Perubahan kurikulum dalam pendidikan turut memengaruhi cara guru menyusun pembelajaran dan penilaian. Di Indonesia, Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dalam penyusunan soal dan asesmen. Oleh karena itu, memahami perbedaan soal Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka penting bagi guru, siswa, maupun orang tua.
Perbedaan tersebut bukan berarti semua bentuk soal pada kedua kurikulum sepenuhnya berbeda. Banyak prinsip penilaian yang tetap dapat digunakan, tetapi terdapat perbedaan dalam pendekatan pembelajaran, perencanaan, dan penekanan kompetensi.
Lalu, apa saja perbedaan soal Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka? Berikut penjelasannya.
Mengenal Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka
Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penekanan pada pencapaian kompetensi peserta didik melalui aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran diarahkan agar siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.
Sementara itu, Kurikulum Merdeka memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi satuan pendidikan dan guru dalam mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Pembelajaran diarahkan pada pencapaian kompetensi dan karakter yang dirumuskan dalam capaian pembelajaran.
Perbedaan pendekatan tersebut kemudian dapat terlihat dalam penyusunan kegiatan asesmen dan bentuk soal yang diberikan kepada siswa.
1. Perbedaan Acuan Penyusunan Soal
Salah satu perbedaan penting terdapat pada acuan penyusunan pembelajaran dan asesmen.
Dalam Kurikulum 2013, guru menggunakan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) sebagai bagian dari struktur kurikulum. Penyusunan soal dapat mengacu pada kompetensi dasar, indikator, dan materi yang telah ditetapkan.
Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) yang kemudian dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran dan perencanaan pembelajaran.
Karena itu, saat membuat soal, guru perlu melihat kompetensi yang memang ditargetkan dalam pembelajaran pada kurikulum yang digunakan.
2. Penekanan pada Kompetensi Peserta Didik
Soal dalam Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka sama-sama dapat mengukur pengetahuan dan keterampilan. Namun, konteks pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka memberikan ruang lebih besar untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
Soal tidak harus selalu berfokus pada kemampuan mengingat informasi. Guru dapat membuat pertanyaan yang meminta siswa memahami konsep, menerapkan pengetahuan, menganalisis informasi, atau menyelesaikan permasalahan.
Dengan demikian, kualitas soal lebih penting daripada sekadar membandingkan jumlah atau bentuk pertanyaan antara kedua kurikulum.
3. Soal Berbasis Konteks
Salah satu karakteristik yang dapat digunakan dalam soal pada pembelajaran adalah penggunaan konteks kehidupan nyata.
Misalnya, dalam pelajaran Matematika, siswa tidak hanya diberikan operasi angka, tetapi juga dapat diberikan permasalahan tentang harga barang, jarak, waktu, atau data tertentu.
Dalam IPA, soal dapat menggunakan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sementara dalam Bahasa Indonesia, siswa dapat diberikan teks yang harus dianalisis untuk menemukan informasi atau membuat kesimpulan.
Pendekatan berbasis konteks membantu siswa memahami bahwa materi pelajaran dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nyata.
4. Perbedaan Bentuk Asesmen
Kurikulum Merdeka memberikan perhatian pada asesmen sebagai bagian dari proses pembelajaran. Asesmen dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi awal peserta didik, memantau perkembangan selama proses pembelajaran, maupun melihat pencapaian setelah pembelajaran.
Dengan demikian, penilaian tidak hanya dilakukan melalui ujian akhir.
Guru dapat menggunakan berbagai bentuk asesmen, seperti pertanyaan tertulis, tugas, observasi, proyek, praktik, presentasi, maupun bentuk penilaian lainnya sesuai tujuan pembelajaran.
Artinya, soal tertulis hanyalah salah satu bagian dari proses asesmen.
5. Soal HOTS pada Kedua Kurikulum
Istilah HOTS (Higher Order Thinking Skills) sering dikaitkan dengan soal yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Baik pada pembelajaran dengan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, guru dapat menyusun soal yang mendorong siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis.
Soal HOTS tidak sekadar berarti soal yang sulit. Soal tersebut harus memiliki tuntutan kognitif yang sesuai, misalnya menganalisis data, mengevaluasi informasi, atau menentukan solusi berdasarkan suatu permasalahan.
Contohnya, siswa dapat diberikan tabel hasil pengamatan kemudian diminta menarik kesimpulan berdasarkan data tersebut.
6. Penggunaan Stimulus dalam Soal
Soal dapat menggunakan berbagai stimulus, seperti teks, gambar, tabel, grafik, data, maupun ilustrasi.
Stimulus membantu memberikan konteks kepada siswa sebelum menjawab pertanyaan. Namun, stimulus harus benar-benar berhubungan dengan kompetensi yang ingin diukur.
Sebagai contoh, dalam soal IPS, siswa dapat diberikan data kependudukan kemudian diminta menganalisis perubahan yang terjadi.
Cara tersebut dapat mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan informasi, bukan hanya mengingat fakta.
7. Perbedaan dalam Pendekatan Pembelajaran
Perbedaan soal tidak dapat dipisahkan dari perbedaan pendekatan pembelajaran.
Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan siswa.
Karena itu, soal yang digunakan juga dapat dikembangkan berdasarkan konteks pembelajaran yang dilakukan di kelas.
Guru tetap perlu memastikan bahwa pertanyaan yang dibuat sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang hendak diukur.
8. Soal Tidak Harus Selalu Sulit
Hal penting yang perlu dipahami adalah Kurikulum Merdeka tidak berarti semua soal harus lebih sulit daripada soal Kurikulum 2013.
Tingkat kesulitan soal ditentukan berdasarkan kompetensi, materi, karakteristik peserta didik, dan tujuan penilaian.
Soal yang baik memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi. Ada pertanyaan untuk mengukur pemahaman dasar dan ada pula pertanyaan yang membutuhkan analisis lebih mendalam.
Komposisi tersebut dapat membantu guru mendapatkan gambaran kemampuan siswa secara lebih menyeluruh.
9. Contoh Perbedaan Bentuk Pertanyaan
Sebagai gambaran, pada materi perubahan lingkungan, soal dengan pendekatan sederhana dapat meminta siswa menyebutkan contoh pencemaran lingkungan.
Sementara itu, pertanyaan yang membutuhkan analisis dapat memberikan sebuah kasus tentang pencemaran sungai. Siswa kemudian diminta mengidentifikasi penyebab, dampak, dan kemungkinan solusi berdasarkan informasi yang diberikan.
Kedua jenis soal tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran. Perbedaannya terletak pada kemampuan yang ingin diukur.
10. Persamaan Soal Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka
Selain memiliki perbedaan, kedua kurikulum juga memiliki sejumlah kesamaan dalam prinsip pembelajaran dan penilaian.
Keduanya tetap membutuhkan soal yang jelas, sesuai materi, memiliki tujuan yang terukur, dan menggunakan bahasa yang dapat dipahami siswa.
Guru juga tetap perlu memastikan bahwa soal memiliki kunci jawaban yang tepat dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.
Karena itu, pergantian kurikulum bukan berarti seluruh soal lama harus dibuang. Soal yang masih relevan dapat ditinjau dan disesuaikan dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran yang digunakan.
Tips Membuat Soal Sesuai Kurikulum yang Digunakan
Guru dapat mengikuti beberapa langkah sederhana ketika menyusun soal.
Pertama, tentukan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang ingin diukur. Kedua, pilih materi yang sesuai. Ketiga, tentukan tingkat kognitif yang diperlukan. Keempat, pilih bentuk soal yang paling sesuai.
Jika menggunakan stimulus, pastikan informasi yang diberikan relevan dengan pertanyaan. Setelah soal selesai dibuat, lakukan telaah dari aspek materi, konstruksi, bahasa, dan kunci jawaban.
Dengan langkah tersebut, soal dapat menjadi alat asesmen yang lebih terarah.
Kesimpulan
Perbedaan soal Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka terutama berkaitan dengan acuan kompetensi, pendekatan pembelajaran, serta fleksibilitas dalam pelaksanaan asesmen. Kurikulum 2013 menggunakan struktur kompetensi seperti KI dan KD, sedangkan Kurikulum Merdeka menggunakan Capaian Pembelajaran yang kemudian dikembangkan dalam perencanaan pembelajaran.
Meski demikian, bukan berarti soal pada kedua kurikulum harus memiliki bentuk yang sepenuhnya berbeda. Keduanya tetap membutuhkan soal yang jelas, relevan, sesuai kompetensi, dan mampu mengukur kemampuan peserta didik.
Bagi guru, hal terpenting adalah memahami kurikulum yang digunakan di satuan pendidikan dan menyusun asesmen berdasarkan tujuan pembelajaran. Sementara bagi siswa, memahami karakteristik soal dapat membantu mempersiapkan diri menghadapi berbagai bentuk latihan dan penilaian.
Penulis: Shofiya M.P

Post Comment