Arnold Clemens Ap (1 Juli 1945– 26 April 1984) adalah budayawan, antropolog, dan musisi asal Indonesia. Arnold merupakan ketua grup Mambesak dan kurator Museum Universitas Cenderawasih. Ia juga memperkenalkan budaya Papua dalam acara radio mingguan yang diasuhnya,[1] yang disiarkan RRI Jayapura.
Studi dan pementasan budaya dan musik Papua oleh Ap dipandang oleh banyak pihak sebagai tantangan terhadap upaya pemerintah Indonesia yang menggerus nasionalisme dan identitas Papua. Pada waktu kematian Ap, pemerintah sedang berusaha keras menyatukan rakyat Indonesia di bawah pengaruh budaya Jawa.[2]
Pada November 1983, Ia ditangkap oleh pasukan khusus militer Indonesia Kopassus, lalu dipenjara dan disiksa atas dugaan menjadi simpatisan Organisasi Papua Merdeka meski pada akhirnya tidak ada tuduhan yang ditetapkan. Pada April 1984, Ia tewas akibat tembakan senjata api di punggungnya. Kesaksian resmi mengklaim Ia berusaha kabur dari penjara. Banyak pendukungnya percaya bahwa Ap dieksekusi oleh Kopassus.[3] Musisi lain bernama Eddie Mofu juga tewas.[4]
Musik masih menjadi sumber utama pemberontakan budaya di Papua Barat. Arnold Ap dan Mambesak masih populer di Papua Barat. Karya-karya mereka dipandang sebagai simbol identitas Papua. Sejak 1990-an, pemerintah Indonesia secara berhati-hati mulai mengizinkan ekspresi budaya pribumi Papua. Menurut Danilyn Rutherford, Profesor Pembantu Antropologi Universitas Chicago, terbukanya akses ekspresi budaya merupakan bukti toleransi dan Bhinneka Tunggal Ika, motto nasional Indonesia.[2]
12Rutherford, Danilyn. 2002. Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier. Princeton, NJ: Princeton University Press.