Sekolapedia – 07 November 2026 | Dunia sepak bola Eropa tengah dikejutkan oleh fenomena luar biasa yang datang dari Italia. Di bawah komando pelatih jenius cesc fàbregas, Como 1907 bertransformasi dari tim biasa menjadi kekuatan ofensif yang sangat menakutkan di panggung Liga Champions. Filosofi permainan yang diterapkan oleh mantan gelandang legendaris Arsenal dan Barcelona ini telah membawa klub berjuluk I Lariani tersebut mencetak sejarah baru dengan produktivitas gol yang sangat tinggi.
Puncak dari kegilaan taktik ini terjadi pada Rabu malam (4/11/2026) saat Como bertandang ke markas RC Lens di Prancis. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Bollaert-Delelis, Como tampil sangat mendominasi dan berhasil menghancurkan tuan rumah dengan skor telak 1-9. Kemenangan ini tidak hanya menjadi catatan sejarah bagi klub, tetapi juga menyamai rekor kemenangan terbesar dalam sejarah Liga Champions yang sebelumnya dipegang oleh Liverpool dan Real Madrid.
Keberhasilan ini bermula dari instruksi tak terduga yang diberikan cesc fàbregas saat jeda babak pertama. Alih-alih meminta pemainnya untuk memperlambat tempo demi menjaga keunggulan 3-0, ia justru menantang mentalitas para pemainnya. Pemain bintang Nico Paz mengungkapkan bahwa Fàbregas berkata, “Saya ingin melihat berapa banyak gol yang bisa kalian cetak malam ini.” Tantangan tersebut dijawab dengan sempurna oleh skuat Como yang terus menggempur pertahanan Lens tanpa henti.
Berikut adalah rincian performa luar biasa Como 1907 di fase liga Liga Champions musim 2026/2027:
| Lawan | Skor | Keterangan |
|---|---|---|
| RB Leipzig | 4-1 | Menang |
| Feyenoord | 2-3 | Kalah |
| Manchester United | 4-1 | Menang |
| RC Lens | 9-1 | Menang |
Dalam empat pertandingan pertama, Como telah mengoleksi total 19 gol, dengan rata-rata 4,75 gol per pertandingan. Nama Anastasios Douvikas menjadi bintang utama dengan mencetak hat-trick saat melawan Lens, menjadikannya pencetak gol terbanyak di kompetisi ini dengan total enam gol. Selain itu, Nico Paz juga menunjukkan kelasnya dengan kontribusi satu gol dan dua assist dalam laga tersebut.
Keberhasilan kolektif ini juga didukung oleh pengembangan individu pemain yang luar biasa. Salah satu yang mendapat pujian setinggi langit adalah Samuele Ricci. Gelandang pinjaman dari AC Milan ini disebut-sebut oleh cesc fàbregas memiliki kualitas perpaduan antara dua legenda Italia, Francesco Totti dan Andrea Pirlo. Kemampuan Ricci dalam membaca permainan dan mengatur tempo menjadi kunci penting dalam menjalankan filosofi penguasaan bola yang diusung oleh tim.
Meskipun sedang berada di atas angin, cesc fàbregas tetap memberikan peringatan keras kepada anak asuhnya agar tidak terlena. Ia menekankan pentingnya tetap rendah hati dan terus belajar, mengingat tantangan besar menanti di Serie A, salah satunya adalah laga krusial melawan Inter Milan pada akhir pekan mendatang. Dengan gaya bermain menyerang yang berani dan penguasaan bola yang bertujuan, Como 1907 kini bukan lagi sekadar tim kuda hitam, melainkan ancaman nyata bagi raksasa-raksasa Eropa lainnya.
Transformasi Como 1907 membuktikan bahwa visi taktis yang tepat dan keberanian untuk bermain menyerang dapat mengubah peta kekuatan sepak bola dalam waktu singkat. Dunia kini menanti, sejauh mana kejutan yang bisa diberikan oleh anak asuh Fàbregas ini di sisa musim kompetisi.
