Bangil (Aksara Jawa: ꦧꦔꦶꦭ꧀) adalah ibu kota Kabupaten Pasuruan yang dipindahkan dari Kota Pasuruan sejak tahun 2016.[1][2] Bangil adalah salah satu pusat ekonomi Kabupaten Pasuruan bagian barat, lokasinya berada di Jalur Pantura tepatnya di antara jalur penghubung Surabaya dan Sidoarjo menuju Kota Pasuruan. Bangil adalah kota kecil yang ramai dengan fasilitas lengkap, terdapat alun-alun, masjid agung, rumah sakit, pasar, Stadion Pogar, dan lainnya. Di kecamatan ini juga terdapat Stasiun Bangil yang merupakan stasiun terbesar di Pasuruan yang melayani pemberhentian kereta dari arah Surabaya, Malang, hingga Banyuwangi.[3] Bangil juga merupakan kota yang bersih dan tertata hingga berkali-kali mendapatkan Piala Adipura di kategori kota kecil.[4]
Bangil adalah kecamatan dengan nilai historis yang tinggi. Pada masa kolonial Belanda, Bangil pernah menjadi kabupaten tersendiri yang wilayahnya mencakup Gempol hingga Pandaan. Kemudian sekitar tahun 1935, Bangil dilebur ke Kabupaten Pasuruan.[5][6] Bangil juga dikenal sebagai lokasi pertempuran terakhir dan gugurnya pahlawan nasional Untung Suropati melawan VOC sekitar tahun 1706.[7][8] Selain itu, Bangil memiliki legenda Sakera yang dikenal dalam cerita rakyat Pasuruan dan Madura sebagai pejuang yang gigih menentang Belanda.[9]
Bangil memiliki beberapa identitas dan julukan, salah satunya "Bangil Kota Santri". Julukan ini disematkan karena masyarakatnya yang relijius serta banyaknya pesantren yang ada di Bangil dan sekitarnya. Bangil juga memiliki kampung Arab yang sudah ada sejak zaman dahulu salah satunya di Kelurahan Kauman.[10] Beberapa tokoh islam terkenal di Bangil antara lain Mbah Ratu Ayu atau Syarifah Khadijah (putri Sunan Gunung Jati dari Cirebon) dan Muhammad Syarwani Abdan dari Banjar.[11][12] Julukan lain dari Bangil adalah "Bangil Kota Bordir" yang disingkat dengan "Bangkodir". Nama tersebut mulai dipopulerkan sejak tahun 2005 karena banyaknya perajin seni bordir di Bangil. Bangkodir sekarang dijadikan nama rest area sekaligus tempat penyelenggaraan berbagai event.[13]
Geografi
Peta administrasi Kecamatan Bangil
Bangil merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Pasuruan bagian barat. Bangil cukup dekat dengan Kota Pasuruan, jarak pusat kota Bangil dengan pusat kota Pasuruan hanya sekitar 15km. Ibu kota Kabupaten Pasuruan berada di kecamatan ini, dengan sebagian besar kantor dinas berada di sebuah komplek di Desa Raci yang berada sekitar 6km di timur pusat kota Bangil. Bangil adalah kecamatan yang berkembang pesat dan dilintasi jalur strategis seperti jalan nasionalSurabaya-Pasuruan. Bangil juga dapat diakses dengan mudah dari kecamatan lain di Pasuruan, terdapat jalur dari arah Pandaan dan Sukorejo. Kemajuan Bangil juga ditopang oleh kecamatan sekitarnya, seperti Beji dan Rembang yang memiliki banyak industri besar.[14]
Bangil adalah kecamatan yang terletak di dataran rendah. Pusat kota Bangil berada di sebelah barat kecamatan, terutama di sekitar alun-alun seperti Kelurahan Kauman, Kidul Dalem, Kersikan, dan sekitarnya. Sedangkan sebagian besar wilayahnya terutama di sebelah utara dimanfaatkan untuk kawasan tambak ikan dan udang. Kawasan tambak ini cukup luas hingga perbatasan Kabupaten Sidoarjo. Sungai utama yang melintasi pusat kota Bangil adalah Kali Kedunglarangan yang berhilir di Selat Madura. Kelurahan Kalianyar di utara Bangil dikenal dengan pasar ikannya.[14]
Batas wilayah Kecamatan Bangil adalah sebagai berikut:[14]
Ibu kota Kabupaten Pasuruan sejak masa kemerdekaan berada di Kota Pasuruan. Pemkab Pasuruan sudah mewacanakan pemindahan ibu kota sejak lama, salah satunya pada tahun 2009. Wacana ini terealisasikan dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2016. Peraturan tersebut meresmikan pemindahan ibukota dari Kota Pasuruan ke wilayah Kecamatan Bangil.[2] Pemkab membangun kompleks pemerintahan di Desa Raci yang berjarak sekitar 10km dari pusat kota Pasuruan di timur dan 6km dari pusat kota Bangil di barat. Pemindahan kantor dinas dilakukan bertahap sejak awal tahun 2017. Sedangkan kantor bupati mulai dibangun tahun 2022.[15][16] Akan tetapi, tidak semua bangunan dipindahkan dari Kota Pasuruan. Salah satunya adalah pendopo di sebelah alun-alun kota yang memiliki nilai historis.[1]
Sejarah
Pemerintahan pribumi di Bangil bersama perwakilan tokoh Arab dan Tionghoa
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Bangil berasal dari nama pendiri pemukiman di daerah ini yang bernama Mbah Bangil. Kata Bangil sendiri dianggap berasal dari kata "mbah ngelmu" yang berarti orang yang berilmu sehingga sesuai dengan Bangil yang dikenal sebagai Kota Santri. Makam Mbah Bangil sendiri berada di komplek pemakaman umum Kalirejo. Namun cerita tersebut literaturnya terlalu minim dan sulit ditelusuri lebih lanjut.[17]
Daerah pesisir utara Pulau Jawa seperti Pasuruan menjadi daerah yang diincar VOC pada masa awal ekspansinya sekitar tahun 1700-an. Salah satu tokoh yang menentang VOC di masa ini adalah pahlawan nasional Untung Suropati. Awalnya beliau adalah budak dari Bali yang memerangi VOC dan sekutunya di berbagai wilayah di Pulau Jawa seperti Banten dan Kartasura. Untung Suropati nantinya menjadi Bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara. Akan tetapi pada tahun 1706, Untung Suropati dan pasukannya mengalami kekalahan dan gugur di Bangil setelah diserang oleh aliansi VOC dan sekutunya seperti Surabaya dan Mataram.[7][8] Tokoh pejuang terkenal lainnya adalah Sakera yang dikenal dalam cerita rakyat Pasuruan hingga Madura. Untuk mengenangnya, sekarang ada Patung Sakera yang dibangun di persimpangan jalan Kolursari.[9]
Pabrik tekstil Kantjil Mas
Pasca dikuasai Belanda, Bangil menjadi kabupaten tersendiri yang terpisah dari Kabupaten Pasuruan, namun masih berada di bawah Karesidenan Pasuruan. Salah satu bupatinya adalah Tumenggung Pusponegoro dari Gresik yang memerintah pada tahun 1707. Menurut H. J. Domis, pada tahun 1830 Kabupaten (Regentschap) Bangil meliputi tiga kawedanan atau daerah pembantu bupati yaitu Kawedanan Bangil, Gempol, dan Pandakan (Pandaan). Kemudian di tahun 1920, wilayahnya meluas hingga Purwosari dan Lawang. Pusat kota Bangil sendiri mengalami perkembangan yang pesat dengan dibangunnya infrastruktur seperti Stasiun Bangil, kantor pos dan telegraf, hingga industri seperti pabrik tekstil Kantjil Mas. Pendatang dari Arab juga mendirikan perkampungan di Bangil seperti di Kelurahan Kauman. Kepala kampung arab dinamakan Kapitan Arab yang juga berfungsi sebagai penghubung dengan pemerintah kolonial. Sekitar tahun 1930-an, terjadi krisis ekonomi sehingga banyak pabrik gula di Kabupaten Bangil yang tutup. Kabupaten Bangil akhirnya dilebur ke Kabupaten Pasuruan, kecuali Lawang yang digabungkan ke Kabupaten Malang. R.A.A. Harsono menjadi Bupati Bangil terakhir sekaligus Bupati Pasuruan pasca penggabungan tahun 1935. Bangil turun status menjadi kawedanan di bawah Kabupaten Pasuruan dan mencakup tiga kecamatan yaitu Bangil, Beji, dan Rembang. Bekas kantor kawedanan sekarang terbengkalai dan menjadi kawasan pertokoan / plaza di selatan alun-alun.[5][6]
Galeri
Kantor pos dan telegraf Bangil
Jembatan kereta api di Bangil
Perahu nelayan Madura di Bangil
Nelayan Madura di Bangil
Warga Bangil (1948)
Warga Bangil (1948)
Sungai di Kalianyar
Pendaratan kapan nelayan Madura di Bangil
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Bangil terdiri dari 11 kelurahan dan 4 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / kampung / lingkungan. Jumlah kelurahan di Bangil jauh lebih banyak dari kecamatan lain di Kabupaten Pasuruan. Kelurahan, desa, dan lingkungan tersebut yakni sebagai berikut:[14][18]
Jalur utama yang melewati kecamatan ini adalah Jalur Pantura yang menghubungkan berbagai wilayah di pesisir utara Pulau Jawa. Bangil sendiri berada di jalur antara Surabaya dan Sidoarjo dengan Kota Pasuruan. Kemudian pada tahun 2017, dilakukan pembangunan Jalan Tol Gempol–Pasuruan sebagai bagian dari Jalan Tol Trans Jawa. Pusat kota Bangil dapat diakses dari Gerbang Tol Bangil yang berada di Kecamatan Beji.[19] Selain itu, Bangil juga dilintasi jalur strategis lainnya. Terdapat jalan raya yang menghubungkan Bangil dengan Pandaan dan Sukorejo.
Kecamatan ini memiliki Stasiun Bangil yang merupakan stasiun kereta api terbesar di Pasuruan bersama dengan Stasiun Pasuruan di Kota Pasuruan. Stasiun ini melayani trayek kereta penumpang dari arah Surabaya dan bercabang ke arah Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi dan Malang.[3]
Tempat terkenal
Masjid Agung Jamik BangilAlun-alun Bangil di malam hariMasjid Manarul Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Salafiyah Bangil dan Pondok Pesantren Putri (PPP) Salafiyah Bangil
Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Bangil
SMAN 1 Taruna Madani Jawa Timur - sekolah asrama di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang memadukan unsur semi-militer dan keagamaan dengan lingkungan sekolah. Merupakan perubahan status dari SMAN 1 Bangil, dan dibangun atas kerjasama Pemprov Jatim dengan TNI-AL serta Ponpes Dalwa.[20]
Makanan khas dari Bangil, Pasuruan adalah nasi punel yaitu nasi yang bertekstur punel. Umumnya makanan ini disajikan di atas piring yang beralaskan daun pisang. Di atas nasi itu ditambah taburan serundeng, dilengkapi sate kerang, lentho/menjeng, tahu bumbu Bali, irisan daging dan kikil, serta sebungkus kecil kuah yang berisi parutan kelapa dengan santan dan diberi bumbu agak manis. Biasanya tersedia sayur rebung dan nangka muda. Lauk utamanya bisa pilih empal (daging goreng), ayam goreng, telur dadar, paru, dan dendeng, serta sambal ulek pedas yang dicampur dengan irisan kacang panjang. Biasanya Terjual laris di sepanjang jalan raya Bangil-Beji. Beberapa warung nasi punel yang populer di Bangil adalah Nasi Punel Hj. Lin, Nasi Punel Warung Pojok, dan Nasi Punel Setia Budi.
↑Muchammad Fauzan Adhiman, Nugroho Sulistianto (2019). [repository.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/148721/jurnal_eproc/perancangan-city-branding-kota-bangil-sebagai-kota-bordir.pdf "PERANCANGAN CITY BRANDING KOTA BANGIL SEBAGAI KOTA BORDIR"] (PDF). e-Proceeding of Art & Design. 6 (1). Telkom University.