Apus acuticauda adalah spesies burung walet dalam famili Apodidae.[1] Spesies ini menjadi salah satu burung walet yang paling kurang dikenal, dan mungkin paling langka di Asia. A. acuticauda sebelumnya dianggap sebagai subspesies kapinis laut Apus pacificus dan penelitian molekuler mengonfirmasi adanya hubungan dekat di antara keduanya.[2]
Pemerian
EBird mendeskripsikan burung ini sebagai "burung walet gelap yang langka dan sangat terbatas jangkauannya, tanpa warna putih di punggung bawahnya. Bagian bawah tubuhnya mungkin tampak berjumbai putih, tetapi terkadang tampak seragam karena pemakaian. Perhatikan kontras antara perut dan ekor bagian bawah yang hitam pekat. Kombinasi pantat gelap dan wajah gelap yang menjadi ciri khasnya membedakan spesies ini dari "walet ekor bercabang" serupa lainnya. Berkembang biak di perbukitan hutan lembap dengan air terjun, tebing curam, dan tepian; juga mencari makan di habitat lain. Suaranya melengking dan tipis, serta jeritan bernada tinggi dan berkicau."[3] Spesies ini beratnya bisa mencapai antara 13 hingga 18 gram, dan tingginya antara 16 hingga 18 sentimeter.[4]
Sebaran dan habitat
Spesies ini langka. Ia mendiami hutan di wilayah pegunungan pada ketinggian 200 hingga 2.470 meter di atas permukaan laut. Ia bermigrasi dan berkembang biak di India (terutama di Meghalaya, Mizoram, dan Nagaland) dan Bhutan. Di luar musim kawin, ia bermigrasi ke Sri Lanka, Tiongkok, dan Thailand.[5]
Perilaku
Makanan
Makanan utamanya adalah serangga terbang, ia menunjukkan kelincahan udara untuk menangkap mangsa di tengah penerbangan dengan tepat.[4]
Perkembangbiakan
Burung ini berkembang biak secara berkoloni di celah-celah tebing berbatu dan ngarai yang dalam, pada ketinggian 200-2.470 meter, umumnya di sekitar hutan. Perkembangbiakan berlangsung dari Maret hingga Mei, biasanya di lokasi yang sama setiap tahun. Burung-burung tampaknya tetap berada di dekat koloni bersarang selama berkembang biak, biasanya menghilang segera setelahnya dan muncul kembali pada tahun berikutnya. Di luar lokasi berkembang biak, burung ini telah tercatat hingga setidaknya 1.500 meter. Diduga burung ini mungkin hanya melakukan pergerakan lokal, tetapi hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.[6]
Tidak ada ancaman substansial yang diketahui terhadap spesies ini. Meskipun terdapat beberapa deforestasi di wilayah jelajahnya, hal ini diduga belum menyebabkan penurunan populasi. Namun, keterbatasan data populasi dan pengetahuan ekologi cukup menghambat dalam proses penilaian ancamannya.[6]