Adur GushnaspReruntuhan Takht-e Soleymān, tempat api Adur Gushnasp disimpan.
Adur Gushnasp (Middle Persian: 𐭠𐭲𐭥𐭫𐭩 𐭦𐭩 𐭢𐭱𐭭𐭮𐭯, romanized:ʾtwly ZY gšnsp Ādur ī Gušnaspcode: pal is deprecated ;[1]New Persian: آذرگُشنَسپ, romanized:Āzargušnaspcode: fa is deprecated [2]) adalah nama api suci Zoroastrian dengan tingkatan tertinggi (Atash Behram), yang berfungsi sebagai salah satu dari tiga api paling suci di Iranpra-Islam;[3] dua lainnya adalah Adur Farnbag dan Adur Burzen-Mihr.[4] Dari ketiga api tersebut, Adur Gushnasp merupakan satu-satunya api yang struktur kuilnya telah ditemukan dan memiliki bukti arkeologis, sigilografis, serta tekstual yang semuanya tersedia.[4]
Sejarah
Lokasi dan fungsi
Kuil tersebut, yang dibangun oleh raja-raja Sasaniyah, terletak di kota Shiz di Adurbadagan, yang kini merupakan Takht-e Soleymān di provinsi Azerbaijan Barat.[4][5] Tempat ini berfungsi sebagai lokasi ziarah yang penting.[4] Identifikasi situs Takht-e Soleyman sebagai lokasi kuil api Adur Gushnasp menjadi jelas ketika sebuah bulla dari era Sasaniyah ditemukan di sana, yang memuat ukiran berikut: "Imam besar rumah api Gushnasp" (mowbed i xanag i Adur i Gushnasp).[6]
Asal-usul
Api tersebut tidak disebutkan dalam sumber-sumber awal Sasaniyah, dan bukti arkeologis menunjukkan bahwa api itu pertama kali dibawa ke lokasi di Adurbadagan pada akhir abad ke-4 atau awal abad ke-5.[7] Di bawah kekuasaan Sasaniyah, api tersebut dikaitkan dengan kelas prajurit (arteshtār), yang juga merupakan golongan asal Dinasti Sasaniyah sendiri.[8] Dengan cara yang sama seperti Arsakiyah terhadap Adur Burzen-Mihr, para raja Sasaniyah memberikan persembahan kepada kuil Adur Gushnasp, dengan raja pertama yang tercatat adalah Bahram V (memerintah 420-438).[7] Raja tersebut disebut dalam beberapa peristiwa yang berkaitan dengan api itu, seperti merayakan Nowruz dan Sadeh di sana, serta mempercayakan imam besar untuk mengonversi istrinya yang berasal dari India.[9]Khosrow I (memerintah 531-579) juga dilaporkan mengunjungi api tersebut sebelum melancarkan ekspedisi militer.[9]
Ia juga memberikan jumlah besar kepada kuil api itu sebagai bagian dari upeti yang dibayarkan Bizantium kepada Sasaniyah.[9] Raja-raja bukan satu-satunya pihak yang memberikan persembahan kepada api tersebut; menurut Saddar Bundahesh, dianjurkan bahwa ketika berdoa untuk memulihkan penglihatan seseorang harus bersumpah, "Aku akan membuat mata dari emas dan mengirimkannya kepada Adur Gushnasp" atau, agar seorang anak menjadi cerdas dan bijaksana, mengirimkan hadiah kepada api itu.[9] Kuil api Adur Gushnasp terkenal karena kekayaannya yang sangat besar dalam sumber-sumber Bizantium maupun Islam.[6]
Ghodrat-Dizaji, Mehrdad (2010). "Ādurbādagān during the Late Sasanian Period: A Study in Administrative Geography". Iran: Journal of the British Institute of Persian Studies. 48 (1): 69–80. doi:10.1080/05786967.2010.11864774. S2CID163839498.
Boyce, Mary; Grenet, Frantz (1991). Beck, Roger (ed.). A History of Zoroastrianism, Zoroastrianism under Macedonian and Roman Rule. Leiden: Brill. ISBN978-9004293915.
Ghodrat-Dizaji, Mehrdad (2011). "Disintegration of Sasanian Hegemony over Northern Iran". Iranica Antiqua. 46: 153–302. doi:10.2143/IA.46.0.2084424.