Musim hujan periode 2026/2027 di sejumlah wilayah Jawa Timur diperkirakan datang lebih lambat. Namun, potensi banjir tetap harus diwaspadai karena beberapa daerah memiliki riwayat luapan sungai, genangan permukiman, hingga banjir bandang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 10 kabupaten di Jawa Timur yang mencatat jumlah desa atau kelurahan terdampak banjir cukup tinggi pada periode sebelumnya. Bojonegoro berada di posisi teratas, kemudian Tuban dan Pasuruan.
Daftar daerah dengan riwayat banjir di Jawa Timur
Risiko banjir di berbagai kabupaten tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti curah hujan tinggi, kenaikan debit sungai, kondisi drainase, serta kapasitas infrastruktur pengendali air. Berikut rangkuman kejadian banjir di masing-masing wilayah.
1. Bojonegoro
Bojonegoro menghadapi ancaman banjir yang berkaitan erat dengan luapan Sungai Bengawan Solo dan anak-anak sungainya. Berdasarkan data BPBD Bojonegoro, sepanjang 2025 tercatat 55 kejadian banjir akibat luapan sungai, 12 banjir genangan, dan enam banjir bandang.
Berbagai kejadian tersebut berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan sejumlah infrastruktur. Kondisi wilayah yang berada di sekitar aliran sungai membuat kewaspadaan tetap diperlukan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
2. Tuban
Selain berpotensi mengalami luapan sungai besar, Tuban juga memiliki catatan banjir bandang. Hujan deras di sejumlah wilayah, termasuk kawasan hulu seperti Grabagan, dapat meningkatkan aliran air menuju wilayah yang lebih rendah.
Untuk mengurangi risiko, pemerintah daerah melakukan pengerukan sedimentasi dan membangun koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga kapasitas aliran air.
3. Pasuruan
Sejumlah kejadian banjir di Pasuruan dipicu luapan Sungai Welang di Gadingrejo dan Sungai Dermo di Bangil. Pada 17 Februari 2025, Sungai Welang meluap dan menggenangi permukiman di Desa Karangketug, Kecamatan Gadingrejo.
Peristiwa itu berdampak pada 867 kepala keluarga (KK) atau 2.392 jiwa. Banjir kembali terjadi pada 23 Februari 2025 akibat luapan Sungai Dermo di Kecamatan Bangil. BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat 16 desa di enam kecamatan terdampak.
4. Lamongan
Kenaikan debit Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Jero menjadi salah satu penyebab banjir di Lamongan. Air dapat merendam permukiman serta area pertambakan warga, terutama ketika kapasitas aliran tidak mampu menampung peningkatan debit.
Pada 24-25 Januari 2025, genangan muncul di sejumlah wilayah, termasuk Babat, Laren, Maduran, Karanggeneng, Kalitengah, dan Glagah. Banjir kembali berdampak pada wilayah Lamongan hingga Januari 2026.
Dalam laporan per 16 Januari 2026, BPBD Lamongan mencatat 44 desa di lima kecamatan terdampak, yaitu Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah, dan Deket. Sebanyak 4.986 rumah terendam, sementara dampaknya dirasakan oleh 4.861 KK atau 20.850 jiwa.
5. Gresik
Luapan Kali Lamong merupakan salah satu persoalan banjir yang berulang di Gresik. Pada Senin, 9 Juni 2025, hujan deras selama lebih dari tiga jam menyebabkan debit air meningkat hingga melampaui kapasitas aliran.
Air kemudian menggenangi permukiman, memutus akses jalan, dan merendam lahan pertanian produktif. Situasi ini menunjukkan bahwa hujan dengan durasi panjang tetap dapat menimbulkan gangguan meski awal musim hujan diperkirakan mundur.
6. Ponorogo
Ponorogo juga memiliki sejumlah wilayah yang berulang kali mengalami banjir. Rekapitulasi BPBD hingga akhir April 2025 mencatat 37 kejadian. Kecamatan Balong menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 14 kali, disusul Bungkal dengan sembilan kejadian.
Dalam rekapitulasi akhir 2025, BPBD Ponorogo melaporkan 47 kejadian banjir sepanjang tahun tersebut. Pada periode yang sama, tercatat pula 100 kejadian tanah longsor di Kota Reog.
7. Sidoarjo
Hujan berintensitas tinggi dan berlangsung lama dapat memicu genangan di sejumlah kecamatan di Sidoarjo. Kondisi saluran drainase turut memengaruhi kecepatan air untuk surut.
Hujan lebat pada 24 Februari 2025 menyebabkan banjir di wilayah ini. Dalam laporan BNPB yang dirilis pada 27 Februari 2026, banjir disebut berdampak pada lima kecamatan dan 10 desa, dengan total 275 KK terdampak. Berdasarkan pembaruan 26 Februari 2026, ketinggian air berada pada kisaran 10-35 sentimeter.
8. Jombang
Kerawanan banjir di Jombang berkaitan dengan curah hujan tinggi dan kondisi infrastruktur pengendali air. Pada 13 Mei 2025, hujan deras menyebabkan banjir luapan di jalan desa dan persawahan Desa Sumberagung, Kecamatan Perak. Genangan tersebut dilaporkan surut pada malam hari.
Pada Rabu, 14 Mei 2025, tanggul di aliran Sungai Pilang Hilir, Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, jebol. Air sungai kemudian menggenangi sawah, jalan desa, dan pekarangan warga di Desa Banjarsari.
9. Kabupaten Mojokerto
Wilayah Dawarblandong dan sekitarnya berpotensi terdampak banjir ketika debit sungai melampaui kapasitas tampung. Hujan yang berlangsung lama pada 24-25 Februari 2025 menyebabkan banjir di Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, dan Jetis.
BNPB melaporkan 124 rumah terdampak. Selain itu, 48 hektare lahan pertanian terendam dan empat titik akses jalan desa ikut terdampak. Banjir kembali terjadi pada 8-9 Juni 2025 setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kejadian tersebut berdampak pada enam desa di dua kecamatan karena sejumlah aliran sungai tidak mampu menampung kenaikan debit air.
10. Ngawi
Banjir di Ngawi salah satunya dipengaruhi kenaikan debit dari wilayah hulu Sungai Bengawan Madiun. Hujan deras di kawasan hulu sejak 28 Maret 2025 memicu banjir yang mulai meluap pada dini hari 29 Maret.
Menurut laporan BNPB, kejadian itu berdampak pada 15 desa di lima kecamatan. Sebanyak 764 KK atau 764 rumah terdampak, sedangkan sekitar 93 hektare sawah terendam dengan ketinggian air 20-40 sentimeter. Pada 30 Maret, air mulai surut, meski sejumlah ruas jalan masih tergenang.
Prakiraan musim hujan 2026/2027 di Jawa Timur
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, mengalami kemunduran. Perubahan tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer, di antaranya fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur, sebagian besar diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026. Sebagian wilayah lainnya diprediksi mengalaminya lebih dahulu pada November 2026 atau lebih lambat pada Januari 2027.
Perkiraan datangnya musim hujan yang lebih lambat tidak berarti risiko banjir hilang. Hujan lebat yang muncul sewaktu-waktu tetap dapat menaikkan debit sungai dan memicu banjir, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kejadian.
Langkah menghadapi musim hujan
Masyarakat di daerah rawan perlu mempersiapkan diri sebelum hujan intensif terjadi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD.
- Membersihkan saluran drainase secara berkala.
- Mengenali jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal.
- Memperhatikan perkembangan tinggi muka air dan kondisi sungai.
Kesiapsiagaan tersebut penting untuk mengurangi risiko serta dampak banjir. Dengan memahami riwayat kejadian di setiap daerah dan mengikuti informasi resmi, masyarakat dapat mengambil tindakan lebih cepat ketika kondisi cuaca dan aliran air mulai memburuk.
Sumber referensi: www.detik.com