Secara khusus, ciri-ciri ayam ini ditandai dengan keberadaan cuping telinga lebar berwarna putih berbentuk lingkaran. Cuping pada jantan diameternya lebih besar bila dibandingkan dengan cuping yang betina. Keberadaan cuping berwarna putih menjadi penanda keaslian dari ayam burgo. Apabila cuping telinga tidak lagi berwarna putih, tetapi bentuk tubuhnya masih mirip dengan ayam burgo, maka disebut ayam rejang.[7]
Postur tubuh ayam ini lebih kecil dibandingkan dengan ayam kampung pada umumnya, tetapi lebih besar dibandingkan ayam hutan merah.[2] Warna bulu ayam burgo jantan didominasi oleh warna merah keemasan dan hijau gelap, sedangkan warna bulu ayam burgo betina didominasi warna kuning kecokelatan dengan ekor kehitaman. Ayam burgo jantan mempunyai tipe jengger tunggal bergerigi lima yang lebar, tegak, dan berjumlah dua pada sisi kiri dan kanan. Adapun ayam burgo betina hanya memiliki jengger kecil dan tipis. Selain perbedaan jengger, ayam burgo betina tidak mempunyai taji.[2]
Betina burgo mampu menghasilkan 30 butir telur berukuran kecil dalam tempo 60 hari. Namun, untuk menghasilkan ayam burgo, dibutuhkan jasa "tukang pikat" yang bertugas menjerat ayam hutan merah di hutan. Ayam hutan liar sifatnya sangat agresif, dan akan melarikan diri jika melihat manusia.[3]
Ayam hias
Ayam burgo banyak dipelihara sebagai ayam hias karena memiliki tampilan bulu memikat dan suara kokok yang merdu.[4] Nilai jualnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual ayam buras lainnya. Di berbagai ajang kontes, harga ayam burgo jantan yang sering memenangkan beberapa perlombaan mencapai lebih dari Rp2,5 juta. Tingginya nilai jual ayam burgo jantan memberi peluang masyarakat untuk melakukan usaha ayam burgo hias. Peluang tersebut menyebabkan peningkatan minat masyarakat penggemar ayam hias untuk memelihara ayam burgo jantan.[3]
Pemerintah Bengkulu berencana memonetisasi ayam burgo untuk tujuan pariwisata, seperti membuat suvenir.[3]
Referensi
12"Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-16. Diakses tanggal 2019-07-16.