Sekolapedia – 08 November 2026 | Pasar modal Indonesia kembali dihebohkan oleh pergerakan harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang dinilai tidak sejalan dengan catatan fundamental keuangannya. Di tengah keberhasilan perusahaan mencatatkan laba bersih secara berturut-turut dalam tiga kuartal terakhir, pergerakan harga saham goto justru masih tertahan di zona tekanan dan diperdagangkan dengan diskon yang cukup signifikan di mata para analis.
Berdasarkan catatan kinerja kuartal III-2026, emiten teknologi raksasa penopang ekosistem Gojek dan GoPay ini sukses membukukan laba bersih sebesar Rp441 miliar. Angka ini memperpanjang tren positif profitabilitas perusahaan di tengah berbagai tantangan industri digital yang dinamis. Pendapatan bersih perusahaan juga tercatat tumbuh sebesar 17 persen secara tahunan menjadi Rp5,6 triliun, sementara arus kas bebas yang disesuaikan melonjak hingga Rp1,21 triliun.
Kendati demikian, performa positif pada laporan keuangan tersebut belum sepenuhnya merefleksikan harga di lantai bursa. Analis mencatat bahwa valuasi saham goto saat ini diperdagangkan dengan diskon mencapai sekitar 75 persen jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis di sektornya. Dari pendekatan nilai perusahaan terhadap EBITDA atau EV/EBITDA, GOTO berada di level 3,3x, jauh tertinggal dari rata-rata industri layanan on-demand dan teknologi finansial (fintech) yang berkisar di angka 13 hingga 14 kali.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, mengungkapkan bahwa harga pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan laba serta arus kas yang kuat. Dinamika pasar makroekonomi, suku bunga, hingga sentimen investor global turut andil dalam menekan pergerakan harga saham di jangka pendek.
Sebagai langkah strategis untuk merespons kondisi tersebut dan melindungi kepentingan para pemegang saham jangka panjang, manajemen mengambil langkah tegas melalui aksi korporasi. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), para pemegang saham telah menyetujui pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri hasil program pembelian kembali (buyback) periode sebelumnya. Kebijakan ini membuat pengurangan jumlah saham yang beredar menjadi bersifat permanen.
- Menghapus potensi overhang pasokan saham di masa depan karena saham treasuri tidak dapat dilepas kembali ke pasar.
- Meningkatkan persentase kepemilikan efektif bagi setiap pemegang saham eksisting tanpa mengubah jumlah unit saham yang mereka miliki.
- Mengoptimalkan struktur modal perusahaan di tengah perbaikan fundamental yang kian solid.
Langkah pembatalan saham treasuri ini dinilai sangat relevan ketika valuasi di pasar sekunder masih tertinggal dari nilai intrinsik perusahaan. Dengan berkurangnya total saham yang diterbitkan secara permanen, nilai kepemilikan investor menjadi lebih terkonsentrasi pada pertumbuhan jangka panjang bisnis inti perseroan.
Secara keseluruhan, fenomena diskon besar pada saham goto memberikan paradoks tersendiri di pasar modal Indonesia. Di satu sisi, pencapaian laba bersih beruntun serta disiplin pengelolaan biaya membuktikan bahwa model ekosistem bisnis yang dibangun berjalan efektif. Di sisi lain, para investor dihadapkan pada momentum untuk mencermati kesenjangan antara valuasi pasar dan perbaikan fundamental yang terus berlanjut, sembari menunggu katalis positif berikutnya untuk penyesuaian harga di masa mendatang.
