×

Meninggalnya Ali Larijani: Dampak Geopolitik dan Reaksi Dunia

Meninggalnya Ali Larijani: Dampak Geopolitik dan Reaksi Dunia

Sekolapedia – 20 Maret 2026 | Ali Larijani, tokoh senior keamanan nasional Iran yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh koalisi Amerika Serikat‑Israel pada 17 Maret 2026. Kematian Larijani menimbulkan gelombang reaksi diplomatik dari negara‑negara besar, sekaligus memperdalam ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Latar Belakang Ali Larijani

Larijani, berusia 67 tahun, dikenal sebagai penasihat dekat Ayatollah Ali Khamenei dan figur kunci dalam strategi pertahanan Iran. Selama lebih dari satu dekade, ia berperan dalam mengoordinasikan kebijakan keamanan, termasuk program nuklir dan hubungan militer dengan sekutu regional. Kepiawaiannya dalam menjalin aliansi strategis menjadikan ia “wajah publik” rezim Tehran dalam banyak forum internasional.

Insiden Kematian

Pada saat mengunjungi putrinya di pinggiran timur Kota Teheran, Larijani menjadi target serangan udara yang diluncurkan oleh pasukan Amerika Serikat‑Israel. Menurut laporan resmi Iran, serangan itu menewaskan Larijani dan beberapa anggota pengawalannya. Pemerintah Iran menyebut peristiwa itu sebagai pembunuhan terencana yang melanggar hukum internasional.

Reaksi Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa resmi kepada Ayatollah Khamenei melalui siaran IRIB. Dalam pesannya, Putin menekankan persahabatan lama antara Moskow dan Tehran, menyebut Larijani sebagai “sahabat sejati Rusia” yang berkontribusi pada pengembangan kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara. Rusia mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyerukan penghentian aksi militer di wilayah tersebut.

🔖 Baca juga:
Baterai 5 Menit BYD Goyang Pasar Global, Dealer Diserbu Konsumen, dan Dampaknya pada Industri Otomotif

Reaksi China

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa pembunuhan para pemimpin Iran adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Beijing menegaskan penolakannya terhadap penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, sekaligus mengkritik Iran karena mendukung operasi militer AS di Teluk. China juga menambahkan bahwa ia terus berupaya menengahi konflik melalui utusan khusus Timur Tengah, Zhai Jun, yang telah bertemu dengan pejabat tinggi di kawasan selama bulan ini.

Implikasi bagi Hubungan Iran‑Israel

Kematian Larijani diprediksi akan memperpanjang konflik bersenjata antara Iran dan Israel. Sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan mendalam tentang strategi pertahanan Iran, kepergiannya dapat memicu pergeseran taktis dalam operasi militer Tehran. Analis menilai bahwa Israel mungkin akan menghadapi respons keras dari militer Iran, sementara Amerika Serikat dapat meningkatkan tekanan diplomatik untuk mengekang eskalasi lebih lanjut.

Analisis Dampak Regional

  • Penguatan aliansi Rusia‑China‑Iran: Kedua negara besar menyatakan dukungan politik, yang dapat mempererat kerjasama militer dan ekonomi di antara mereka.
  • Ketegangan di Teluk: Iran diperkirakan akan meningkatkan aktivitas militer di Selat Hormoz, menambah risiko konfrontasi dengan kapal-kapal militer AS.
  • Pengaruh pada negosiasi nuklir: Kehilangan Larijani, yang berperan dalam diplomasi nuklir, dapat menurunkan fleksibilitas Tehran dalam negosiasi dengan pihak internasional.

Secara keseluruhan, peristiwa ini menandai titik kritis dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Reaksi tegas Rusia dan China menunjukkan adanya blok geopolitik yang bersedia melawan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sementara Iran harus menyesuaikan strategi pertahanan tanpa salah satu arsitek utamanya. Ke depan, dunia akan mengamati apakah tekanan internasional akan memaksa pihak‑pihak terkait kembali ke meja perundingan atau malah memicu konflik berskala lebih luas.

Post Comment