×

Penyintas Banjir Aceh Tengah & Pidie Jaya Rayakan Idulfitri Sambil Serukan Penjagaan Lingkungan

Sekolapedia – 28 Maret 2026 | Pada pekan terakhir menjelang Idulfitri 2026, ribuan penyintas banjir di Aceh Tengah, khususnya di Aceh Timur, serta warga korban bencana hidrometeorologi di Pidie Jaya, menandai hari raya dengan keprihatinan mendalam. Di tengah kebahagiaan merayakan kemenangan setelah sebulan puasa, mereka mengangkat suara seruan: “Tolong jaga alam, jangan asal babat”.

Kondisi Pengungsi di Aceh Timur

Masih tercatat sebanyak 1.259 jiwa dari 373 kepala keluarga yang mengungsi di dua kecamatan—Pante Bidari dan Serbajadi—Kabupaten Aceh Timur. Pengungsi tersebar di sembilan desa dan 13 titik penampungan, termasuk tenda, gedung kantor desa, serta beberapa sekolah yang dipakai sementara.

Data terperinci menunjukkan distribusi pengungsi: di Kecamatan Pante Bidari, Desa Sah Raja menampung 152 jiwa, Desa Sijudo 51 jiwa, Desa Pante Panah empat jiwa, Desa Blang Seunong 360 jiwa, dan Desa Pante Labu 68 jiwa. Sementara di Kecamatan Serbajadi, Desa Lokop menampung 20 jiwa, Desa Sunti 256 jiwa, Desa Umah Taring 50 jiwa, dan Desa Ujong Karang 52 jiwa.

Kerusakan rumah mencapai 25.918 unit, dengan 16.590 unit rusak ringan, 5.484 unit rusak sedang, dan 3.844 unit rusak berat. Verifikasi BNPB mencatat 7.293 unit, namun data masih diperdebatkan oleh masyarakat setempat.

Baca juga:
5 Selat Legendaris di Solo yang Wajib Dicoba saat Lebaran 2026

Pidie Jaya: Dari Tenda ke Huntara

Di Kabupaten Pidie Jaya, khususnya Gampong Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, 43 keluarga korban bencana pada akhir 2025 kini telah dipindahkan ke hunian sementara (huntara). Sebelumnya, 91 keluarga mengalami kerusakan rumah berat dan mengungsi; 48 keluarga memilih dana tunggu hunian sebesar Rp1,6 juta per tiga bulan, sementara sisanya menempati huntara yang tersebar di tiga titik, termasuk kompleks terminal.

Meski hunian sementara telah disediakan, beberapa fasilitas masih kurang. Beberapa unit belum dilengkapi kipas angin, dan instalasi air belum terhubung secara menyeluruh. Keluarga penyintas juga mengajukan permohonan kasur tambahan untuk anak-anak yang kekurangan tempat tidur.

Idulfitri di Tengah Penantian

Hari raya Idulfitri tahun ini menjadi momen refleksi bagi para penyintas. Di tenda‑tenda dan ruang kelas yang dijadikan tempat tinggal sementara, mereka tetap menyiapkan ketupat, membuka lemparan doa, dan menyambut kemenangan setelah sebulan menahan diri. Namun, perayaan berlangsung dengan nuansa keprihatinan, mengingat banyak keluarga masih menunggu kepastian perbaikan rumah dan penyediaan fasilitas dasar.

“Kami tetap bersyukur karena selamat dari bencana, tetapi kami berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat tidak melupakan kebutuhan mendesak kami,” ujar seorang kepala keluarga di Desa Blang Seunong, Aceh Timur. Di Pidie Jaya, Usman, kepala desa Gampong Geunteng, menambahkan, “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan huntara, tetapi masih banyak yang belum lengkap. Air bersih dan pendingin ruangan sangat dibutuhkan, terutama menjelang musim hujan berikutnya.”

Baca juga:
OJK Ungkap Dampak Ketegangan Geopolitik pada Industri Asuransi: Tantangan Besar dan Prospek 2026

Seruan Lingkungan

Selama pertemuan Idulfitri bersama, para penyintas mengangkat isu lingkungan. “Jangan asal babat,” menjadi slogan yang ditekankan, mengingat banjir yang melanda wilayah tersebut dipicu oleh curah hujan ekstrem dan degradasi lahan. Para tokoh masyarakat menyerukan penegakan aturan penebangan liar, rehabilitasi hutan, dan pembangunan infrastruktur penahan banjir yang lebih baik.

Para relawan dan LSM yang terlibat dalam penanggulangan bencana menegaskan pentingnya pendekatan berkelanjutan. “Penanggulangan tidak hanya soal memberi bantuan sementara, melainkan menciptakan ketahanan jangka panjang dengan melindungi ekosistem,” kata salah satu koordinator lapangan.

Dengan Idulfitri yang menjadi latar belakang, harapan warga tetap kuat. Mereka menantikan pemulihan total, perbaikan rumah, dan layanan dasar yang memadai, sekaligus berharap pemerintah mempercepat program rehabilitasi lingkungan untuk mencegah bencana serupa di masa depan.

Semangat Idulfitri yang mengajarkan kepedulian, pengampunan, dan kebersamaan kini menjadi landasan bagi penyintas banjir Aceh Tengah dan Pidie Jaya untuk terus berjuang, memperbaiki kehidupan, dan menjaga alam demi generasi yang akan datang.

Baca juga:
Geger! Bayi Perempuan Ditemukan dalam Tas di Teras Rumah Pasutri Belum Punya Anak di Kudus

Post Comment