Abutilon grandifolium atau juga disebut dengan hairy indian mallow, adalah spesies tumbuhan berbentuk perdu dari famili Malvaceae (suku kapas-kapasan). Tumbuhan ini berasal dari bioma beriklim subtropis dengan rentang sebaran mulai dari Peru hingga Brasil dan Argentina bagian utara. Nama ilmiah Abutilon grandifolium pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig von Willdenow pada tahun 1826.[1]
Deskripsi
Ia merupakan tumbuhan perdu besar yang tingginya mencapai 3 m (9,8 kaki) dengan helaian daun lebar 3–18 cm (1,2–7,1 inci). Bunganya aksiler, dengan mahkota kuning berdiameter 2–3,5 cm (0,8–1,4 inci), terdiri dari kelopak sepanjang 1–1,5 cm (0,4–0,6 inci). Buahnya berupa skizokarp bulat telur berdiameter 1–1,5 cm (0,4–0,6 inci) dan terdiri dari sepuluh mericarp berparuh pendek, masing-masing berisi 2-3 biji.[2]
A. grandifolium dapat dibedakan dari A. theophrasti berdasarkan rambut-rambut panjang dan sederhana pada batangnya, bukan rambut bintang.
Sebaran dan ekologi
Spesies ini berasal dari Amerika tropis[2] dan Afrika Tengah dan Selatan,[3] tetapi dinaturalisasi di bagian lain dunia, termasuk Kepulauan Canary, Hawaii, dan di seluruh semak belukar dan daerah lempung di Australia. Di Australia Barat, ditemukan di Dataran Pantai Swan.[4] Karena produksi biji yang produktif dan kecenderungan untuk menyebar, A. grandifolium dianggap sebagai spesies invasif di beberapa wilayah tempat ia tumbuh, menjadi gulma bermasalah di zona riparian, padang rumput, dan ekosistem semak belukar tinggi di seluruh dunia. Di Hawaii, dilaporkan memiliki efek merugikan pada Spermolepis hawaiiensis dan Scaevola coriacea, dua spesies tanaman yang terancam punah.[5]
A. grandifolium tumbuh pada ketinggian 500–1400 m, di sepanjang sungai, di tanah terlantar dan sebagai gulma dalam budidaya.[6]
Pemanfaatan
Tumbuhan ini telah digunakan sebagai obat tradisional di Tanzania.[7]A. grandifolium dibudidayakan di daerah tropis sebagai tanaman serat dan tanaman hias. Di Mozambik, misalnya, tanaman ini telah dibudidayakan sebagai tanaman serat potensial. Di Burkina Faso, rebusan batang berdaun atau berbuah digunakan sebagai enema untuk mengobati campak, dan daun serta batangnya digunakan secara internal dan eksternal untuk mengobati gigitan serangga.[6]
Tingkat ancaman
A. grandifolium dianggap sebagai gulma invasif atau berpotensi invasif di Mikronesia, Hawaii, Portugal, Afrika Selatan, dan di beberapa bagian Australia (terutama Queensland tenggara dan New South Wales timur),[5] dan tidak dianggap sebagai spesies yang terancam.[4]