Alpenfestung adalah situs pertahanan nasional Jerman pada Perang Dunia II yang direncanakan oleh Reichsführer-SSHeinrich Himmler pada bulan November dan Desember 1943.[a] Rencana tersebut berisi bahwa pemerintah dan angkatan bersenjataJerman Nazi mundur ke suatu wilayah dari "Bayern selatan melintasi Austria barat hingga Italia utara".[b] Rancangan ini tidak pernah sepenuhnya disetujui oleh Hitler, dan tidak ada upaya serius yang dilakukan untuk menjalankannya, meskipun konsep ini berfungsi sebagai alat propaganda dan penyesatan militer yang efektif yang dijalankan oleh pihak Jerman pada tahap akhir perang. Setelah menyerah kepada pihak Amerika, GeneralleutnantKurt Dittmar memberi tahu mereka bahwa benteng pertahanan tersebut tidak pernah ada.
Sejarah
Operasi-operasi terakhir pasukan Sekutu Barat di Jerman antara 19 April dan 7 Mei 1945
Dalam enam bulan setelah pendaratan Normandia di Normandia pada Juni 1944, pasukan Amerika Serikat, Britania, dan Prancis maju menuju Rhein dan bersiap menyerang ke jantung Jerman, sementara Tentara Merah Soviet, yang maju dari timur melintasi Polandia, telah mencapai Oder. Tampaknya pihak Sekutu akan segera merebut Berlin dan menguasai seluruh Dataran Jerman Utara. Dalam kondisi ini, muncul pemikiran dari beberapa tokoh terkemuka rezim Jerman maupun pihak Sekutu bahwa langkah logis bagi Jerman adalah memindahkan pemerintahan mereka ke wilayah pegunungan di Jerman selatan dan Austria, tempat pasukan berkekuatan kecil namun gigih dapat bertahan untuk jangka waktu tertentu.
Sejumlah laporan intelijen yang dikirim ke Markas Besar Tertinggi Pasukan Ekspedisioner Sekutu (SHAEF) mengidentifikasi bahwa wilayah Alpen memiliki cadangan bahan makanan dan pasokan militer yang telah dikumpulkan selama enam bulan sebelumnya, bahkan menampung fasilitas produksi persenjataan. Di dalam medan berbenteng ini, menurut laporan tersebut, Hitler akan mampu menghindari Sekutu dan menimbulkan kesulitan besar bagi pasukan pendudukan Sekutu di seluruh Jerman.
Pada Januari 1945, menteri propaganda Nazi, Joseph Goebbels, membentuk unit khusus untuk menciptakan dan menyebarkan rumor tentang Alpenfestung.[1]
Goebbels juga membocorkan rumor tersebut ke pemerintah negara-negara netral,[2]
sehingga menjaga mitos benteng pertahanan tetap hidup dan tingkat kesiapannya tetap tidak jelas. Ia meminta bantuan dinas intelijen SS (Sicherheitsdienst atau SD) untuk membuat cetak biru palsu serta laporan mengenai pasokan konstruksi, produksi persenjataan, dan pemindahan pasukan ke benteng pertahanan tersebut.[3]
Meskipun Adolf Hitler tidak pernah sepenuhnya menyetujui rencana Alpenfestung, ia menyetujuinya secara sementara dalam sebuah konferensi bersama Franz Hofer (Gauleiter dari Reichsgau Tirol-Vorarlberg) pada Januari 1945.[4] Hitler juga mengeluarkan perintah pada 24 April 1945 untuk mengevakuasi personel pemerintah yang tersisa dari Berlin ke benteng pertahanan tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya sendiri tidak akan meninggalkan Berlin, bahkan jika kota itu jatuh ke tangan Soviet, seperti yang akhirnya terjadi pada 2 Mei 1945.
Meskipun demikian, mitos benteng pertahanan nasional (Alpenfestung) Jerman tersebut memiliki konsekuensi militer dan politik yang serius. Setelah pasukan Inggris-Amerika menyeberangi Rhein dan maju ke Jerman barat, para ahli strategi harus membuat keputusan: apakah akan maju dalam garis depan yang sempit menuju Berlin atau melakukan dorongan serentak oleh seluruh pasukan Sekutu Barat dari Laut Utara hingga Alpen. Komandan teragresif Amerika, kepala Angkatan Darat Ketiga Jenderal George S. Patton di bawah Grup Angkatan Darat ke-12 pimpinan Jenderal Omar Bradley yang berada di posisi tengah, telah menganjurkan strategi garis depan sempit sejak D-Day dan kembali melakukannya; demikian pula komandan Grup Angkatan Darat ke-21 Britania di utara, Marsekal Lapangan Bernard Montgomery, yang masing-masing melobi untuk memimpin tombak serangan penentu. Namun, panglima tertinggi Sekutu yang berhati-hati, Jenderal AS Dwight Eisenhower, menolak usulan Bradley maupun Montgomery. Pada akhirnya, strategi garis depan yang luas menempatkan Angkatan Darat Ketujuh di bawah Grup Angkatan Darat ke-6 bagian selatan pimpinan Jenderal Jacob L. Devers dalam posisi di akhir perang untuk bergerak cepat ke selatan melintasi Bayern menuju Austria demi mencegah pertahanan Jerman di benteng pegunungan serta memotong jalur-jalur Alpen untuk pelarian Nazi.
Ketika pasukan Amerika menembus Bayern dan Austria barat pada akhir April 1945, mereka hanya menghadapi sedikit perlawanan terorganisasi, dan membuktikan bahwa konsep Alpenfestung hanyalah mitos belaka.[5] Dugaan keberadaan Alpenfestung merupakan satu dari tiga alasan pergerakan pasukan SHAEF menuju Jerman selatan alih-alih ke Berlin; dua alasan lainnya adalah bahwa rencana Sekutu telah menetapkan kota tersebut ke dalam calon zona pendudukan Soviet, dan bahwa pertempuran memperebutkan Berlin dapat menimbulkan korban jiwa yang sangat tinggi dan tidak dapat diterima bagi pihak Sekutu Barat.
Klaim pascaperang
Klaim pascaperang mengenai Alpenfestung meliputi:
Alpenfestung "berkembang menjadi rencana yang sangat berlebihan hingga saya heran kita bisa memercayainya secara polos begitu saja. Namun selama gagasan itu bertahan, legenda tentang benteng pertahanan ini merupakan ancaman yang terlalu berbahaya untuk diabaikan." (Jenderal Omar Bradley)[6][7]
Salah satu penilaian Sekutu mengenai Alpenfestung "harus dianggap sebagai salah satu laporan intelijen terburuk sepanjang masa, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu pada Maret 1945, dan bahkan hanya sedikit yang mencurigainya". (penulis Stephen E. Ambrose)[8]
Catatan
↑"Himmler mulai menyusun rencana untuk perang bawah tanah pada dua bulan terakhir tahun 1943.... Rencana tersebut memiliki tiga bagian, mencakup (1) Perang terbuka yang dikendalikan dari markas besar gunung Hitler; (2) Sabotase dan aktivitas gerilya yang dijalankan oleh kelompok partisan yang diorganisasi berdasarkan distrik, dan (3) Perang propaganda yang akan dijalankan oleh sekitar 200.000 pengikut Nazi di Eropa dan tempat lainnya. Benteng-benteng Didirikan Pasukan S.S. (elit) pilihan telah ditempatkan di benteng-benteng bawah tanah dan rumah sakit di wilayah Alpen Austria, Bayern, dan Italia, dan rencana para pemimpin Nazi adalah melarikan diri ke wilayah tersebut ketika keruntuhan militer Jerman terjadi." Gallagher, Wes (13 Desember 1944). "Nazis Prepared for Five Years Underground Warfare". Evening Independent. St. Petersburg, Florida. Associated Press. Diakses tanggal 4 Februari 2018..
↑"Namun bagaimana dengan para petinggi Nazi yang tidak bisa bersembunyi? Dengan pasukan padat yang terdiri dari SS muda dan fanatik Pemuda Hitler, mereka akan mundur, di bawah perlindungan garda belakang yang setia dari Volksgrenadiere dan Volksstürmer, ke pegunungan Alpen yang membentang dari Bayern selatan melintasi Austria barat hingga Italia utara. Di sana persediaan makanan dan amunisi yang sangat besar sedang disimpan di benteng-benteng yang telah disiapkan. Jika penarikan mundur ini berhasil, pasukan semacam itu mungkin bisa bertahan selama bertahun-tahun." ("World Battlefronts: Battle of Germany: The Man Who Can't Surrender". Time. 12 Februari 1945. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Oktober 2012.)
Referensi
↑
Fritz, Stephen G. (2004). "Waiting for the End". Endkampf: Soldiers, Civilians, and the Death of the Third Reich. Lexington, Kentucky: University Press of Kentucky. hlm. 6. ISBN 9780813171906. Diakses tanggal 29 Januari 2023. Only Propaganda Minister Joseph Goebbels recognized the value of an Alpenfestung, and then merely to exploit 'redoubt hysteria' among the Americans. Convening a secret meeting of German editors and journalists in early December 1944, Goebbels ensured the dissemination of rumors about a national redoubt by expressly forbidding any mention of such a thing in German newspapers. Then, in January 1945, he organized a special propaganda section to concoct stories about Alpine defensive positions. All the stories were to stress the same themes: impregnable fortifications, vast underground storehouses loaded with supplies, subterranean factories, and elite troops willing to fight fanatically to the last.
↑
Fritz, Stephen G. (2004). "Waiting for the End". Endkampf: Soldiers, Civilians, and the Death of the Third Reich. Lexington, Kentucky: University Press of Kentucky. hlm. 6. ISBN 9780813171906. Diakses tanggal 29 Januari 2023. In addition, Goebbels saw to it that rumors leaked not only to neutral governments but also to German troops. Because Allied intelligence drew on POW interrogations as well as reports from neutral countries, these actions ensured the further dissemination of apparent evidence of an Alpenfestung.
↑
Bandingkan:
Fritz, Stephen G. (2004). "Waiting for the End". Endkampf: Soldiers, Civilians, and the Death of the Third Reich. Lexington, Kentucky: University Press of Kentucky. hlm. 6. ISBN 9780813171906. Diakses tanggal 29 Januari 2023. Finally, Goebbels enlisted the aid of the SD to produce fake blueprints, reports on construction timetables, and plans for future transfers of troops and ammunition into the redoubt.
↑Ambrose, Stephen E (1999) [1970]. "19: Crossing the Rhine and a change in plan". The Supreme Commander: The War Years of General Dwight D. Eisenhower (Edisi reprint). Jackson: University Press of Mississippi. hlm. 624. ISBN 9781578062065. Diakses tanggal 29 Januari 2023. This must rank as one of the worst intelligence reports of all time, but no one knew that in March of 1945, and few even suspected it. [...] Even Churchill was afraid of these possible developments.