Ayyám-i-Há adalah periode hari kabisat dalam penanggalan Baháʼí, di mana umat Baháʼí merayakan Festival Ayyám-i-Há.[2] Periode yang berlangsung selama empat atau lima hari ini disisipkan di antara dua bulan terakhir dalam penanggalan (Mulk dan ʻAláʼ).[3] Panjang Ayyám-i-Há bervariasi tergantung pada waktu ekuinoks musim semi berikutnya[4] sehingga tahun baru selalu dimulai pada saat ekuinoks musim semi.
Pada tahun 2026, Ayyám-i-Há akan berlangsung selama lima hari, yaitu dari saat matahari terbenam pada hari Selasa, 24 Februari, hingga matahari terbenam pada hari Minggu, 1 Maret.
Sejarah
Sang Báb, pendiri Agama Bábí, menetapkan kalender Badíʻ dalam kitab Persian Bayán yang terdiri dari 19 bulan dengan masing-masing 19 hari dan suatu periode hari kabisat untuk menyesuaikan kalender dengan tahun matahari. Pengenalan sistem interkalasi ini menandai perbedaan penting dari Islam, karena dalam praktik kalender Islam, interkalasi telah dilarang dalam Al-Qur'an.[5] Namun, Sang Báb tidak secara spesifik menentukan posisi hari kabisat tersebut.[5]Baháʼu'lláh, yang mengklaim diri sebagai sosok yang dinubuatkan oleh Sang Báb, mengukuhkan dan mengadopsi kalender Badíʻ dalam kitab Kitáb-i-Aqdas, kitab hukumnya.[5] Beliau menempatkan hari-hari kabisat tersebut sebelum bulan puasa ʻAlá, bulan kesembilan belas dan terakhir,[6] dan memberi nama hari-hari kabisat tersebut dengan sebutan "Ayyám-i-Há" atau "Hari-Hari Há".[5][6] Sebelum tahun 172 B.E. (2015 M), Ayyám-i-Há berlangsung dari matahari terbenam pada tanggal 25 Februari hingga matahari terbenam pada tanggal 1 Maret.[7]
Simbolisme dan perayaan
Ayyám-i-Há berarti "Hari-Hari Há" dan memperingati transendensi Tuhan atas sifat-sifat-Nya karena "Há" telah digunakan sebagai simbol dari esensi Tuhan dalam tulisan suci Baháʼí.[5][8] Dalam sistem abjad Arab, huruf Há memiliki nilai numerik lima -- bintang bersudut lima, atau haykal (bahasa Arab: kuil) adalah simbol dari Agama Baháʼí seperti yang disebutkan oleh Shoghi Effendi, pemimpin agama Baháʼí pada paruh pertama abad ke-20: "Secara tegas, bintang bersudut lima adalah simbol Iman kita, seperti yang digunakan oleh Sang Báb dan dijelaskan oleh-Nya."[9] Bintang bersudut lima telah digunakan sebagai kerangka untuk surat atau loh-loh khusus baik oleh Sang Báb[10] maupun Baháʼu'lláh.[11] Angka 5 juga sama dengan jumlah hari maksimum dalam Ayyám-i-Há di kalender Badíʻ.[5]
Selama Festival Ayyám-i-Há, umat Baháʼí dianjurkan untuk merayakan Tuhan dan keesaan-Nya dengan menunjukkan kasih, persaudaraan, dan persatuan.[5] Dalam banyak kesempatan, umat Baháʼí memberi dan menerima hadiah untuk menunjukkan atribut-atribut ini, dan karena periode pemberian hadiah ini, kadang-kadang disamakan dengan Natal, tetapi banyak umat Baháʼí hanya bertukar hadiah kecil karena hadiah bukanlah fokus utamanya.[5] Ini juga merupakan waktu untuk amal dan niat baik, dan umat Baháʼí sering berpartisipasi dalam berbagai proyek yang bersifat kemanusiaan.[12]
↑Menurut definisi hari kabisat dalam Oxford Companion to the Year, empat dari lima hari tersebut adalah "hari epagomenal" yang ditambahkan untuk menyamakan jumlah hari dalam satu tahun kalender dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan hanya hari kelima Ayyám-i-Há yang merupakan hari kabisat.
↑The Universal House of Justice (Juli 10, 2014). "To the Baháʼís of the World". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juli 14, 2014. Diakses tanggal Juli 10, 2014.