Arhat

| Terjemahan dari arahat | |
|---|---|
| Pali | arahā arahantacode: pi is deprecated |
| Sanskerta | अर्हत्code: sa is deprecated (IAST: arhat) |
| Tionghoa | 阿罗汉, 罗汉code: zh is deprecated (Pinyin: āluóhàn, luóhàncode: pny is deprecated ) |
| Jepang | あらかんcode: ja is deprecated (rōmaji: arakan, rakancode: ja is deprecated ) |
| Korea | 아라한, 나한code: ko is deprecated (RR: arahan, nahancode: ko is deprecated ) |
| Tibet | དགྲ་བཅོམ་པ།code: bo is deprecated (Wylie: dgra bcom pacode: bo is deprecated ) |
| Bengali | অর্হৎcode: bn is deprecated |
| Myanmar | ရဟန္တာcode: my is deprecated (MLCTS: ra.ha.ntacode: my is deprecated ) |
| Thai | อรหันต์code: th is deprecated (RTGS: arahan) |
| Vietnam | a-la-hán, la háncode: vi is deprecated |
| Khmer | អរហន្ត (Arahon)code: km is deprecated |
| Sinhala | අරහත්, රහත්code: si is deprecated (arahat, rahat) |
| Tamil | அருகன்code: ta is deprecated (aruhancode: ta is deprecated ) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang | |||||||||
| Buddhisme | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Dalam Buddhisme, arahat (KBBI;[note 1] Pali: arahā atau arahanta;[note 2] Sanskerta: अर्हत्, arhat),[1] juga diterjemahkan sebagai "yang layak" dan "yang mahasuci," adalah seseorang yang telah memperoleh pandangan-terang mendalam tentang hakikat keberadaan, telah mencapai Nirwana,[2][3] dan telah terbebas dari siklus kematian dan kelahiran kembali yang tanpa akhir (samsara). Dalam tradisi Theravāda, seorang arahat adalah seseorang yang telah mencapai tahap keempat (keadaan arahatta) dari empat tingkat pencerahan. Seorang arahat sebelumnya merupakan seorang sotapana (Pali: sotāpanna, "pemasuk-arus"), sakadagami (sakadāgāmī, "pengembali-sekali"), dan anagami (anāgāmī, "tidak-kembali"); dan diyakini telah mencapai tingkat pencerahan yang terakhir dalam jalan menuju pembebasan.
Pemahaman mengenai konsep ini telah berubah selama berabad-abad, dan bervariasi di antara berbagai aliran Buddhisme dan wilayah yang berbeda. Terdapat beragam pandangan mengenai pencapaian arahat dalam aliran-aliran buddhis awal. Aliran-aliran yang berasal dari Mahāsāṃghika (seperti Ekavyāvahārika, Lokottaravāda, Bahuśrutīya, Prajñaptivāda, dan Caitika), Kāśyapīya, dan Sarvāstivāda menerima pandangan bahwa arahat bisa melakukan kesalahan dan tidak sempurna.[4][5][6] Pendirian yang lebih spesifik, bahwa arahat masih rentan mengalami kemerosotan dari tingkat pembebasannya, dianut oleh Sarvāstivāda, Puggalavāda, dan Pūrvaśaila (sebuah cabang Mahāsāṃghika).[7] Aliran Dharmaguptaka meyakini bahwa "Buddha dan mereka yang berada dalam Dwiyana (Dua Kendaraan), meskipun memiliki pembebasan yang sama, telah mengikuti jalur mulia yang berbeda." Aliran Mahīśāsaka dan Theravāda menganggap bahwa seorang arahat dan seorang Buddha telah mencapai pembebasan yang sama, meskipun berbeda dalam jalur yang ditempuh dan kualitas yang dikembangkan di sepanjang jalan menuju pembebasan tersebut. Aliran Sautrāntika, meskipun berakar dari garis keturunan Sarvāstivāda, justru menolak kemungkinan kemerosotan tersebut, sejalan dengan posisi Theravāda dan Mahīśāsaka.[7]
Ajaran Buddhisme Mahāyāna mendorong para penganutnya untuk menempuh "Jalan Bodhisatwa" dan tidak jatuh kembali ke tingkat arahat dan śrāvaka.[8] Para arahat, atau setidaknya arahat senior, mulai dianggap secara luas oleh penganut Buddha Theravāda sebagai sosok yang 'melampaui kondisi kebebasan pribadi untuk ikut serta dalam misi Bodhisatwa dengan cara mereka sendiri'."[9] Buddhisme Mahāyāna menganggap sekelompok Delapan Belas Arahat (dengan nama dan kepribadian masing-masing) sedang menunggu kehadiran Buddha Maitreya, sementara pengelompokan lain yang terdiri dari 6, 8, 16, 100, dan 500 juga muncul dalam tradisi dan seni buddhis, terutama di Asia Timur, yang disebut sebagai luohan atau lohan.[10][11] Mereka dapat dipandang sebagai padanan buddhis dari orang kudus Kristen, rasul, atau murid-murid awal dan pemimpin iman.[10][sitasi tak relevan]
Etimologi
Kata Sanskerta arhat (Pāḷi arahā) adalah partisip masa kini yang berasal dari akar kata verbal √arh "layak",[12] bdk. arha "pantas, layak"; arhaṇa "memiliki hak, berhak"; arhita (partisip lampau) "dihormati, dipuja".[13] Kata ini digunakan dalam kitab Regweda dengan pengertian "layak".[14][15]
Penafsiran aliran-aliran buddhis awal
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Awal |
|---|
| Buddhisme |
*Daftar ini merupakan penyederhanaan. Kemungkinan besar, perkembangan aliran-aliran Buddhis tidaklah linear. Terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan para cendekiawan. |
Di India masa pra-Buddhisme, istilah arhat (yang menunjukkan orang suci secara umum) sangat erat kaitannya dengan kekuatan gaib dan asketisme. Umat Buddha membuat pembedaan yang tajam antara arahat mereka (arahat buddhis) dan orang suci India lainnya, dan kekuatan gaib tidak lagi menjadi pusat identitas atau misi seorang arahat.[16]
Pada masa Buddhisme awal, terdapat berbagai pandangan mengenai kesempurnaan relatif para arahat dalam aliran-aliran Buddhis awal.
Mahāsāṃghika
Di antara aliran-aliran yang diturunkan dari Mahāsāṃghika, aliran Ekavyāvahārika, Lokottaravāda,[4] Bahuśrutīya,[17] Prajñaptivāda, dan Caitika[5] menganjurkan sifat transendental dari para Buddha dan Bodhisatwa serta kemungkinan kekeliruan perbuatan para arahat.[18] Aliran Caitika mendukung Kendaraan Bodhisatwa (bodhisattvayāna) sebagai suatu idealisme di atas Kendaraan Sravaka (śrāvakayāna), dan memandang arahat sebagai makhluk yang bisa salah dan masih diliputi ketidaktahuan.[5] Aliran Pūrvaśaila, cabang lain yang lahir dari lingkungan Mahāsāṃghika, secara eksplisit memegang pandangan bahwa seorang Arahat masih rentan mengalami kemerosotan dari tingkat pembebasannya, posisi yang juga dianut oleh beberapa aliran Sthavira nikāya seperti Sarvāstivāda dan Puggalavāda.[7]
Sthavira nikāya
Di antara Sthavira nikāya, aliran Dharmaguptaka meyakini bahwa "Buddha dan mereka yang berada dalam Dua Kendaraan, meskipun memiliki pembebasan yang satu dan sama, telah mengikuti jalur mulia yang berbeda." Dengan demikian, Dharmaguptaka meyakini bahwa pencapaian Kearahatan dan Kebuddhaan merupakan pembebasan yang satu dan sama.[19] Aliran Mahīśāsaka dan Theravāda (meneruskan pandangan aliran Vibhajjavāda) juga menganggap arahat dan Buddha memiliki kemiripan satu sama lain. Penafsir Theravāda abad ke-5, Buddhaghosa, menganggap bahwa arahat telah menyelesaikan jalan menuju pembebasan.[note 3] Menurut Bhikkhu Bodhi, Tripitaka Pali menggambarkan bahwa Buddha Gotama juga menyatakan diri-Nya sebagai seorang arahat.[21][note 4] Bhikkhu Bodhi menyatakan bahwa Nibbāna adalah "tujuan akhir", dan seseorang yang telah mencapai Nibbāna telah mencapai tingkat arahat:[note 5] Ia menulis, "Tanda penentu seorang arahat adalah pencapaian Nibbāna dalam kehidupan saat ini."[21]
Tidak semua tradisi yang berakar dari Sthavira nikāya memiliki pandangan yang sama mengenai kedudukan arahat. Dalam pandangan aliran Sarvāstivāda, pencapaian seorang Arahat tidak dipandang seragam secara mutlak. Berdasarkan kitab Abhidharmakośabhāṣya karya Vasubandhu, Arahat diklasifikasikan ke dalam enam golongan yang mencakup spektrum dari Arahat yang masih bisa merosot (Sanskerta: parihānadharman) hingga Arahat yang telah teguh dan tak tergoyahkan (akopyadharman).[22] Dari enam golongan tersebut, hanya akopyadharman yang sama sekali tidak rentan terhadap kemerosotan; lima golongan lainnya dapat merosot dari buahnya (phala), dan empat di antaranya (selain parihānadharman) juga dapat merosot dari "silsilah"-nya (gotra). Meskipun demikian, mereka tidak akan jatuh dari gotra atau phala pertama.[7] Meskipun mengakui adanya kemungkinan kemerosotan pada tingkatan tertentu, aliran ini tetap membedakan kapasitas tersebut dengan pencerahan seorang Buddha yang secara inheren selalu bersifat tak tergoyahkan.[23] Menurut A. K. Warder, penganut Sarvāstivāda memiliki posisi yang mirip dengan cabang-cabang Mahāsāṃghika mengenai arahat, menganggap bahwa ada arahat yang tidak sempurna dan bisa salah.[6] Dalam Nāgadatta Sūtra versi Sarvāstivāda, iblis Māra mengambil wujud ayah Nāgadatta dan mencoba meyakinkan Nāgadatta (yang merupakan seorang bhikṣuṇī) untuk bekerja menuju tahap arahat yang lebih rendah daripada berjuang menjadi Buddha yang tercerahkan sempurna (Sanskerta: samyaksaṃbuddha):
Oleh karena itu, Māra menyamar sebagai ayah Nāgadatta dan berkata demikian kepada Nāgadatta: "Pikiranmu terlalu serius. Kebuddhaan terlalu sulit untuk dicapai. Dibutuhkan seratus ribu nayuta dari koṭi kalpa untuk menjadi seorang Buddha. Oleh karena hanya sedikit orang yang mencapai Kebuddhaan di dunia ini, mengapa kamu tidak mencapai tingkat Arahat saja? Oleh karena pengalaman Arahat sama dengan pengalaman nirvāṇa; terlebih lagi, tingkat Arahat mudah dicapai.[24]
Dalam jawabannya, Nāgadatta menolak tingkat arahat dengan menyatakannya sebagai jalan yang lebih rendah: "Kebijaksanaan seorang Buddha adalah seperti ruang kosong di sepuluh penjuru, yang dapat mencerahkan orang yang tak terhitung jumlahnya. Namun kebijaksanaan seorang Arahat lebih rendah."[24]
Aliran Kāśyapīya memegang pandangan yang serupa dengan Sarvāstivāda, meyakini bahwa arahat bisa salah dan tidak sempurna sebagaimana dianut pula oleh cabang-cabang Mahāsāṃghika.[6] Penganut Kāśyapīya percaya bahwa arahat belum melenyapkan nafsu-keinginan, "kesempurnaan" mereka belum lengkap, dan ada kemungkinan bagi mereka untuk merosot dari pencapaiannya.[6] Senada dengan posisi Sarvāstivāda dan Kāśyapīya, aliran Puggalavāda turut menerima pandangan bahwa ada Arahat yang masih rentan terhadap kemerosotan dari tingkat pembebasannya, sebuah pendirian yang secara eksplisit tercantum dalam himpunan ajaran sekunder kaum Pudgalavādin.[7] Kerentanan tersebut dibedakan secara tegas dari pencerahan seorang Buddha yang dipandang bersifat mutlak dan tak tergoyahkan.[7] Sebaliknya, aliran Sautrāntika, meskipun berakar dari garis keturunan yang sama dengan Sarvāstivāda, justru menolak kemungkinan kemerosotan seorang Arahat, sejalan dengan posisi Theravāda dan Mahīśāsaka.[7]
Penafsiran Buddhisme Theravāda
Dalam Buddhisme Theravāda, seorang arahat adalah orang yang telah melenyapkan semua akar tidak baik (Pali: akusalamūla) yang mendasari belenggu-belenggu – yang setelah kematiannya tidak akan lahir kembali di alam kehidupan mana pun karena belenggu yang mengikat seseorang pada samsara telah dilepaskan sepenuhnya. Dalam Tripitaka Pali, kata tathāgata terkadang digunakan sebagai sinonim untuk arahat, meskipun istilah tathāgata biasanya hanya digunakan untuk merujuk pada Buddha saja.[note 6]
| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotāpanna | ± tujuh kali; manusia atau dewa |
1. pandangan salah terhadap jati diri (sakkāya-diṭṭhi) 2. keraguan (vicikicchā) 3. kemelekatan pada ritual dan adat (sīlabbata-parāmāsa) |
belenggu rendah |
| sakadāgāmī | sekali lagi; manusia | ||
| anāgāmī | sekali lagi; suddhāvāsa |
4. hasrat indrawi (kāmacchanda) 5. niat jahat (vyāpāda/byāpāda) | |
| arahā | tidak ada | 6. nafsu punarbawa di alam materi (rūparāga) 7. nafsu punarbawa di alam nonmateri (arūparāga) 8. kesombongan (māna) 9. kebingungan (uddhacca) 10. ketidaktahuan (avijjā) |
belenggu tinggi |
Setelah pencapaian Nirwana, lima gugusan (rupa fisik, perasaan/sensasi, persepsi, formasi mental, dan kesadaran) akan terus berfungsi, ditopang oleh nyawa atau vitalitas tubuh fisik. Pencapaian Nirwana ketika masih hidup tersebut disebut sebagai "unsur Nirwana dengan sisa yang tertinggal" (Pali: saupadisesa nibbāna). Namun, begitu arahat meninggal dunia dan tubuh fisiknya hancur, kelima gugusan tersebut akan berhenti berfungsi sehingga mengakhiri semua jejak keberadaan di suatu alam kehidupan. Dengan demikian, pembebasan total tanpa sisa dari penderitaan samsara telah dicapai. Pencapaian tersebut disebut sebagai "unsur Nirwana tanpa sisa yang tertinggal" (Pali: anupadisesa nibbāna).[25] Keadaan parinibbāna (meninggal dunia bagi seseorang yang sudah mencapai Nirwana) juga dikatakan terjadi pada saat seorang arahat meninggal dunia.[26][27]
‘itipi so bhagavā arahaṁ sammāsambuddho vijjācaraṇasampanno sugato lokavidū anuttaro purisadammasārathi satthā devamanussānaṁ buddho bhagavā’ti.
"Sang Bhagavā adalah seorang Arahat, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, yang sempurna menempuh Sang Jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci."
— Mahānāma Sutta (AN 11.11-12)
Dalam Buddhisme Theravāda, Buddha Gotama sendiri pertama-tama diidentifikasi sebagai seorang arahat, begitu pula para pengikutnya yang telah tercerahkan,[note 4] karena mereka "telah mengakhiri kekotoran batin, mencapai kesempurnaan, menyelesaikan tugas, melepaskan beban, mencapai tujuan sejati, menghancurkan sepenuhnya belenggu keberadaan, dan yang terbebas melalui pengetahuan yang benar."[28]
Dalam Yuganaddha Sutta (AN 4.170) dari Tripitaka Pali, Ānanda menyatakan bahwa ia mengetahui para biku telah mencapai Nirwana melalui salah satu dari empat cara:[29]
- seseorang mengembangkan pandangan terang yang didahului oleh ketenangan (Pali: samatha-pubbaṅgamaṃ vipassanaṃ),
- seseorang mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang (vipassanā-pubbaṅgamaṃ samathaṃ),
- seseorang mengembangkan ketenangan dan pandangan terang secara bertahap (samatha-vipassanaṃ yuganaddhaṃ),
- pikiran seseorang dicengkeram oleh kebingungan/kegelisahan atas dhamma[note 7] (dhamma-uddhacca-viggahitaṃ mānasaṃ hoti) dan, sebagai konsekuensinya, mengembangkan ketenangan dan meninggalkan belenggu-belenggu.
Jika seseorang telah menghancurkan keserakahan dan kebencian (dalam konteks indrawi) dengan beberapa sisa delusi, maka ia disebut sebagai anagami (seorang yang tidak kembali). Anagami tidak akan lahir kembali ke alam manusia setelah kematian, melainkan ke surga Kediaman Murni (Suddhāvāsacode: pi is deprecated ), alam kelahiran khusus para anagami. Di sana, para anagami akan terus belatih hingga mencapai pencerahan penuh.
Buddhaghosa, seorang penafsir Theravāda, menempatkan arahat sebagai tahapan akhir dalam jalan menuju pembebasan.[note 3]
Penafsiran Buddhisme Mahāyāna

Umat Buddhisme Mahāyāna memandang Buddha Gautama sendiri sebagai ideal yang harus dituju dalam aspirasi spiritual seseorang. Sebuah hierarki pencapaian umum dibayangkan dengan pencapaian para arahat dan pratyekabuddha berada di bawah pencapaian samyaksambuddha atau tathāgata seperti Buddha Gautama.[8]
Berbeda dengan tujuan menjadi seorang buddha yang tercerahkan penuh, jalur seorang śrāvaka (murid seorang Buddha) yang dimotivasi oleh pencarian pembebasan pribadi dari saṃsāra (siklus kematian dan kelahiran kembali) sering digambarkan sebagai egois dan tidak diharapkan.[30] Bahkan ada beberapa sutra Mahāyāna yang menganggap aspirasi untuk mencapai kearahatan dan pembebasan pribadi sebagai "jalur luar/eksternal".[31] Alih-alih mencita-citakan kearahatan, umat Mahāyāna didesak untuk menempuh Jalan Bodhisatwa dan tidak jatuh kembali ke tingkat arahat dan śrāvaka.[8] Oleh karena itu, umat Mahāyāna diajarkan bahwa seorang arahat pada akhirnya harus melanjutkannya untuk menjadi seorang Bodhisatwa. Jika mereka gagal melakukannya dalam masa hidup di mana mereka mencapai tingkatan tersebut, mereka akan jatuh ke dalam samādhi kekosongan yang dalam, kemudian dibangunkan dan diajarkan Jalan Bodhisatwa, kemungkinan besar ketika sudah siap. Menurut Sutra Teratai, setiap arahat sejati pada akhirnya akan menerima jalan Mahāyāna.[32]

Ajaran Mahāyāna sering menganggap jalur śrāvaka dimotivasi oleh rasa takut terhadap saṃsāra, yang membuat mereka tidak mampu mencita-citakan Kebuddhaan, dan oleh karena itu mereka kurang memiliki keberanian dan kebijaksanaan seorang Bodhisatwa.[33] Bodhisatwa pemula terkadang dibandingkan dengan śrāvaka dan arahat. Dalam Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā Sūtra, terdapat kisah tentang enam puluh Bodhisatwa pemula yang mencapai tingkat arahat meskipun mereka telah berupaya di Jalan Bodhisatwa karena mereka kurang memiliki kemampuan prajñā pāramitā dan upāya-kauśalya untuk maju sebagai Bodhisatwa menuju pencerahan lengkap (Sanskerta: Anuttarā Samyaksaṃbodhi). Hal ini dikarenakan mereka dipandang masih memiliki kemelekatan bawaan dan rasa takut terhadap saṃsāra. Sutra Prajnaparamita membandingkan orang-orang ini dengan burung raksasa tanpa sayap yang tidak bisa tidak jatuh ke bumi dari puncak gunung Sumeru.[33]
Buddhisme Mahāyāna memandang jalur śrāvaka yang memuncak pada kearahatan sebagai pencapaian yang lebih rendah daripada pencerahan lengkap, tetapi tetap memberikan penghormatan yang layak kepada para arahat atas pencapaian mereka masing-masing. Oleh karena itu, alam-alam buddha digambarkan dihuni oleh śrāvaka dan Bodhisatwa.[33] Jauh dari kesan diabaikan sepenuhnya, pencapaian para arahat dipandang mengesankan, terutama karena mereka telah melampaui dunia fana.[34] Buddhisme Tionghoa dan tradisi Asia Timur lainnya secara historis menerima perspektif ini, dan kelompok arahat tertentu juga dipuja, seperti Enam Belas Arahat, Delapan Belas Arahat, dan Lima Ratus Arahat.[35] Potret terkenal pertama dari para arahat ini dilukis oleh biksu Tiongkok Guanxiu (Hanzi: 貫休; Pinyin: Guànxiū) pada tahun 891 Masehi. Ia menyumbangkan potret-potret ini ke Vihara Shengyin di Qiantang (sekarang Hangzhou), tempat potret-potret tersebut dijaga dengan sangat hati-hati dan penuh hormat.[36]
Dalam beberapa aspek, jalan menuju kearahatan dan jalan menuju pencerahan lengkap dipandang memiliki landasan yang sama. Namun, perbedaan yang mencolok terlihat dalam ajaran Mahāyāna yang mendorong tanpa-kemelekatan emosional dan kognitif hingga konsekuensi logisnya. Mengenai hal ini, Paul Williams menulis bahwa dalam Buddhisme Mahāyāna, "Nirvāṇa harus dicari tanpa dicari (untuk diri sendiri), dan latihan harus dilakukan tanpa dipraktikkan. Cara berpikir diskursif tidak dapat melayani tujuan dasar pencapaian tanpa pencapaian."[37]
Mahāyāna membedakan hierarki pencapaian dengan Samyaksambuddha di puncak, Mahasatwa di bawahnya, Pratyekabuddha di bawahnya lagi, dan Arahat lebih jauh di bawah.[38] "Tapi apa yang membedakan Bodhisatwa dari śrāvaka, dan pada akhirnya Buddha dari Arahat? Perbedaannya terletak, lebih dari apa pun, pada orientasi altruistik dari Bodhisatwa."[39]
Lihat pula
- Empat tingkat kemuliaan
- Jalan Buddhis menuju pembebasan
- Bodhi
- Paccekabuddha
- Sepuluh Murid Utama
- Luohan tembikar glasir dari Yixian
- Membunuh seorang arahat adalah kejahatan ānantarika-kamma.
Catatan
- ↑ Istilah-istilah ini sudah diserap dalam KBBI: sotapana, sakadagami, anagami, dan arahat; tanpa konsonan ganda dan tanda diakritik sebagaimana dalam bahasa Pali.
- ↑ Penggunaan istilah Arahant dan Arahat sering kali dianggap kurang tepat secara etimologi Pāḷi karena merupakan serapan dari bahasa Inggris sehingga dikoreksi menjadi Arahā dan Arahatta. Menurut Vijjānanda 2007, hlm. xx, "Kami juga mengganti istilah “Arahant” (pencapai kesucian tertinggi) dan “Arahat” (tataran kesucian tertinggi) berturut-turut menjadi “Arahā” (tunggal) atau “Arahanta” (jamak) dan “Arahatta”. Penggunaan kata “Arahat” yang lazim untuk menyatakan pencapai dan tataran kesucian tertinggi juga kurang tepat karena kata “Arahat” adalah istilah bahasa Inggris yang diserap dari kata Sanskerta “Arhat”.
- 1 2 Routledge Encyclopedia of Buddhism: "Ketika penafsir besar Theravāda, Buddhaghosa, menulis kitab Visuddhimagga yang menguraikan hakikat jalan bertahap menuju pencerahan, ia menempatkan arahat pada tahap akhir jalan tersebut. Arahat berdiri sebagai sosok transendental dalam Theravāda, seseorang yang telah mengikuti jalan Dhamma yang ditetapkan oleh Buddha hingga sampai pada akhir dari jalan tersebut."[20]
- 1 2 Bhikkhu Bodhi: "Buddha adalah yang pertama dari para arahat, sementara mereka yang mencapai tujuan dengan mengikuti jalannya juga menjadi arahat. Dalam bait penghormatan kepada Buddha, dikatakan: "Iti pi so Bhagavā Arahaṃ... — Sang Begawan adalah seorang arahat..." Tak lama setelah pencerahannya, saat berjalan ke Benares untuk menemui lima biku, seorang pengembara menghentikan Buddha dan bertanya siapa dia. Buddha menjawab: "Akulah arahat di dunia, Akulah guru agung" (MN 26 // M. I 171). Jadi, Buddha pertama-tama menyatakan diri-Nya sebagai seorang arahat."[21]
- ↑ "Dari perspektif kitab-kitab Nikāya, tujuan akhir – tujuan dalam istilah doktrinal yang ketat – adalah Nibbāna, dan tujuan dalam istilah manusia (konvensional) adalah kearahatan, keadaan seseorang yang telah mencapai Nirwana dalam kehidupan saat ini."[21]
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press 1995, hlm. 227:
Sebelum berfokus pada bagian-bagian penting tentang tathāgata, pertama-tama perlu diklarifikasi terkait kepada siapa kata tersebut diarahkan. Buddha sering menggunakannya ketika berbicara tentang diri-Nya sendiri sebagai makhluk yang tercerahkan, bukan sebagai individu Gotama. Secara umum, "tathāgata" digunakan secara khusus untuk seorang Buddha, orang yang menemukan dan memaklumkan jalan menuju Nirwana (A.II.8–9 [AN 4.8], S.III.65-6 [SN 22.58]), dengan "Tathāgata, Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna dan Sepenuhnya" dikontraskan dengan "murid Tathāgata" (D.II.142 [DN 16]). Meskipun demikian, "tathāgata" terkadang digunakan untuk Arahat mana pun. S.V.327 [SN 54.12], misalnya, membahas "kediaman seorang pelajar" dan kediaman seorang tathāgata, dan menjelaskan yang kedua dengan menggambarkan kualitas seorang Arahat. Pada M.I.139–140 [MN 22] dan 486-7 [MN 72], terlebih lagi, terdapat pergantian antara pembicaraan tentang "tathāgata" dan "seorang biku yang pikirannya dibebaskan demikian", seolah-olah keduanya adalah padanan sederhana. Tathāgata secara harfiah berarti "telah pergi demikian" atau "telah datang demikian", mungkin berarti seseorang yang "telah mencapai kebenaran" atau "yang hakikatnya berasal dari kebenaran".
- ↑ Bodhi (2005), hlm. 268, menerjemahkan cara keempat ini sebagai: "pikiran seorang biku dicengkeram oleh kegelisahan tentang ajaran." Thanissaro (1998) memberikan interpretasi yang tampaknya berlawanan: "pikiran seorang biku memiliki kegelisahan mengenai dhamma [Kitab komentar: kekotoran pandangan-terang] yang terkendali dengan baik." Jadi, tampak mungkin untuk menafsirkan kegelisahan/kebingungan (Pali: uddhacca) sebagai sesuatu yang digunakan calon arahat untuk mendorong pengejaran jalan mereka atau sesuatu yang dikendalikan oleh calon arahat untuk menempuh jalan tersebut.
Kutipan
- ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 31, 95, entri untuk "Anāgāmin" (diakses pada 17 November 2018 di University of Chicago) dan "Āgāmin" (di University of Chicago).
- ↑ "arhat | Buddhism | Britannica". www.britannica.com.
- ↑ Warder 2000, hlm. 67.
- 1 2 Baruah, Bibhuti. Buddhist Sects and Sectarianism. 2008. hlm. 446
- 1 2 3 Sree Padma. Barber, Anthony W. Buddhism in the Krishna River Valley of Andhra. 2008. hlm. 44
- 1 2 3 4 Warder, A.K. Indian Buddhism. 2000. hlm. 277
- 1 2 3 4 5 6 7 Thich Thien Chau, Bhikshu (1999). The Literature of the Personalists of Early Buddhism. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 205, catatan 756.
- 1 2 3 Williams, Paul. Buddhism. Vol. 3: The origins and nature of Mahāyāna Buddhism. Routledge. 2004. hlm. 119
- ↑ Rhie & Thurman 1991, hlm. 102.
- 1 2 Rhie & Thurman 1991, hlm. 102-119.
- ↑ "Sixteen Arhats at Shengyin Temple-- the 15th: Ajita Arhat: Shi liu zun zhe xiang: 16 Lohans: A shi duo zun zhe xiang bing zan: Sheng yin si shi liu zun zhe xiang di shi wu". Chinese Rubbings Collection - CURIOSity Digital Collections (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-11.
- ↑ Whitney, D. W. Roots, Verb-forms and Primary Derivatives of the Sanskrit Language
- ↑ Monier-Williams Sanskrit English Dictionary
- ↑ RV 1.4.47, 2.5.51
- ↑ Richard Gombrich, 2009, What the Buddha Thought, Equinox: London, hlm. 57–58.
- ↑ Richard Kieckhefer, George D. Bond. "Sainthood: Its Manifestations in World Religions" 1988. hlm. 159-160.
- ↑ Walser, Joseph. Nāgārjuna in Context: Mahāyāna Buddhism and Early Indian Culture. 2005. hlm. 218.
- ↑ Baruah, Bibhuti. Buddhist Sects and Sectarianism. 2008. hlm. 48.
- ↑ 《異部宗輪論述記》:謂佛雖在僧中所攝,然別施佛果大,非僧(果大)。於窣堵波興供養業獲廣大果。佛與二乘解脫雖一,而聖道異。無諸外道能得五通。阿羅漢身皆是無漏。餘義多同大眾部執。
- ↑ Charles Prebish dan Damien Keown (2007), Routledge Encyclopedia of Buddhism, hlm. 36
- 1 2 3 4 Bhikkhu Bodhi, Arahants, Bodhisattvas, and Buddhas
- ↑ Vasubandhu (1988–1990). Abhidharmakośabhāṣyam. Diterjemahkan oleh Leo M. Pruden. Berkeley: Asian Humanities Press. Bab VI.56–58.
- ↑ Williams, Paul (2008). Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations (Edisi 2nd). Routledge. hlm. 21. ISBN 978-1-134-25056-1.
- 1 2 Kalupahana, David. Buddhist Thought and Ritual. 2001. hlm. 109
- ↑ Bhikkhu Bodhi. "Transcendental Dependent Arising". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 March 2009. Diakses tanggal 16 March 2009.
- ↑ "Glossary of Pali and Buddhist Terms: Parinibbāna". Access to Insight.
Total Unbinding; the complete cessation of the khandhas that occurs upon the death of an arahant.
- ↑ Goldstein, Joseph. "Reflections on Nibbana". Insight Journal. Barre Center for Buddhist Studies.
...parinibbāna, the death of an arahant who is no longer reborn.
- ↑ "Sangha". Access to Insight. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Februari 2015. Diakses tanggal 13 Agustus 2016.
- ↑ Ajaran Ānanda tentang pencapaian kearahatan dapat ditemukan di AN 4.170.
- ↑ Baruah, Bibhuti. Buddhist Sects and Sectarianism. Sarup & Son. 2008. hlm. 192
- ↑ Sheng Yen. Orthodox Chinese Buddhism. North Atlantic Books. 2007. hlm. 149.
- ↑ Sheng Yen. Orthodox Chinese Buddhism. North Atlantic Books. 2007. hlm. 163.
- 1 2 3 Williams, Paul. Buddhism. Vol. 3: The origins and nature of Mahāyāna Buddhism. Routledge. 2004. hlm. 120
- ↑ Powers, John. A Concise Introduction to Tibetan Buddhism. Snow Lion Publications. 2008. hlm. 36.
- ↑ Leidy, Denise. The Art of Buddhism: An Introduction to Its History and Meaning. Shambhala. 2009. hlm. 196
- ↑ Susan Bush and Ilsio-yen Shih (1985). Early Chinese Texts on Painting. Cambridge, Massachusetts, and London. hlm. 314.
- ↑ Williams, Paul. Buddhism. Vol. 3: The origins and nature of Mahāyāna Buddhism. Routledge. 2004. hlm. 50
- ↑ Williams, Paul. Buddhism. Vol. 3: The origins and nature of Mahāyāna Buddhism. Routledge. 2004. hlm. 119-120
- ↑ Prebish & Keown 2004, hlm. 88.
Daftar pustaka
- Prebish, Charles; Keown, Damien, ed. (2004). Encyclopedia of Buddhism. Routledge. ISBN 978-0415314145.
- Rhie, Marylin; Thurman, Robert (1991). Wisdom And Compassion: The Sacred Art of Tibet. new York: Harry N. Abrams (with 3 institutions). ISBN 0810925265.
- Vijjānanda, Handaka (2007). "Prakata". Kronologi Hidup Buddha (Edisi 3). Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia.
- Warder, A.K. (2000). Indian Buddhism. Delhi: Motilal Banarsidass Publishers.
Bacaan lanjutan
- Addiss, Stephen. The Art of Zen: Paintings and Calligraphy by Japanese Monks, 1600–1925. New York: H.N. Abrams. 1989.
- Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pāli Canon. Boston: Wisdom Pubs. ISBN 0-86171-491-1.
- Bush, Susan, dan Hsio-yen Shih. Early Chinese Texts on Painting. Cambridge, Massachusetts: Published for the Harvard-Yenching Institute by Harvard University Press. 1985.
- Joo, Bong Seok, "The Arhat Cult in China from the Seventh through Thirteenth Centuries: Narrative, Art, Space and Ritual" (PhD diss., Princeton University, 2007).
- Kai-man. 1986. The Illustrated 500 Lo Han. Hong Kong: Precious Art Publications.
- Katz, Nathan. Buddhist Images of Human Perfection: The Arahant of the Sutta Piṭaka Compared with the Bodhisattva and the Mahāsiddha. Delhi: Motilal Banarsidass. 1982.
- Kent, Richard K. "Depictions of the Guardians of the Law: Lohan Painting in China". In Latter Days of the Law: Images of Chinese Buddhism, Marsha Weidner, 183–213. N.p.: University of Hawaii Press, 1994.
- Khantipalo, Bhikkhu (1979). Banner of the Arahant Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 978-955-24-0311-8.
- Khantipalo, Bhikkhu (1989). Buddha, My Refuge: Contemplation of the Buddha based on the Pali Suttas. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0037-6.
- Laufer, Berthold. "Inspirational Dreams in Eastern Asia". The Journal of American Folklore 44, no. 172 (1931): 208–216.
- Levine, Gregory P. A., dan Yukio Lippit. Awakenings: Zen Figure Painting in Medieval Japan. New York: Japan Society. 2007.
- Little, Stephen. "The Arhats in China and Tibet". Artibus Asiae 52 (1992): 255–281.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921–5). The Pali Text Society's Pali–English dictionary. Chipstead: Pali Text Society.
- Seckel, Dietrich. "The Rise of Portraiture in Chinese Art". Artibus Asiae 53, no. 1/2 (1993): 7–26.
- Tanaka, Ichimatsu. Japanese Ink Painting: Shubun to Sesshu. New York: Weatherhill. 1972.
- Tredwell, Winifred Reed. Chinese Art Motives Interpreted. New York [etc.]: G.P. Putnam's Sons. 1915.
- Visser, Marinus Willem de. The Arhats in China and Japan. Berlin: Oesterheld & Co. 1923.
- Watanabe, Masako. "Guanxiu and Exotic Imagery in Raken Paintings". Orientations 31, no. 4 (2000): 34–42.
- Watters, Thomas. The Eighteen Lohan of Chinese Buddhist Temples. Shanghai: Kelly and Walsh. 1925.
Pranala luar
- Arahants, Bodhisattvas, and Buddhas, artikel oleh Ven. Bhikkhu Bodhi
- Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1998). Yuganaddha Sutta: In Tandem.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |