AI slopGambar buatan AI yang termasuk AI slop "Shrimp Jesus" yang viral di Facebook pada 2024
AI slop (atau kebocoran AI; kadang juga disebut slop atau digital slop) adalah konten digital yang berkualitas rendah hingga menengah yang dihasilkan secara massal dan cepat oleh kecerdasan buatan generatif.[1][2] Konten-konten ini dibuat dengan mudah, cepat, dengan sedikit atau tanpa pengawasan manusia, berbiaya rendah, dan mengabaikan akurasi.[1][3][4] Fenomena kebocoran AI ini juga ditandai dengan peningkatan konten visual berkualitas rendah buatan AI di media sosial, termasuk bentuk media sintetis yang umumnya dibuat untuk tujuan monetisasi dalam ekonomi kreator dan pemasaran daring.[2][3]
Terminologi
Seiring dengan produksi massal atas teks dan gambar berkualitas rendah oleh model bahasa besar dan model difusi gambar, para jurnalis dan para pengguna di media sosial mulai membuka diskusi tentang istilah yang tepat untuk merujuk konten-konten berkualitas rendah yang membanjiri internet. Beberapa istilah yang diusulkan termasuk "sampah AI", "polusi AI", dan "sampah yang dihasilkan AI".[5] Penggunaan awal istilah slop muncul pada 2022 sebagai reaksi atas peluncuran generator gambar AI. Penggunaan awalnya telah tercatat di kalangan komentator 4chan, Hacker News, dan YouTube sebagai bentuk slang.[6]
Istilah ini memperoleh peningkatan penggunaan pada kuartal kedua tahun 2024 sebagai reaksi atas penggunaan model AI Gemini dan banyaknya kritik atas konten berkualitas rendah yang menjadi tajuk utama media selama bulan-bulan berikutnya.[7] Pada 2024, kata slop masuk dalam daftar Oxford Word of the Year karena ada peningkatan penggunaan kata sebesar 332% karena merujuk pada konten-konten buatan model bahasa besar yang membanjiri internet dan media sosial.[8]
Penggunaan
Sains
Ilustrasi seekor tikus buatan AI dengan anatomi dan teks yang tidak masuk akal pada sebuah artikel tinjauan sejawat yang kini telah ditarik oleh Frontiers in Cell and Developmental Biology.
Kecerdasan buatan generatif telah digunakan dalam penulisan artikel yang dipublikasikan, baik dalam percetakan berkualitas rendah maupun jurnal terkemuka. Pada 2024, sebuah artikel tinjauan sejawat mengandung ilustrasi seekor tikus dengan kelamin besar yang dihasilkan oleh AI.[9] Ilustrasi tersebut disertai teks dan diagram yang tidak masuk akal. Artikel tersebut pada akhirnya ditarik oleh Frontiers in Cell and Developmental Biology pada Februari 2024 setelah menarik perhatian banyak ilmuwan di media sosial.[10][11]
Bisnis
Sebuah studi yang dilakukan oleh HBR, bekerja sama dengan Universitas Stanford dan BetterUp, menemukan bahwa karyawan yang menggunakan alat AI untuk menghasilkan konten-konten slop yang mudah dan cepat akan menambah beban kerja bagi karyawan lainnya. Dengan kata lain, beban kerja kini dialihkan ke karyawan lainnya sebagai penerima, yang mengharuskan mereka menafsirkan, mengoreksi, atau mengulang pekerjaan tersebut.[2] Dalam jangka waktu penelitian, 40% karyawan yang berpartisipasi sebagai penerima konten slop ini membutuhkan waktu rata-rata dua jam untuk menyelesaikannya.[12] Studi ini menandai penggunaan istilah "workslop" yang berarti konten buatan alat AI generatif yang terlihat bagus, tapi kurang substansi.[12]