Langkah Agresif Haji Isam: Kuasai 30,25% Saham Bayan Resources Senilai Rp 26 Triliun

Langkah Agresif Haji Isam: Kuasai 30,25% Saham Bayan Resources Senilai Rp 26 Triliun

Sekolapedia – 09 Oktober 2026 | Langkah besar diambil oleh konglomerat asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai haji isam, dalam memperkuat imperium bisnisnya di sektor energi. Melalui kendaraan investasi PT Jhonlin Baratama, ia secara resmi telah menguasai 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Transaksi strategis ini menandai babak baru dalam peta kekuatan industri batu bara nasional.

Berdasarkan keterbukaan informasi manajemen BYAN pada Jumat (9/10/2026), transaksi tersebut merupakan hasil dari penyelesaian Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang dilakukan pada 7 Oktober 2026. Dalam kesepakatan ini, pengendali utama BYAN, Dato’ Low Tuck Kwong, bersama putrinya, Elaine Low, telah melepaskan sebagian kepemilikan mereka kepada sang taipan.

Rincian Transaksi dan Struktur Kepemilikan

Akuisisi ini melibatkan pengalihan sejumlah besar saham biasa dalam dua tahap utama melalui divestasi pemegang saham lama. Berikut adalah rincian dari transaksi tersebut:

  • Dato’ Low Tuck Kwong: Mengalihkan 10.067.421.703 saham biasa BYAN.
  • Elaine Low: Melepas 16.666.667 saham biasa BYAN.
  • Total Saham yang Diakuisisi: Sekitar 10,08 miliar saham, yang setara dengan 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor.

Menariknya, transaksi ini sempat memicu aktivitas pasar yang luar biasa. Pada Rabu (7/10), tercatat transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi dengan total nilai mencapai Rp 26,1 triliun pada harga Rp 2.588 per saham. Meskipun haji isam kini menjadi pemegang saham signifikan, manajemen menegaskan bahwa Dato’ Low Tuck Kwong tetap memegang kendali atas perusahaan.

Analisis Investasi: Tantangan Balik Modal

Meskipun akuisisi ini memperkuat posisi haji isam, para analis memberikan catatan kritis terkait periode pengembalian modal (payback period) melalui dividen. Mengingat besarnya nilai investasi, tantangan muncul dari tren pembagian dividen BYAN yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Berikut adalah simulasi perhitungan berdasarkan data historis dan asumsi pasar:

Skenario Perhitungan Estimasi Waktu Balik Modal Catatan
Berdasarkan Harga Pasar (Asumsi Nilai Transaksi Rp 53,1 T) 20 Tahun Menggunakan rumor nilai transaksi sebelumnya.
Berdasarkan Rumor Nilai US$ 3 Miliar (untuk 62% saham) 9 Tahun Berdasarkan pembicaraan awal di bulan September.
Berdasarkan Data Dividen Tahun Buku 2025 (Yield ~2,3%) 44 Tahun Menggunakan realisasi dividen US$ 500 juta.

Fauzan Luthfi Djamal, Senior Research Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengingatkan bahwa perhitungan ini belum memperhitungkan potensi beban bunga jika akuisisi dilakukan melalui skema pinjaman. Jika menggunakan rasio pinjaman terhadap nilai jaminan (LTV) yang tinggi dengan bunga sekitar 9%, dividen yang diterima mungkin tidak cukup untuk menutupi beban bunga tersebut.

Diversifikasi Bisnis: Menuju Industri BBM

Di sisi lain, lini bisnis milik haji isam lainnya, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), juga tengah bersiap melakukan ekspansi besar-besaran. TEBE tidak ingin hanya bergantung pada jasa kepelabuhanan batu bara yang saat ini sedang mengalami tekanan volume akibat kendala administratif RKAB di sektor pertambangan.

Melalui anak usahanya, PT Pelabuhan Talenta Bumi, TEBE sedang mengkaji peluang untuk melayani berbagai komoditas selain batu bara, termasuk rencana untuk mengurus izin perdagangan Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah diversifikasi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pendapatan perusahaan di tengah fluktuasi sektor batu bara. Saat ini, jasa pemuatan batu bara masih menjadi tulang punggung pendapatan TEBE dengan kontribusi sebesar 46,7%.

Secara keseluruhan, manuver haji isam dalam mengakuisisi saham BYAN menunjukkan ambisi besar untuk mendominasi sektor energi. Meskipun menghadapi tantangan dalam hal efisiensi pengembalian modal dari dividen, penguasaan aset strategis ini memperkokoh posisi grup bisnisnya dalam rantai pasok energi nasional.

Post Comment