Sekolapedia – 20 Oktober 2026 | Isu pengelolaan sampah kembali menjadi sorotan publik menyusul rentetan peristiwa unik dan langkah strategis yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kehebohan kemunculan asap misterius dari dalam tanah di Mamuju, Sulawesi Barat, hingga masifnya gerakan pilah sampah yang dicanangkan pemerintah daerah serta terobosan pendanaan proyek ramah lingkungan skala nasional.
Di Mamuju, sebuah fenomena alam yang sempat menghebohkan warga Desa Botteng, Kecamatan Simboro, akhirnya menemui titik terang. Kepulan asap yang sempat dikhawatirkan warga sebagai manifestasi geologi berbahaya, seperti aktivitas vulkanik atau panas bumi, dipastikan murni akibat proses pembakaran anaerobik dari sisa tumpukan sampah yang tertimbun di dalam tanah. Kepala Bidang Geologi dan Air Bawah Tanah Dinas ESDM Sulbar, Wisnu Hasta Praja, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan observasi langsung di lapangan guna meredam keresahan masyarakat.
Peristiwa bermula ketika seorang warga bernama Fadhillah membakar sampah plastik dan polibag di lokasi kejadian. Khawatir api membesar, Fadhillah berinisiatif menimbun sisa pembakaran tersebut dengan tanah. Namun, situasi berubah viral setelah anak-anak yang bermain di sekitar lokasi menusuk-nusuk gundukan tanah dengan kayu hingga membentuk lubang, yang kemudian menjadi jalan keluar bagi sisa kepulan asap pembakaran di bawahnya. Pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih bijak menyaring informasi di media sosial dan mengonfirmasi kejadian tidak biasa kepada instansi berwenang.
Di tempat terpisah, upaya serius penanganan sampah perkotaan digencarkan melalui gerakan dari hulu ke hilir. Di Kepulauan Seribu, Bupati Muhammad Fadjar Churniawan meninjau langsung aktivitas pemilahan di Pulau Pramuka. Langkah edukasi ini ditekankan agar tidak sekadar menjadi slogan kosong, melainkan kolaborasi nyata mulai dari tingkat rumah tangga hingga tempat penampungan demi mewujudkan kawasan bebas sampah atau zero waste.
Komitmen serupa juga terlihat di wilayah ibu kota. Warga RW 09 Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, melalui Bank Sampah Cempaka, mulai aktif memilah sampah dari rumah. Langkah ini diambil secara konsisten untuk mengurangi volume pengiriman dan beban di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.
Tidak hanya di tingkat akar rumput, solusi berskala besar juga tengah dipersiapkan untuk masa depan. Danantara Indonesia melalui anak usahanya, PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), berhasil menggandeng 34 institusi keuangan domestik serta internasional. Kolaborasi ini dilakukan untuk menjajaki pembiayaan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di berbagai wilayah Indonesia.
Respons positif dari puluhan lembaga keuangan—yang mencakup bank pembangunan multilateral, lembaga pembiayaan infrastruktur, hingga bank besar nasional—menunjukkan tingginya minat pasar terhadap proyek energi hijau ini. Opsi pendanaan yang disiapkan meliputi pinjaman, fasilitas nontunai, hingga berbagai skema pembiayaan strategis lainnya yang disesuaikan dengan kelayakan serta tata kelola proyek.
Rangkaian peristiwa ini memberikan pelajaran penting bahwa pengelolaan limbah memerlukan sinergi menyeluruh. Dari kesadaran individu di rumah tangga untuk memilah material sisa, ketelitian dalam menangani pembakaran material anorganik di daerah, hingga ketersediaan pendanaan proyek konversi energi, penanganan yang komprehensif menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan di Indonesia.
