Sekolapedia – 09 Oktober 2026 | Kondisi lingkungan di sejumlah wilayah Indonesia kini berada dalam titik kritis akibat meluasnya fenomena karhutla yang dipicu oleh kemarau ekstrem. Kabut asap tebal mulai menyelimuti berbagai kota besar, mengganggu jarak pandang, hingga mengancam kesehatan manusia serta satwa liar di habitat aslinya.
Di Sumatra Selatan, Kota Palembang kini tengah berjuang melawan kabut asap pekat yang menyelimuti kota sejak pagi hingga sore hari. Berdasarkan pantauan di lapangan, jarak pandang menurun hingga hanya mencapai 400 meter, sebuah kondisi yang sangat membahayakan aktivitas transportasi, termasuk jadwal penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Kualitas udara di wilayah ini dilaporkan telah masuk dalam kategori berbahaya, memaksa warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Batanghari, Jambi. Pemerintah Kabupaten Batanghari secara resmi telah memperpanjang status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan hingga 13 Oktober 2026. Langkah ini diambil menyusul memburuknya kualitas udara akibat paparan asap yang kian tebal. Plt Kepala BPBD Batanghari, Sholihin, mengungkapkan bahwa luas lahan yang terbakar telah mencapai angka yang mengkhawatirkan.
| Wilayah | Data Kerusakan/Kondisi |
|---|---|
| Batanghari, Jambi | 1.435 hektare lahan terbakar |
| Ponorogo, Jawa Timur | 341 hektare lahan terbakar (17 kecamatan) |
| Palembang, Sumsel | Jarak pandang hanya 400 meter |
Di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Ponorogo, intensitas karhutla menunjukkan peningkatan yang sangat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mencatat bahwa luas kebakaran tahun ini telah menembus 341 hektare, melanda 17 kecamatan. Hal ini berbanding terbalik dengan tahun 2024 yang hanya mencatat 91,7 hektare. Kondisi kekeringan yang ekstrem, dengan absennya hujan selama lebih dari 60 hari, menjadi pemicu utama vegetasi kering yang sangat mudah terbakar oleh suhu panas dan tiupan angin.
Dampak bencana ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga mengancam kelestarian satwa dilindungi. Di kawasan rehabilitasi Nyaru Menteng, sebanyak 47 ekor orang utan dilaporkan teridentifikasi mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tim medis Yayasan BOS kini tengah melakukan pengawasan ketat dan memberikan perawatan berupa vitamin serta asupan cairan tambahan untuk menjaga daya tahan tubuh satwa-satwa tersebut di tengah kepungan asap.
Menanggapi maraknya kebakaran di lahan konsesi, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan peringatan keras kepada sektor korporasi. KLH menyatakan bahwa setiap kejadian kebakaran di area konsesi akan menjadi catatan merah dalam penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Saat ini, KLH telah melakukan pengawasan terhadap 57 entitas perusahaan di Sumatra dan Kalimantan dengan total luas area terbakar mencapai 34.636 hektare.
Data menunjukkan bahwa mayoritas lokasi kebakaran berada di perkebunan kelapa sawit (95%) dan perkebunan tebu (5%). Dari puluhan perusahaan tersebut, ditemukan 17 perusahaan yang memiliki riwayat kebakaran berulang di delapan provinsi berbeda. Hal ini menegaskan perlunya pengawasan yang lebih ketat dan tanggung jawab nyata dari pemegang konsesi untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih luas di masa depan.
Secara keseluruhan, fenomena ini menunjukkan adanya korelana antara perubahan iklim ekstrem dengan meningkatnya risiko bencana kebakaran. Diperlukan sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk melakukan mitigasi dini guna menekan angka kerugian ekologi dan kesehatan yang kian meningkat setiap harinya.
Post Comment