Upacara Baayun Wayang merupakan tradisi ritual masyarakat Banjar yang berakar dari kepercayaan pra-Islam dan berkembang menjadi bentuk sinkretik antara adat, seni pertunjukan, dan nilai religius. Upacara ini termasuk dalam rangkaian upacara Manyanggar Banua atau Babunga Tahun, yaitu tradisi tahunan untuk memohon keselamatan kampung serta keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan roh penjaga jagat.[1]
Asal Usul
Tradisi maayun anak atau mengayun anak pada dasarnya telah dikenal dalam budaya Banjar sejak masa kepercayaan Kaharingan, yang berfungsi sebagai bagian dari upacara bapalas bidan (pembersihan setelah kelahiran). Ketika pengaruh Hindu mulai berkembang di Kalimantan Selatan, bentuk tradisi tersebut mengalami perubahan dan menghasilkan dua varian:
Baayun Wayang, yaitu upacara mengayun anak yang dilakukan setelah pertunjukan wayang.
Baayun Topeng, yaitu upacara mengayun anak yang dilakukan setelah pertunjukan topeng.[2]
Setelah masuknya Islam ke wilayah Banjar, praktik ini disesuaikan dengan nilai-nilai Islam dan berkembang menjadi bentuk baru yang lebih dikenal luas, yaitu Baayun Maulid, yang dikaitkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pelaksanaan Upacara
Upacara Baayun Wayang dilaksanakan pada dini hari, sesudah pergelaran wayang sampir di panggung terbuka sebagai bagian dari kegiatan Manyanggar Banua. Sementara Baayun Topeng diselenggarakan pada sore hari setelah pertunjukan topeng selesai.
Bentuk ayunan (buaian) dan perlengkapannya hampir sama dengan yang digunakan dalam upacara Ba-ayun Maulid, hanya berbeda pada konteks dan waktu pelaksanaan. Anak-anak yang akan diayun dibawa oleh orang tua mereka ke tempat upacara, kemudian seorang dalang atau pemimpin ritual akan mengayunkan anak sambil bamamang (membaca mantra) dengan memegang wayang atau topeng di tangannya.[1]
Makna
Makna utama dari upacara Ba-ayun Wayang dan Ba-ayun Topeng adalah ungkapan rasa syukur atas kehadiran anak sekaligus permohonan perlindungan dari gangguan makhluk halus. Masyarakat Banjar memercayai bahwa selama pelaksanaan Manyanggar Banua, seluruh makhluk halus penjaga jagat raya hadir. Karena itu, upacara pengayunan anak dilakukan bersamaan agar anak-anak terlindungi dari gangguan roh jahat.
Selain itu, upacara ini juga berfungsi sebagai sarana sosial-religius yang mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat identitas kultural masyarakat Banjar. Dalam pelaksanaannya, para tamu dan kerabat yang hadir akan menikmati berbagai kue tradisional sebagai bagian dari jamuan ritual.
Pelestarian
Upacara Baayun Wayang menunjukkan bagaimana seni pertunjukan (wayang dan topeng) terintegrasi dalam sistem kepercayaan tradisional Banjar. Unsur sinkretisme budaya tampak jelas, di mana unsur Kaharingan, Hindu, dan Islam berbaur menjadi satu kesatuan tradisi yang hidup dan terus diwariskan.[2]
Masa sekarang, tradisi ini jarang ditemukan dalam bentuk aslinya, karena sebagian besar masyarakat Banjar lebih mengenal bentuk yang telah disesuaikan dengan Islam, yakni Baayun Maulid. Namun demikian, di beberapa daerah pedalaman Kalimantan Selatan, terutama di wilayah Hulu Sungai dan Tapin, bentuk Baayun Wayang masih dapat dijumpai dalam konteks upacara adat tertentu.
Referensi
12Henraswati, Wajidi, Ganie, T. N., Syarifuddin R., & Wibowo, A. (2012). Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pontianak: Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak.
12Syahrani, A. W., & Ramadhani, M. S. (2022). Interaksi Islam Dengan Budaya Banjar. Cross-border, 5(2), 981-994.