×

Tragedi Duka di Sungai Cangkringan: Dua Bocah Terjun Arus, Satu Meninggal Dunia

Daftar Isi

Sekolapedia – 18 Maret 2026 | Rabu, 18 Maret 2026, warga Dusun Kawedegan, Desa Sekar Putih, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk dikejutkan oleh sebuah tragedi yang menimpa dua anak balita. Sekitar pukul 09.00 WIB, kedua anak tersebut bermain di sungai belakang dusun ketika arus tiba‑tiba menguat dan membuat mereka hanyut. Upaya penyelamatan berlangsung intens, namun satu di antara mereka, Mochamad Kenzo Ardana Cannavaro, 5 tahun, ditemukan dalam kondisi meninggal. Sementara Muhammad Akmal Muzakki, 3,5 tahun, berhasil selamat dengan luka ringan.

Kronologi Kejadian

Menurut saksi mata, kedua anak bermain bersama di tepi sungai Cangkringan, sebuah aliran kecil yang biasanya dijadikan tempat bermain anak‑anak. Pada saat itu, curah hujan semalam meningkatkan volume air sehingga kecepatan aliran menjadi lebih deras. Pada pukul 09.00 WIB, Akmal berteriak meminta bantuan saat ia terhuyung dan terseret arus. Warga yang berada di sekitar segera berlari ke lokasi, namun arus sungai yang kuat menyulitkan upaya penangkapan.

Arus membawa Ardana lebih jauh, kira‑kira satu kilometer dari titik tenggelam. Ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa oleh tim relawan bersama tim SAR Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk. Jenazahnya kemudian dievakuasi ke tepi sungai dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat untuk proses otopsi.

Respon Penyelamat

Segera setelah laporan masuk, Polsek Bagor mengerahkan Bhabinkamtibmas Brigpol Koni beserta beberapa petugas untuk mengamankan lokasi. Tim SAR BPBD, didukung oleh beberapa anggota TNI dan kepolisian, melakukan operasi penelusuran menggunakan perahu karet dan jala. Upaya penyelamatan berlangsung selama lebih dari satu jam, namun kondisi Ardana sudah tidak dapat diselamatkan.

🔖 Baca juga:
Colleagues Mourn Katherine Short, a “Beacon of Hope” in the L.A. Social Work Community

Akmal yang selamat dibawa ke RSUD Nganjuk untuk perawatan luka ringan dan pemeriksaan lanjutan. Dokter setempat menyatakan bahwa ia mengalami hipotermia ringan dan memerlukan observasi selama 24 jam.

Reaksi Masyarakat

Kejadian ini memicu kepanikan dan duka mendalam di antara warga setempat. Banyak warga yang mengunjungi rumah kedua korban, yang terletak bersebelahan, untuk memberikan dukungan moral dan bantuan materi. Beberapa keluarga menyiapkan santunan, sementara tokoh masyarakat menggalang bantuan untuk menutupi biaya pemakaman Ardana.

Selain itu, warga menuntut peningkatan fasilitas keselamatan di area sungai. Beberapa mengusulkan pemasangan papan peringatan, pemasangan pagar pengaman, dan pelatihan dasar penyelamatan air bagi penduduk setempat.

Langkah Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Penanggulangan Bencana (Dispb) berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi bahaya di sungai‑sungai kecil yang sering dijadikan tempat bermain anak. Rencana aksi meliputi:

  • Pemasangan rambu peringatan bahaya arus deras pada titik‑titik rawan.
  • Pembangunan jalur evakuasi darurat dan posko pertolongan pertama di sekitar sungai.
  • Pelatihan penyelamatan air untuk aparat desa dan relawan.
  • Penyuluhan rutin kepada orang tua mengenai bahaya bermain di dekat aliran air pada musim hujan.

Selain itu, Dispb akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperoleh bantuan teknis dan peralatan SAR yang lebih memadai.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan saat anak‑anak bermain di dekat sumber air, terutama pada periode curah hujan tinggi. Diharapkan langkah‑langkah preventif yang diusulkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.

Dengan dukungan penuh dari aparat keamanan, relawan, dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan bagi keluarga yang terdampak dapat berjalan lancar, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan air.

Post Comment