Sebagai suatu ikhtiar manusia, rekayasa telah eksis sejak zaman kuno, bermula dari enam pesawat sederhana klasik. Contoh proyek rekayasa berskala besar dari masa lampau meliputi struktur impersif seperti piramida, kuil-kuil elegan seperti Parthenon, dan sarana pengangkut air seperti kapal berlambung, kanal, dan akuaduk Romawi. Mesin-mesin awal ditenagai oleh manusia dan hewan, kemudian oleh angin. Mesin perang diciptakan untuk seni pengepungan. Di Eropa, revolusi ilmiah dan industri memajukan rekayasa menjadi sebuah profesi ilmiah dan menghasilkan peningkatan teknologi yang berkelanjutan. Mesin uap menyediakan daya yang jauh lebih besar daripada hewan, yang berujung pada propulsi mekanis untuk kapal dan kereta api. Kemajuan ilmiah lebih lanjut menghasilkan penerapan rekayasa pada kebutuhan kelistrikan, kimia, dan dirgantara, serta penggunaan material baru untuk efisiensi yang lebih tinggi.
Kata engineering berasal dari bahasa Latiningeniumcode: la is deprecated .[3] Para insinyur umumnya mematuhi kode etik yang mengutamakan kejujuran dan integritas, sembari berdedikasi pada keselamatan dan kesejahteraan publik. Tugas-tugas rekayasa melibatkan penemuan solusi optimal berdasarkan kendala yang ada, dengan pengujian dan simulasi yang dilakukan sebelum produksi. Ketika produk yang disebarkan mengalami kegagalan, rekayasa forensik digunakan untuk menentukan apa yang salah guna menemukan perbaikannya. Sebagian besar manajemen siklus hidup produk ini kini dibantu oleh perangkat lunak komputer, mulai dari perancangan hingga pengujian dan manufaktur. Pada skala yang lebih besar, proses ini biasanya didanai oleh perusahaan, para investor, atau pemerintah, sehingga pengetahuan mengenai ekonomi dan praktik bisnis sangat diperlukan.
Penerapan kreatif dari prinsip-prinsip ilmiah untuk merancang atau mengembangkan struktur, mesin, alat, atau proses manufaktur, maupun karya yang memanfaatkan hal-hal tersebut secara tunggal atau terpadu; atau untuk membangun maupun mengoperasikannya dengan pemahaman penuh terhadap rancangan; atau untuk meramalkan perilakunya di bawah kondisi operasi tertentu—semuanya dengan mempertimbangkan fungsi yang dimaksudkan, aspek ekonomi dari operasi, serta keselamatan bagi jiwa dan harta benda.[5][6]
Rekayasa telah ada sejak zaman purba, ketika manusia mulai menciptakan alat-alat sederhana seperti baji, tuas, roda, dan katrol, serta berbagai penemuan lainnya.
Istilah rekayasa (engineering) berasal dari kata insinyur (engineer), yang jejak penggunaannya dapat ditelusuri hingga abad ke-14, ketika istilah engine’er (secara harfiah berarti “orang yang membangun atau mengoperasikan mesin pengepung”) digunakan untuk menyebut “pembangun mesin-mesin militer”.[7] Dalam konteks yang kini sudah usang tersebut, “mesin” mengacu pada alat mekanis perang, seperti ketapel. Beberapa peninggalan istilah lama ini masih bertahan hingga sekarang, misalnya pada korps teknik militer seperti U.S. Army Corps of Engineers.
Kata “mesin” sendiri memiliki asal-usul yang lebih tua lagi, berasal dari bahasa Latin ingeniumcode: la is deprecated (ca1250), yang bermakna “bakat bawaan, terutama kekuatan akal, dan dengan demikian menunjuk pada penemuan yang cerdas.”[8]
Ketika pembangunan struktur sipil seperti jembatan dan bangunan berkembang menjadi disiplin teknis tersendiri, muncul istilah rekayasa sipil[6] untuk membedakan mereka yang berfokus pada proyek-proyek nonmiliter dari para ahli di bidang rekayasa militer.
Zaman kuno
Bangsa Romawi Kuno membangun saluran air untuk membawa pasokan air bersih dan segar ke kota-kota di seluruh kekaisaran.
Kerajaan Kush mengembangkan sakia pada abad ke-4 SM, yang menggunakan tenaga hewan alih-alih tenaga manusia.[20] Mereka juga mengembangkan hafir sebagai bentuk waduk untuk menampung air dan memperluas sistem irigasi.[21] Para perajut jalan (sapper) digunakan untuk membangun jalan penghubung selama kampanye militer.[22] Nenek moyang bangsa Kush membangun speos pada Zaman Perunggu antara 3700 dan 3250 SM.[23]Tungku peleburan dan tanur tiup juga telah dikembangkan di wilayah Kush pada abad ke-7 SM.[24][25]
Gunting kapas ditemukan di India pada abad ke-6 Masehi,[37] sementara roda pemintal ditemukan di dunia Islam pada awal abad ke-11,[38] keduanya menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri kapas. Roda pemintal juga merupakan pendahulu spinning jenny, sebuah inovasi kunci yang menandai awal Revolusi Industri pada abad ke-18.[39]
Mesin terprogram paling awal juga lahir di dunia Islam. Sebuah music sequencer atau alat musik otomatis yang dapat diprogram merupakan bentuk paling awal dari mesin terprogram. Alat musik otomatis pertama ini adalah pemain seruling mekanis ciptaan tiga bersaudara Banu Musa, yang dijelaskan dalam karya mereka Book of Ingenious Devices pada abad ke-9.[40][41]
Pada tahun 1206, Al-Jazari menciptakan automata atau robot yang dapat diprogram. Ia menggambarkan empat pemusik otomatis, termasuk para penabuh genderang yang dioperasikan melalui mesin drum terprogram, yang dapat diatur untuk memainkan berbagai ritme dan pola tabuhan berbeda.[42]
Sistem pengerek tambang bertenaga air, Jerman, ca1556
Sebelum berkembangnya disiplin rekayasa modern, ilmu matematika telah digunakan oleh para perajin dan teknisi, seperti tukang penggiling, pembuat jam, pembuat instrumen, dan juru ukur. Di luar profesi-profesi tersebut, universitas pada masa itu belum dianggap memiliki peranan praktis yang besar terhadap kemajuan teknologi.[43]:32
Salah satu rujukan klasik yang mendokumentasikan keadaan seni mekanika pada masa Renaisans adalah risalah teknik pertambangan De re metallica (1556), yang juga memuat bahasan mengenai geologi, pertambangan, dan kimia. Karya ini menjadi acuan utama dalam bidang kimia selama hampir 180 tahun berikutnya.[43]
Era Modern
Penerapan mesin uap memungkinkan kokas menggantikan arang dalam pembuatan besi, menurunkan biaya produksi logam tersebut dan memberi para insinyur bahan baru untuk membangun jembatan. Jembatan ini terbuat dari besi tuang, yang kemudian digantikan oleh besi tempa yang kurang rapuh sebagai material struktural.
Ilmu mekanika klasik, yang sering disebut juga mekanika Newtonian, menjadi landasan ilmiah bagi sebagian besar bidang rekayasa modern.[43] Seiring dengan munculnya rekayasa sebagai sebuah profesi pada abad ke-18, istilah ini mulai digunakan secara lebih sempit untuk menyebut bidang-bidang yang menerapkan matematika dan ilmu pengetahuan dalam praktik. Sejalan dengan itu, selain rekayasa sipil dan militer, bidang yang dikenal sebagai seni mekanik pun mulai tergabung dalam disiplin rekayasa.
Pembangunan kanal merupakan salah satu proyek rekayasa penting pada masa-masa awal Revolusi Industri.[44]
John Smeaton adalah orang pertama yang menyebut dirinya sebagai insinyur sipil dan sering dianggap sebagai “bapak” rekayasa sipil. Ia adalah seorang insinyur Inggris yang merancang jembatan, kanal, pelabuhan, dan mercusuar. Selain itu, Smeaton juga dikenal sebagai insinyur mekanik ulung dan fisikawan terkemuka. Dengan menggunakan model kincir air, ia melakukan eksperimen selama tujuh tahun untuk menemukan cara meningkatkan efisiensi energi.[45]:127 Smeaton memperkenalkan poros dan roda gigi besi pada kincir air,[43]:69 serta melakukan perbaikan mekanik pada mesin uap Newcomen. Ia juga merancang Mercusuar Eddystone ketiga (1755–59), di mana ia memelopori penggunaan ‘kapur hidrolik’ (sejenis mortar yang dapat mengeras di bawah air) dan mengembangkan teknik penyusunan balok granit dengan sistem sambungan “ekor burung”. Kontribusinya sangat penting dalam penemuan kembali dan pengembangan semen modern, sebab ia berhasil mengidentifikasi komposisi yang diperlukan untuk menghasilkan sifat “hidrolik” pada kapur—temuan yang pada akhirnya mengarah pada penemuan semen Portland.
Perkembangan ilmu terapan membawa pada lahirnya mesin uap. Rangkaian peristiwa ini dimulai dengan penemuan barometer dan pengukuran tekanan atmosfer oleh Evangelista Torricelli pada tahun 1643, disusul oleh demonstrasi kekuatan tekanan udara oleh Otto von Guericke dengan belahan Magdeburg pada 1656. Eksperimen laboratorium yang dilakukan oleh Denis Papin, yang membangun model awal mesin uap dan memperkenalkan penggunaan piston, dipublikasikan pada 1707. Edward Somerset, 2nd Marquess of Worcester menerbitkan sebuah buku berisi 100 penemuan, termasuk metode menaikkan air yang mirip dengan penyeduh kopi. Samuel Morland, seorang matematikawan dan penemu yang bekerja pada pompa, meninggalkan catatan tentang rancangan pompa uap di kantor senjata Vauxhall, yang kemudian dibaca oleh Thomas Savery. Pada 1698 Savery membangun pompa uap bernama “The Miner’s Friend” yang memanfaatkan sistem tekanan dan vakum.[46]Thomas Newcomen, seorang pedagang besi yang membangun mesin uap piston komersial pertama pada 1712, diketahui tidak memiliki pelatihan ilmiah formal.[45]:32
Penggunaan silinder tiup besi tuang bertenaga uap untuk memasok udara bertekanan pada tungku tiup menghasilkan peningkatan besar dalam produksi besi pada akhir abad ke-18. Suhu tungku yang lebih tinggi memungkinkan penggunaan lebih banyak kapur dalam proses peleburan, yang pada gilirannya memungkinkan peralihan dari arang ke kokas.[47] Inovasi-inovasi ini menurunkan biaya produksi besi, membuat pembangunan jalur kereta kuda dan jembatan besi menjadi lebih terjangkau. Proses puddling yang dipatenkan oleh Henry Cort pada 1784 memungkinkan produksi massal besi tempa, sementara teknologi hot blast yang dipatenkan oleh James Beaumont Neilson pada 1828 secara drastis mengurangi kebutuhan bahan bakar dalam peleburan besi. Perkembangan mesin uap bertekanan tinggi kemudian memungkinkan terciptanya kapal uap dan lokomotif yang lebih efisien.[48] Proses pembuatan baja baru, seperti proses Bessemer dan tungku open hearth, membuka era rekayasa berat pada akhir abad ke-19.
Salah satu insinyur paling terkenal di pertengahan abad ke-19 adalah Isambard Kingdom Brunel, yang membangun jaringan kereta api, galangan kapal, dan kapal uap.
Revolusi Industri menciptakan kebutuhan besar akan mesin dengan komponen logam, yang mendorong pengembangan berbagai perkakas mesin. Pengeboran silinder besi tuang dengan presisi tinggi baru dimungkinkan setelah John Wilkinson menemukan mesin bor—yang dianggap sebagai perkakas mesin pertama.[49] Alat-alat lain seperti bubut pemotong ulir, mesin frais, turret lathe, dan planer logam pun menyusul ditemukan. Teknik pemesinan presisi berkembang pada paruh pertama abad ke-19, termasuk penggunaan jig sebagai pemandu alat pemotong dan fixture untuk menahan benda kerja agar tetap pada posisi yang benar. Perkakas mesin dan teknik pemesinan yang mampu menghasilkan komponen yang dapat dipertukarkan membuka jalan bagi produksi massal di pabrik-pabrik besar pada akhir abad ke-19.[50]
Sensus Amerika Serikat tahun 1850 mencatat istilah “insinyur” untuk pertama kalinya dengan jumlah 2.000 orang.[51] Sebelum 1865, hanya ada kurang dari 50 lulusan teknik di Amerika Serikat. Gelar PhD pertama dalam bidang rekayasa (secara resmi “ilmu terapan dan teknik”) diberikan kepada Josiah Willard Gibbs di Universitas Yale pada 1863, yang juga merupakan gelar PhD kedua dalam bidang sains di negara tersebut.[52] Pada 1870 hanya ada sekitar selusin lulusan teknik mesin per tahun di Amerika Serikat, meningkat menjadi 43 pada 1875. Menjelang 1890, terdapat 6.000 insinyur yang bergerak di bidang sipil, pertambangan, mesin, dan listrik.[48] Kursi akademik untuk mekanika terapan baru dibuka di Cambridge pada 1875, dan kursi pertama untuk rekayasa di Oxford baru muncul pada 1907. Jerman, sebaliknya, telah lebih dahulu mendirikan universitas teknis.[53]
Dasar-dasar rekayasa listrik pada abad ke-19 mencakup eksperimen oleh Alessandro Volta, Michael Faraday, Georg Ohm, serta penemuan telegraf listrik pada 1816 dan motor listrik pada 1872. Karya teoretis James Maxwell (lihat: Persamaan Maxwell) dan Heinrich Hertz pada akhir abad ke-19 melahirkan bidang elektronika. Penemuan tabung hampa dan transistor kemudian mempercepat perkembangan elektronika sedemikian rupa hingga kini jumlah insinyur listrik dan elektronika melampaui cabang rekayasa lainnya.[6] Bidang rekayasa kimia muncul pada akhir abad ke-19.[6] Produksi industri berskala besar menuntut bahan dan proses baru, dan sekitar tahun 1880 kebutuhan akan produksi kimia massal melahirkan industri baru yang berfokus pada perancangan pabrik serta proses kimia berskala besar.[6] Peran insinyur kimia adalah merancang pabrik dan proses tersebut.[6] Bidang ilmu material sendiri berasal dari pembuatan keramik dan metalurgi, menjadikannya salah satu bentuk rekayasa tertua.[54] Ilmu material modern berkembang langsung dari metalurgi, yang berakar pada penggunaan api. Unsur-unsur penting dalam ilmu material modern banyak dihasilkan melalui perlombaan antariksa, seperti rekayasa paduan logam, silika, dan karbon untuk membangun kendaraan luar angkasa. Ilmu material menjadi penggerak, sekaligus terdorong oleh, perkembangan teknologi revolusioner seperti karet, plastik, semikonduktor, dan biomaterial.
Rekayasa aeronautika berfokus pada proses perancangan pesawat, sedangkan rekayasa dirgantara merupakan istilah yang lebih modern yang mencakup juga perancangan wahana antariksa. Akar keilmuannya dapat ditelusuri hingga para pelopor penerbangan pada awal abad ke-20, meski karya Sir George Cayley kini diketahui telah muncul sejak akhir abad ke-18. Pengetahuan awal dalam bidang aeronautika masih bersifat empiris, dengan banyak konsep dan keterampilan yang diadaptasi dari cabang rekayasa lain.[55] Hanya satu dekade setelah keberhasilan penerbangan Wright bersaudara, rekayasa aeronautika berkembang pesat melalui pengembangan pesawat militer yang digunakan dalam Perang Dunia I. Sementara itu, penelitian ilmiah untuk memperkuat dasar teoretis bidang ini terus berlanjut dengan memadukan fisika teoretis dan eksperimen.
Rekayasa merupakan disiplin ilmu yang sangat luas dan kerap dibagi ke dalam berbagai subdisiplin. Meskipun sebagian besar insinyur biasanya dididik dalam bidang tertentu, banyak pula yang kemudian menjadi multidisipliner melalui pengalaman praktik. Secara umum, rekayasa sering diklasifikasikan menjadi lima cabang utama:[56][57][58] yakni rekayasa kimia, rekayasa sipil, rekayasa listrik, rekayasa material, dan rekayasa mesin.
Berikut ini adalah daftar cabang-cabang rekayasa yang diakui secara umum. Selain itu, terdapat pula berbagai subdisiplin yang lebih khusus.
Jenis Rekayasa
Keterangan
Rekayasa Dirgantara
Rekayasa dirgantara mencakup perancangan, pengembangan, manufaktur, dan pengoperasian pesawat terbang, satelit, serta roket.
Rekayasa Pertanian
Rekayasa pertanian memanfaatkan tenaga dan mesin pertanian, proses material hayati, bioenergi, bangunan pertanian, serta sumber daya alam untuk pertanian.
Rekayasa Biologis
Rekayasa biologis mempelajari penerapan prinsip-prinsip biologi dan alat-alat rekayasa untuk menciptakan produk yang bermanfaat, nyata, dan bernilai ekonomi.
Rekayasa Biomedis
Rekayasa biomedis adalah penerapan prinsip dan konsep desain rekayasa pada bidang kedokteran dan biologi untuk keperluan kesehatan (misalnya untuk diagnosis atau terapi).
Rekayasa Kimia
Rekayasa kimia merupakan penerapan ilmu kimia, fisika, dan biologi untuk mengembangkan solusi teknologi dari bahan mentah atau senyawa kimia.
Rekayasa Sipil
Rekayasa sipil berfokus pada perancangan dan pembangunan sarana publik maupun privat, seperti infrastruktur (bandara, jalan raya, rel kereta, pasokan dan pengolahan air, dan sebagainya), jembatan, terowongan, bendungan, dan bangunan.
Rekayasa Komputer
Rekayasa komputer mengintegrasikan berbagai bidang ilmu komputer dan rekayasa elektronika yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat keras dan lunak komputer.
Rekayasa Listrik
Rekayasa listrik menitikberatkan pada perancangan, pengembangan, dan penerapan sistem serta peralatan yang memanfaatkan listrik dan elektromagnetisme.
Rekayasa Lingkungan
Rekayasa lingkungan merupakan bidang khusus yang menggunakan prinsip ilmiah dan teknik untuk melindungi serta memperbaiki lingkungan demi kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Rekayasa Geologi
Rekayasa geologi berkaitan dengan segala hal yang dibangun di atas atau di dalam bumi, dengan menerapkan ilmu geologi dan prinsip-prinsip rekayasa untuk mendukung atau mengarahkan pekerjaan disiplin lain.
Rekayasa Industri
Rekayasa industri berfokus pada optimalisasi proses, sistem, dan organisasi yang kompleks dengan meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta mutu.
Rekayasa Kelautan
Rekayasa kelautan mencakup perancangan, pengembangan, pembuatan, serta pengoperasian kapal dan struktur tetap seperti anjungan minyak serta pelabuhan.
Rekayasa Material
Rekayasa material adalah penerapan ilmu material dan prinsip rekayasa untuk memahami sifat-sifat material serta mengembangkan penggunaannya dalam teknologi.
Rekayasa Mesin
Rekayasa mesin meliputi perancangan dan analisis energi panas serta tenaga mekanik untuk pengoperasian mesin dan sistem mekanis.
Rekayasa Nuklir
Rekayasa nuklir merupakan bidang multidisipliner yang berhubungan dengan perancangan, konstruksi, pengoperasian, dan keselamatan sistem yang memanfaatkan energi dan radiasi nuklir.
Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa perangkat lunak adalah cabang dari ilmu komputer dan rekayasa yang berfokus pada perancangan, pengembangan, pengujian, dan pemeliharaan aplikasi perangkat lunak. Bidang ini berbeda dengan rekayasa komputer.
Referensi
↑Hammack, William; Anderson, John (February 16, 2022). "Working in the Penumbra of Understanding"[Bekerja di Penumbra Pemahaman]. Issues in Science and Technology. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine dan Arizona State University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 3, 2023. Diakses tanggal August 3, 2023. Metode yang digunakan insinyur untuk menciptakan artefak dan sistem—mulai dari telepon seluler, komputer dan ponsel pintar, dan GPS hingga kendali jarak jauh, pesawat terbang, serta material dan perangkat biomimetik—bukanlah metode yang sama dengan yang digunakan ilmuwan dalam pekerjaan mereka. Metode ilmiah memiliki proses yang ditentukan: nyatakan pertanyaan, amati, nyatakan hipotesis, uji, analisis, dan interpretasikan. Metode ini tidak tahu apa yang akan ditemukan, kebenaran apa yang akan terungkap. Sebaliknya, metode rekayasa bertujuan untuk tujuan tertentu dan tidak dapat direduksi menjadi serangkaian langkah tetap yang harus diikuti.
↑definisi "rekayasa" dari: "English Dictionary". Cambridge Academic Content Dictionary. Cambridge University. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-02-16. Diakses tanggal 2021-02-16.
↑Asal: 1250–1300; ME engin < AF, OF < L ingenium (sifat alami, bakat bawaan, terutama kekuatan intelektual, sehingga berarti penemuan cerdas); sumber: Random House Unabridged Dictionary, Random House, Inc., 2006.
↑Moorey, Peter Roger Stuart (1999). Ancient Mesopotamian Materials and Industries: The Archaeological Evidence. Eisenbrauns. ISBN978-1-57506-042-2.
↑D.T. Potts (2012). A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. hlm.285.
12Paipetis, S. A.; Ceccarelli, Marco (2010). The Genius of Archimedes – 23 Centuries of Influence on Mathematics, Science and Engineering: Proceedings of an International Conference held at Syracuse, Italy, June 8–10, 2010. Springer Science & Business Media. hlm.416. ISBN978-90-481-9091-1.
12Moorey, Peter Roger Stuart (1999). Ancient Mesopotamian Materials and Industries: The Archaeological Evidence. Eisenbrauns. hlm.4. ISBN978-1-57506-042-2.
↑G. Mokhtar (1981). Ancient Civilizations of Africa. Unesco. International Scientific Committee for the Drafting of a General History of Africa. hlm.309. ISBN978-0-435-94805-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Mei 2022. Diakses tanggal 19 Juni 2012– via Books.google.com.
↑"The Antikythera Mechanism Research ProjectDiarsipkan 28 April 2008 di Wayback Machine.", The Antikythera Mechanism Research Project. Diakses 1 Juli 2007. Kutipan: “Mekanisme Antikythera kini dipahami sebagai perangkat mekanis kompleks yang didedikasikan untuk fenomena astronomi dan berfungsi sebagai ‘komputer’ yang melacak siklus Tata Surya.”
↑Tylecote, R.F. (1992). A History of Metallurgy, Second Edition. London: Maney Publishing, for the Institute of Materials. ISBN978-0-901462-88-6.
12Hunter, Louis C. (1985). A History of Industrial Power in the United States, 1730–1930, Vol. 2: Steam Power. Charlottesville: University Press of Virginia.
↑Hounshell, David A. (1984), From the American System to Mass Production, 1800-1932: The Development of Manufacturing Technology in the United States, Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, ISBN978-0-8018-2975-8, LCCN83016269
↑Defonseka, Chris (2020). Polymer Fillers and Stiffening Agents: Applications and Non-traditional Alternatives (dalam bahasa Inggris). Berlin: Walter de Gruyter GmbH & Co KG. hlm.31. ISBN978-3-11-066999-2.
↑The Engineering Profession oleh Sir James Hamilton, UK Engineering Council. Kutipan: “Gelar Civilingenior mencakup cabang utama rekayasa: sipil, mekanik, listrik, dan kimia.” (Dari Internet Archive)
↑Indu Ramchandani (2000). Student's Britannica India,7vol.Set. Popular Prakashan. hlm.146. ISBN978-0-85229-761-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 5, 2013. Diakses tanggal March 23, 2013. Cabang: Secara tradisional terdapat empat disiplin utama rekayasa: teknik sipil, mekanik, listrik, dan kimia.