Doa Abdi Dalem Mengiringi Grebeg Pasa, Tradisi Syukur Keraton Surakarta yang Memukau Warga

Doa Abdi Dalem Mengiringi Grebeg Pasa, Tradisi Syukur Keraton Surakarta yang Memukau Warga

Sekolapedia – 23 Maret 2026 | Keraton Surakarta menggelar Gregreb Pasa pada Minggu (22/3/2026) di halaman Masjid Agung Solo, memperlihatkan serangkaian ritual yang sarat makna keagamaan dan kebudayaan. Upacara dimulai dengan barisan prajurit Keraton, dilanjutkan dengan prosesi dua gunungan – satu untuk jalu (laki‑laki) dan satu untuk estri (perempuan) – yang kemudian dibagi kepada warga yang menanti sejak pagi.

Tradisi Grebeg Pasa di Keraton Surakarta

Grebeg Pasa merupakan bagian dari rangkaian Grebeg yang meliputi Grebeg Mulud dan Grebeg Besar. Secara historis, acara ini dipersembahkan sebagai rasa syukur Raja dan Keraton atas terselenggaranya ibadah puasa selama sebulan penuh. Pihak Paku Buwono XIV Purbaya menegaskan bahwa Grebeg Pasa meneguhkan nilai-nilai sosial‑ekonomi dalam masyarakat Jawa, sekaligus menjadi sarana solidaritas melalui sedekah.

Makna Simbolik Gunungan Jalu dan Estri

Menurut Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Muhtarom, kedua gunungan mengandung simbol peran gender dalam rumah tangga. Gunungan Jalu berisi bahan mentah seperti polo kapendem, polo kasampar, dan polo kagantung yang melambangkan tanggung jawab laki‑laki sebagai pencari nafkah. Sementara gunungan Estri berisi makanan siap saji, menandakan peran istri sebagai manajer rumah tangga yang mengolah hasil kerja suami menjadi konsumsi keluarga.

  • Gunungan Jalu: polo kapendem, polo kasampar, polo kagantung
  • Gunungan Estri: sayur, telur, kacang panjang, dan hidangan siap saji lainnya

Di samping itu, terdapat judang‑judang berisi makanan lain yang dipandang sebagai bentuk sedekah untuk menolak bala (As‑sodaqotu daf'ul bala).

Doa Abdi Dalem dan Harapan Warga

Sebelum gunungan dibagikan, Abdi Dalem – pelayan istana yang bertanggung jawab atas ritual doa – memimpin pembacaan doa khusus. Doa tersebut memohon keberkahan atas makanan yang akan dibagi, serta keselamatan bagi seluruh peserta. Dina Oktavia, 28 tahun, yang telah rutin hadir setiap tahun, menyatakan keyakinannya bahwa doa Abdi Dalem menambah nilai spiritual pada makanan yang diterimanya. “Nanti biar bisa dapat berkahnya, kan tadi sudah doain sama Abdi Dalem,” ujarnya sambil mengangkat telur dan kacang panjang yang ia dapatkan.

🔖 Baca juga:
Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Selatan Jawa: Warga Jogja Merasakan Getaran, BMKG Pastikan Tak Ada Tsunami

Warga lain yang menunggu sejak pukul 09.30 WIB menunggu dengan harap‑harapan serupa. Ketika prosesi gunungan dimulai sekitar pukul 10.38 WIB, kerumunan segera berebut, menandakan antusiasme tinggi terhadap tradisi yang dianggap membawa keberuntungan dan kesejahteraan.

Esensi Sedekah dan Penolakan Bala

Takmir Masjid Agung menekankan bahwa inti Grebeg Pasa adalah sedekah. Dengan menyalurkan makanan kepada masyarakat, keraton berupaya menolak segala bentuk bencana. “Sedekah itu bisa menolak bala. Ketika kita banyak sedekah, insyaallah kita akan dijauhkan dari marabahaya,” kata Muhtarom.

Secara keseluruhan, Grebeg Pasa tidak hanya menjadi ajang kuliner, melainkan juga sarana memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan spiritualitas yang telah menjadi ciri khas budaya Jawa.

Dengan doa Abdi Dalem sebagai pengiring, tradisi Grebeg Pasa terus hidup, menyalurkan berkah kepada warga dan meneguhkan peran Keraton Surakarta sebagai penjaga warisan budaya yang relevan hingga kini.

Post Comment