Argumentum ab auctoritate atau argumentum ad verecundiam (bahasa Inggris:appeal to authoritycode: en is deprecated atau argument from authoritycode: en is deprecated ) adalah argumentasi dengan mengedepankan pendapat tokoh yang berwenang atau berpengaruh untuk menjadi dasar maupun bukti.[1] Terkadang, argumen dari tokoh tersebut masuk dalam kategori kesesatan berpikir dan memperoleh ilmu menggunakan cara ini adalah keliru.[2][3]
Beberapa orang menyatakan bahwa memperoleh ilmu dari cara seperti ini adalah praktis; selama tokoh tersebut benar, relevan, dan diterima secara luas.[4][5][6][7][8][9] Namun, beberapa lainnya menyatakan cara ini berisiko menyebabkan kesesatan berpikir.[10][11][12][13][14]
Penyebab
Beberapa eksperimen menjelaskan mengapa kesesatan pikir seperti ini sering terjadi. Dalam psikologi, memang dikenal adanya kecenderungan bias kognitif[15] yang menyebabkan seseorang cenderung ditekan untuk mengikuti kesepakatan kelompok, seperti terlihat dari efek Asch.[16][17] Dalam percobaan Asch yang diulang terus-menerus, terlihat kecenderungan mereka yang dianggap lebih tinggi statusnya dalam kelompok akan lebih banyak disetujui oleh yang lain, walaupun jelas bahwa pernyataan yang ia lontarkan keliru.[18]
Lebih jauh, manusia cenderung mengalami tekanan emosional saat harus menyatakan pendapat yang bertentangan dengan otoritas atau pendapat mayoritas, sehingga mereka merasa lebih aman jika mengikuti saja apa yang menjadi kesepakatan banyak orang, yang cenderung memgikuti orang yang dianggap berpengaruh.[19]
Dalam eksperimen Milgram, lebih jauh ditemukan bahwa orang-orang lebih cenderung patuh kepada sesuatu saat dipresentasikan oleh pihak yang memiliki kewenangan.[20] Pada saat misalnya jas laboratorium yang dikenakan oleh pihak yang memiliki otoritas dilepaskan, yang membuat kesan otoritatif berkurang, maka kepatuhan orang-orang di sekitarnya menurun hingga 20 persen, yang awalnya lebih dari 50 persen.[20]
Membangun argumen dengan dasar seperti ini bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru, walaupun dalam kondisi tertentu memang pendapat dari orang yang ahli yang kompeten memang merupakan cara yang aman untuk menetapkan sesuatu, terutama jika memang ada konsensus yang luas dalam bidang tersebut. Dalam kasus seperti ini, pernyataan sumber harus bisa diperiksa ulang kebenarannya, terutama dari kejujuran tokoh tersebut, kompetensinya dalam pembahasan topik yang dimaksud, adanya kemungkinan konflik kepentingan dalam menciptakan pernyataan, dan sebagainya.
Contoh paling umum dalam penggunaan kesesatan pikir ini adalah:
A menyatakan bahwa X adalah benar.
A adalah pakar di bidang yang menangani X.
Maka X pasti benar.
Pernyataan ini bisa menghasilkan kesalahan, karena seorang tokoh terkenal dan otoritatif sekalipun bisa saja keliru. Sehingga pernyataan tersebut harus bisa terlebih dahulu dibuktikan melalui bukti yang nyata atau melalui logika deduktif.
Kesesatan pikir seperti ini sering terjadi di institusi perusahaan, pemerintahan, atau militer, karena sering kali tercipta hierarki yang memengaruhi persepsi akan kebenaran.
Referensi
↑"Fallacies". University of North Carolina at Chapel Hill.
↑Cummings, Louise (2015). "Argument from Authority". Reasoning and Public Health: New Ways of Coping with Uncertainty. Springer. hlm.67–92. doi:10.1007/978-3-319-15013-0_4. ISBN9783319150130. The argument from authority has had many detractors throughout the long history of logic. It is not difficult to see why this is the case. After all, the argument resorts to the use of opinion to support a claim rather than a range of more objective sources of support (e.g. evidence from experiments)...These difficulties and other weaknesses of authority arguments have found these arguments maligned in the logical treatises of several historical thinkers...'argument from authority has been mentioned in lists of valid argument-forms as often as in lists of Fallacies'