Augusta, dengan nama lengkap Maria Luise Augusta Catherina dari Sachsen-Weimar-Eisenach (30 September 1811 di Weimar – 7 Januari 1890 di Berlin), adalah istri dari Kaisar Wilhelm I sekaligus Permaisuri Prusia mulai tahun 1861 dan Permaisuri Jerman pertama setelah pendirian Kekaisaran Jerman pada tahun 1871.
Augusta berasal dari wangsa Sachsen-Weimar-Eisenach dan berkerabat dekat dengan keluarga Tsar Rusia melalui ibunya, Maria Pavlovna. Pada bulan Juni 1829, ia menikah dengan Pangeran Wilhelm dari Prusia. Pernikahan ini berlangsung penuh ketegangan. Wilhelm sebenarnya ingin menikahi sepupunya, Elisa Radziwiłł, yang dianggap oleh istana Prusia tidak sesuai dengan derajat kedudukannya, selain itu pandangan politik serta minat intelektual kedua pasangan ini juga sangat bertolak belakang. Terlepas dari perbedaan pribadi tersebut, Augusta dan Wilhelm sering bekerja sama dalam menyelesaikan korespondensi dan menghadiri pertemuan sosial di istana. Pada tahun 1831 dan 1838, mereka dikaruniai dua anak, yaitu Friedrich Wilhelm dan Luise. Setelah kematian Raja Prusia Friedrich Wilhelm III pada tahun 1840, ia menjadi istri dari penerus takhta Prusia.
Pengaruh politiknya tidak diperoleh dari jabatan resmi, melainkan dari hubungan sosial dan kedekatan dinastinya dengan Wilhelm. Korespondensi surat-menyurat yang luas dengan suaminya, para penguasa lain, negarawan, perwira, diplomat, rohaniwan, ilmuwan, dan penulis memainkan peran penting dalam hal ini. Ia memandang dirinya sebagai penasihat politik suaminya dan menganggap Perdana Menteri Prusia sekaligus Kanselir Kekaisaran Jerman, Otto von Bismarck, sebagai musuh politik utamanya. Meskipun biografi-biografi tentang Bismarck terkadang mencirikan pandangan politik sang permaisuri sebagai antiliberal atau semata-mata bersifat destruktif terhadap kebijakan Bismarck, penelitian-penelitian terbaru mengategorikannya sebagai seorang yang liberal. Berdasarkan penelitian tersebut, Augusta secara keseluruhan memang tidak berhasil meyakinkan suaminya untuk merombak Prusia dan Jerman agar mengikuti model monarki konstitusionalBritania Raya. Namun demikian, ia tetap memiliki ruang gerak politik yang nyata melalui perannya dalam mendidik putra mahkota, bertindak sebagai pembela penduduk Katolik, memiliki akses langsung ke raja, serta menampilkan citra diri yang antimilitaristis. Seberapa jauh pengaruh konkret Augusta sebagai istri penguasa monarki pada abad ke-19 masih menjadi bahan perdebatan dalam penelitian sejarah.
12Staatshandbuch für das Großherzogtum Sachsen / Sachsen-Weimar-Eisenach (1885), "Genealogie" p. 6
↑"Schwarzer Adler-orden", Königlich Preussische Ordensliste (dalam bahasa German), vol. 1, Berlin, 1886, hlm. 6 Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)