Sekolapedia – 22 September 2026 | Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih seiring dengan meningkatnya serangan dari kelompok milisi Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Di tengah situasi yang kian genting, muncul kabar mengejutkan bahwa Saudi disebut rekrut tentara Suriah untuk bantu lawan Houthi guna memperkuat pertahanan mereka dari serangan rudal dan drone yang terus menerus melanda.
Laporan yang pertama kali diangkat oleh media Lebanon, Al-Akhbar, menyebutkan bahwa ratusan tentara Suriah dikabarkan telah tiba di Arab Saudi. Pasukan ini diduga merupakan kelompok yang terlibat dalam dinamika politik pasca-pemakzulan mantan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad, pada Desember 2024 silam. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk dipersiapkan dalam menghadapi ancaman militer Houthi yang berbasis di Yaman.
Namun, kabar mengenai Saudi disebut rekrut tentara Suriah untuk bantu lawan Houthi ini menuai keraguan dari sejumlah pengamat internasional. Maysaa Shuja Al-Deen, seorang peneliti dari Sana’a Center for Strategic Studies, menyatakan bahwa meskipun Riyadh mungkin sedang mempertimbangkan opsi tersebut, belum ada bukti nyata bahwa pengerahan pasukan Suriah telah dilakukan. Senada dengan hal tersebut, Aron Lund dari Swedish Defense Research Agency menilai laporan tersebut cenderung merupakan propaganda klasik, meskipun ia mengakui bahwa diskusi mengenai bantuan militer dari pihak luar tetap menjadi topik hangat di kalangan pengambil kebijakan Riyadh.
Strategi Pertahanan dan Permintaan Bantuan Internasional
Selain isu keterlibatan pasukan Suriah, Arab Saudi juga dilaporkan tengah melakukan langkah-langkah strategis lainnya untuk membendung kekuatan Houthi. Alih-alih hanya meminta tambahan amunisi, Riyadh justru lebih fokus pada bantuan intelijen tingkat tinggi. Mantan penasihat pemerintah Arab Saudi, Nawaf Obaid, mengungkapkan bahwa Arab Saudi telah meminta bantuan Amerika Serikat untuk menyediakan analisis geospasial dan pemetaan teknis guna memastikan target serangan udara yang akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Berikut adalah ringkasan upaya yang dilakukan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman Houthi:
- Permintaan Intelijen ke AS: Fokus pada bantuan teknis untuk menentukan target serangan yang akurat.
- Koordinasi dengan Inggris: Upaya meminta bantuan militer Inggris untuk mengamankan Selat Bab el-Mandeb dan melindungi infrastruktur minyak vital.
- Penguatan Pertahanan Udara: Peningkatan kesiagaan untuk mencegat drone dan rudal balistik yang mengarah ke kota-kota suci seperti Mekkah dan pusat ekonomi seperti Riyadh.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa ancaman Houthi sangat nyata. Pada pertengahan September 2026, sebuah drone dilaporkan mencoba mendekati wilayah dekat Mekkah, namun berhasil ditembak jatuh oleh militer Saudi. Selain itu, upaya serangan rudal balistik ke Riyadh dan fasilitas minyak Aramco di Yanbu juga menjadi perhatian serius, meskipun otoritas setempat mengklaim sebagian besar serangan telah berhasil digagalkan.
Respon Houthi dan Mobilisasi Massa
Menanggapi tekanan militer tersebut, pemimpin kelompok Houthi, Abdul Malik al-Houthi, memberikan peringatan keras kepada negara-negara seperti Turki dan Pakistan agar tidak terlibat dalam konflik ini. Dalam pidato televisinya, ia menuduh bahwa Saudi disebut rekrut tentara Suriah untuk bantu lawan Houthi serta berupaya melibatkan kekuatan asing lainnya untuk kepentingan politik dan material.
Di sisi lain, Houthi juga dilaporkan tengah melakukan mobilisasi besar-besaran untuk menutupi kerugian personel mereka. Di Provinsi Taiz, Yaman, kelompok ini dilaporkan memperluas perekrutan dengan menyasar kelompok masyarakat marginal, termasuk pekerja kebersihan dan migran asal Afrika. Langkah ini diambil setelah Houthi mengalami kerugian personel yang signifikan dalam berbagai bentrokan bersenjata di front pertempuran Yaman.
Secara keseluruhan, eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik di Yaman telah berkembang menjadi arena persaingan pengaruh yang lebih luas. Meskipun isu Saudi disebut rekrut tentara Suriah untuk bantu lawan Houthi masih dalam tahap perdebatan dan belum terverifikasi secara independen, hal ini mencerminkan betapa mendesaknya kebutuhan Arab Saudi untuk mencari dukungan eksternal guna menjaga stabilitas keamanan nasional dan infrastruktur energi mereka dari serangan milisi Houthi yang semakin agresif.



Post Comment