Ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai berdampak pada stabilitas energi global. Situasi ini memicu aksi panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara.
Kekhawatiran utama muncul dari kemungkinan penutupan Selat Hormuz dalam waktu yang lama. Jalur laut ini sangat penting karena menjadi rute pengiriman sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia.
Menurut laporan CNBC Indonesia, antrean panjang kendaraan mulai terlihat di berbagai negara. Banyak warga memilih segera mengisi bahan bakar karena khawatir harga akan melonjak tajam atau distribusi BBM tiba-tiba terganggu.
Korea Selatan Ikut Terdampak
Salah satu negara yang merasakan dampaknya adalah Korea Selatan. Di ibu kota Seoul, antrean kendaraan terlihat di banyak SPBU setelah harga bensin rata-rata menembus 1.800 won per liter, atau sekitar Rp21.000.
Seorang pengemudi di Seoul mengatakan ia memilih mengisi bahan bakar sekarang karena khawatir harga akan naik lagi keesokan harinya. Kondisi ini menambah tekanan ekonomi bagi masyarakat yang sudah menghadapi kenaikan biaya hidup.
Korea Selatan memang sangat bergantung pada impor energi, dengan sekitar 90 persen kebutuhan energinya berasal dari luar negeri. Sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair negara itu melewati Selat Hormuz. Saat ini, sekitar 26 kapal tanker milik Korea Selatan dilaporkan tertahan di kawasan konflik.
Respons Pemerintah Australia dan Inggris
Di Australia, khususnya wilayah Australia Barat, antrean panjang juga terlihat di SPBU kota Perth. Perdana Menteri Australia Barat, Roger Cook, meminta warga tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok bahan bakar masih mencukupi.
Sementara itu, Menteri Energi Australia, Chris Bowen, mengatakan cadangan BBM nasional saat ini masih berada di atas batas minimum. Perusahaan kilang juga memastikan pasokan minyak diperkirakan aman setidaknya hingga bulan Mei.
Situasi serupa juga terjadi di Inggris. Di kota-kota seperti London, Manchester, dan Liverpool, pengendara dilaporkan harus mengantre lebih dari satu jam untuk mengisi bahan bakar. Meski begitu, pemerintah Inggris menyebut kenaikan harga grosir sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum serangan di Timur Tengah berlangsung.
Dampak di Bangladesh dan Myanmar
Di Bangladesh, penjualan solar meningkat tajam dari sekitar 13.000 ton menjadi 20.000 ton per hari. Pemerintah melalui Bangladesh Petroleum Corporation (BPC) akhirnya memberlakukan pembatasan penjualan harian untuk menjaga cadangan energi.
Kondisi yang lebih berat terjadi di Myanmar, yang mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bensinnya. Pemerintah militer di negara itu bahkan mulai membatasi penggunaan kendaraan pribadi berdasarkan nomor pelat sebagai upaya menghemat stok bahan bakar.
Di kota Yangon dan Tachileik, beberapa SPBU dilaporkan tutup sementara karena pasokan yang terlambat tiba di pelabuhan. Di wilayah perbatasan, harga BBM bahkan sempat melonjak hingga tiga kali lipat dari harga normal.
penulis:putra



Post Comment