indonesia yang didirikan oleh Dr. Willie Smits pada tahun 1991 dan didedikasikan untuk konservasi orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terancam punah dan habitatnya dengan cara melibatkan masyarakat setempat. Organisasi ini diaudit oleh perusahaan auditor eksternal[1] dan beroperasi di bawah perjanjian formal dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk melestarikan dan merehabilitasi orang utan. Yayasan BOS mengelola program penyelamatan, rehabilitasi, dan reintroduksi orang utan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Dengan merawat lebih dari 400 orangutan (per Juli 2021) dan mempekerjakan lebih dari 440 orang di 10 lokasi,[2] Yayasan BOS adalah lembaga swadaya masyarakat konservasi primata nonmanusia terbesar di dunia. Nyaru Menteng (Palangkaraya 2°02′15″S113°46′42″E / 2.037508°S 113.778385°E / -2.037508; 113.778385) dan Samboja Lestari adalah lokasi Yayasan BOS yang mendapat liputan media paling luas. Nyaru Menteng, yang didirikan oleh Lone Drøscher Nielsen, telah menjadi subjek sejumlah serial TV, antara lain Orangutan Diary, Orangutan Island, dan serial Orangutan Jungle School, yang tayang sejak 2018.
Kegiatan
Konservasi dan Pengembangan Kawasan Perlindungan Lain
BOS Foundation juga bekerja sama dengan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) untuk mengembangkan kawasan lindung seluas 1.800 hektare di Samboja Lestari sebagai area konservasi dan pelepasliaran selanjutnya.[3]
Program Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat
BOS Foundation melaksanakan pelatihan dasar pengembangan masyarakat bagi staf mereka dengan tujuan meningkatkan kapasitas dalam pendampingan desa, perencanaan tata ruang, dan pembangunan berbasis konservasi. Ini memperkuat harmoni antara upaya konservasi dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.[4]
Referensi
↑"Reports". www.orangutan.or.id. Diakses tanggal 2021-07-05.
↑"Where we work". www.orangutan.or.id. Diakses tanggal 2021-07-02.