Artemisia chamaemelifolia adalah spesies tanaman Eropa dan Timur Tengah dalam keluarga Asteraceae.[2] Tanaman ini terkenal karena bunganya yang berwarna kuning dan ukurannya yang kecil.
Deskripsi
Batang berbunga dari spesies ini tegak, berbentuk silinder, berwarna coklat tua, dan panjangnya sekitar 30–50cm. Daunnya memiliki bentu sayatan atau lobus yang sangat dalam, berwarna hijau, dan hampir tidak berbulu. Lobus daun tipis, berukuran 2–4mm panjang dan 0,5mm lebar, berbentuk seperti benang. Kepala bunga berbentuk bulat telur dengan diameter 4–6mm, dan bunganya berwarna kuning dengan mahkota yang halus dan tidak berbulu.[2]
Taksonomi
Nama ilmiah Artemisia chamaemelifolia pertama kali dikemukakan oleh ahli botani Dominique Villars pada tahun 1779 melalui publikasinya berjudul Prosp. Hist. Pl. Dauphiné. Saat ini, nama tersebut diakui secara sah sebagai nama yang valid untuk spesies ini. Dalam perjalanan sejarah taksonominya, beberapa nama sinonim pernah digunakan oleh para ahli, seperti Artemisia iberica Boiss. ex Boiss. & Buhse (1860) dan Artemisia stechmanniana Besser (1834). Selain itu, spesies ini juga memiliki satu takson bawahan yang telah dideskripsikan, yaitu Artemisia chamaemelifolia subsp. cantabrica M. Laínz (1964).[3]
Persebaran dan status konservasi
Artemisia chamaemelifolia merupakan spesies tumbuhan pegunungan yang memiliki sebaran alami terbatas tetapi mencakup wilayah yang cukup luas di Eropa dan Asia. Di Bulgaria, spesies ini ditemukan di kawasan Ponor bagian barat, khususnya di Pegunungan Golyama Mogila dan Torlovichka Mogila, serta di sekitar desa Ostriya Vrah. Di luar Bulgaria, tumbuhan ini juga ditemukan di berbagai rangkaian pegunungan besar seperti Alpen, Kantabria, Kaukasus, Stara Planina, Asia Kecil, hingga wilayah pegunungan di Iran bagian utara. Spesies ini umumnya tumbuh di lingkungan padang rumput dan lereng berbatu pada ketinggian sekitar 1.560 meter di atas permukaan laut, di mana kondisi tanah berbatu dan berdrainase baik mendukung sifatnya sebagai tanaman herba pegunungan. A. chamaemelifolia memiliki kemampuan beradaptasi terhadap suhu dingin dan paparan sinar matahari yang intens di daerah pegunungan. Namun, karena populasinya yang terisolasi dan habitat alaminya yang semakin menyempit akibat perubahan tata guna lahan dan aktivitas manusia, spesies ini kini dikategorikan sebagai terancam punah dan membutuhkan upaya konservasi untuk mencegah hilangnya keberadaannya dari ekosistem alaminya.[2]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.