Sekolapedia – 27 Maret 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) – forum perdamaian internasional yang dibentuk pada era pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump – akan terus dievaluasi secara ketat. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada KTT BoP di Washington DC, 19 Februari 2026, Prabowo menambahkan bahwa Indonesia siap mundur bila keanggotaan tersebut tidak memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional maupun bagi rakyat Palestina.
Latarlatar Keanggotaan Indonesia di Board of Peace
Indonesia bergabung dengan BoP pada awal 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat peran negara menengah (middle power) dalam menstabilkan kawasan Asia Barat. Keputusan itu dipandang oleh sebagian kalangan sebagai langkah proaktif untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus mendukung upaya rekonstruksi Gaza melalui International Stabilization Force (ISF). Namun, keanggotaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kedaulatan dan independensi kebijakan luar negeri Indonesia, mengingat BoP banyak dipengaruhi oleh kepentingan strategis Washington.
Tekanan Domestik dan Kritik Mahfud MD
Di dalam negeri, tekanan semakin menguat. Mantan Menko Polhukam sekaligus calon Wakil Presiden pada Pilpres 2024, Mahfud MD, mengemukakan bahwa penarikan diri dari BoP tidak akan menimbulkan kerugian signifikan bagi Indonesia. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut dapat diambil dengan mudah selama pemerintah tidak “disandera” oleh kepentingan asing. Pernyataan Mahfud MD menjadi salah satu faktor yang mendorong Prabowo untuk meninjau kembali kebijakan tersebut.
Strategi Indonesia: Netralitas atau Keterlibatan Aktif?
Sejak bergabung, Indonesia berupaya menjaga netralitas dengan menawarkan diri sebagai fasilitator dialog antara pihak‑pihak yang terlibat. Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyambut baik tawaran tersebut, meski belum ada langkah konkret. Duta Besar Iran menekankan bahwa Indonesia dan Iran, keduanya merupakan kekuatan menengah, dapat berkontribusi pada perdamaian regional.
Selain Iran, Indonesia juga meningkatkan hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, memperluas jaringan diplomatik di Timur Tengah. Upaya ini mencerminkan keinginan Jakarta untuk menjadi jembatan dialog, bukan sekadar pelaku pasif dalam konflik yang melibatkan AS‑Israel dan Iran.
Ketentuan Prabowo: Manfaat untuk Palestina dan RI sebagai Ukuran Utama
Prabowo menegaskan tiga kondisi utama yang menjadi tolok ukur keberlanjutan keanggotaan Indonesia di BoP:
- Jika keanggotaan tidak memberikan kontribusi nyata bagi rekonstruksi dan stabilisasi jangka panjang Gaza, Indonesia akan mempertimbangkan penarikan diri.
- Jika partisipasi dalam BoP tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri bebas‑aktif Indonesia, maka keluar menjadi pilihan logis.
- Jika keanggotaan tidak menghasilkan manfaat ekonomi, politik, atau keamanan bagi kepentingan nasional, pemerintah siap mengakhiri partisipasi.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Jakarta untuk menempatkan kepentingan rakyat dan solidaritas internasional di atas kepentingan geopolitik luar negeri.
Implikasi Penarikan Diri bagi Kebijakan Luar Negeri
Jika Indonesia memutuskan untuk mundur, beberapa implikasi dapat muncul:
- Reputasi sebagai mediator: Penarikan dapat menurunkan posisi Indonesia sebagai jembatan dialog di Timur Tengah.
- Hubungan dengan Amerika Serikat: Meskipun hubungan bilateral tetap kuat dalam bidang perdagangan, keputusan ini dapat menimbulkan ketegangan diplomatik jangka pendek.
- Dampak regional: Negara‑negara lain di Asia Tenggara yang mengamati langkah Indonesia dapat menilai kembali partisipasi mereka dalam forum serupa.
Namun, Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak “disandera” oleh kepentingan asing dan memiliki ruang manuver untuk menentukan arah kebijakan luar negeri yang independen.
Kesimpulan
Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace berada di persimpangan antara harapan internasional untuk peran mediasi dan tuntutan domestik untuk menjaga kedaulatan serta manfaat nyata bagi rakyat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa keputusan akhir akan didasarkan pada apakah keanggotaan tersebut menguntungkan Indonesia dan Palestina. Bila tidak, Indonesia siap menarik diri, mempertegas komitmen negara terhadap prinsip bebas‑aktif dan kepentingan nasional. Keputusan ini akan menjadi tolok ukur penting bagi kebijakan luar negeri Indonesia di era geopolitik yang semakin kompleks.



Post Comment