×

Contoh Soal Silsilah Keluarga (Pedigree) Hemofilia dan Buta Warna Beserta Cara Mengerjakannya

Contoh Soal Silsilah Keluarga (Pedigree) Hemofilia dan Buta Warna Beserta Cara Mengerjakannya

Silsilah keluarga atau pedigree merupakan salah satu materi yang sering muncul dalam pelajaran Biologi, khususnya pada pembahasan pewarisan sifat dan genetika manusia. Dengan menggunakan diagram silsilah, kita dapat mengetahui bagaimana suatu sifat atau kelainan genetik dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dua contoh kelainan yang sering digunakan dalam soal pedigree adalah hemofilia dan buta warna. Keduanya termasuk sifat yang berkaitan dengan kromosom X atau disebut sifat terpaut kromosom X (X-linked). Karena pola pewarisannya memiliki karakteristik tertentu, soal seperti ini membutuhkan ketelitian dalam membaca diagram dan menentukan kemungkinan genotipe setiap anggota keluarga.

Artikel ini membahas contoh soal silsilah keluarga hemofilia dan buta warna beserta cara mengerjakannya dengan langkah yang sederhana dan mudah dipahami.

Apa Itu Silsilah Keluarga atau Pedigree?

Pedigree adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan hubungan keluarga sekaligus pola pewarisan suatu sifat atau kelainan genetik. Dalam diagram pedigree, terdapat beberapa simbol yang memiliki arti tertentu.

Secara umum:

  • Kotak (□) menunjukkan laki-laki.
  • Lingkaran (○) menunjukkan perempuan.
  • Simbol diarsir menunjukkan individu yang memiliki sifat atau kelainan yang sedang diamati.
  • Garis horizontal menunjukkan hubungan perkawinan.
  • Garis vertikal menunjukkan keturunan.
  • Garis horizontal antarsaudara menunjukkan hubungan saudara dalam satu keluarga.

Dengan memahami simbol tersebut, kita dapat membaca informasi dari sebuah diagram silsilah sebelum menentukan genotipe atau kemungkinan keturunannya.

Hemofilia dan Buta Warna

Hemofilia adalah kelainan pada proses pembekuan darah yang dapat diwariskan secara genetik. Dalam contoh soal genetika sekolah, hemofilia biasanya dilambangkan sebagai sifat resesif terpaut kromosom X.

Misalnya:

  • Xᴴ = alel normal
  • = alel hemofilia

Perempuan memiliki kromosom XX, sedangkan laki-laki memiliki kromosom XY.

Perempuan dapat memiliki genotipe:

  • XᴴXᴴ = normal
  • XᴴXʰ = normal pembawa sifat (carrier)
  • XʰXʰ = hemofilia

Sementara laki-laki:

  • XᴴY = normal
  • XʰY = hemofilia

Buta warna dalam soal genetika dasar juga sering digunakan sebagai contoh sifat resesif terpaut kromosom X. Misalnya:

  • Xᴺ = penglihatan warna normal
  • Xⁿ = alel buta warna

Prinsip pewarisannya dapat dianalisis dengan cara yang sama.

Cara Mengerjakan Soal Pedigree

Agar tidak bingung ketika mengerjakan soal, gunakan beberapa langkah berikut.

1. Identifikasi individu yang mengalami kelainan

Pertama, perhatikan simbol yang diarsir pada diagram. Tentukan apakah individu tersebut laki-laki atau perempuan berdasarkan bentuk simbolnya.

2. Tentukan jenis pewarisannya

Jika soal menyatakan bahwa kelainan seperti hemofilia atau buta warna bersifat resesif terpaut kromosom X, gunakan simbol gen yang sesuai.

3. Tentukan genotipe individu

Perhatikan jenis kelamin dan kondisi individu. Misalnya, laki-laki yang mengalami hemofilia pasti memiliki genotipe XʰY, karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X.

4. Analisis orang tua dan keturunannya

Lihat hubungan antara individu yang mengalami kelainan dengan orang tua atau anaknya. Dari informasi tersebut, kemungkinan genotipe anggota keluarga lain dapat ditentukan.

5. Gunakan persilangan genetik

Jika genotipe orang tua sudah diketahui, gunakan tabel Punnett untuk mengetahui kemungkinan genotipe keturunannya.


Contoh Soal Pedigree Hemofilia

Soal:

Seorang perempuan normal memiliki ayah yang menderita hemofilia. Perempuan tersebut menikah dengan laki-laki normal. Tentukan kemungkinan genotipe dan fenotipe anak-anak mereka.

Pembahasan

Diketahui:

  • Ayah perempuan menderita hemofilia = XʰY
  • Ibu perempuan dianggap normal dan tidak membawa alel hemofilia = XᴴXᴴ

Persilangannya:

XʰY × XᴴXᴴ

Anak perempuan mendapatkan kromosom Xʰ dari ayah dan Xᴴ dari ibu, sehingga:

XᴴXʰ

Artinya, semua anak perempuan normal tetapi menjadi carrier.

Sementara anak laki-laki mendapatkan kromosom Y dari ayah dan Xᴴ dari ibu:

XᴴY

Artinya, semua anak laki-laki normal.

Jadi, berdasarkan asumsi ibu tidak membawa alel hemofilia:

  • Anak perempuan: 100% normal carrier
  • Anak laki-laki: 100% normal

Contoh ini menunjukkan mengapa informasi mengenai jenis kelamin sangat penting dalam soal pewarisan sifat terpaut kromosom X.


Contoh Soal Pedigree Buta Warna

Soal:

Seorang perempuan normal yang merupakan carrier buta warna menikah dengan laki-laki normal. Tentukan kemungkinan anak laki-laki dan perempuan mereka mengalami buta warna.

Diketahui:

  • Perempuan carrier = XᴺXⁿ
  • Laki-laki normal = XᴺY

Persilangannya:

XᴺXⁿ × XᴺY

Kemungkinan keturunannya:

Xᴺ Y
Xᴺ XᴺXᴺ XᴺY
Xⁿ XᴺXⁿ XⁿY

Dari persilangan tersebut diperoleh:

  • XᴺXᴺ = perempuan normal
  • XᴺXⁿ = perempuan normal carrier
  • XᴺY = laki-laki normal
  • XⁿY = laki-laki buta warna

Dengan demikian, terdapat kemungkinan 50% anak laki-laki mengalami buta warna dan 50% lainnya normal. Sementara itu, anak perempuan dalam persilangan tersebut tidak mengalami buta warna, tetapi sebagian dapat menjadi carrier.

Contoh Soal Lebih Lanjut

Soal:

Seorang laki-laki menderita buta warna menikah dengan perempuan normal yang bukan carrier. Bagaimana kemungkinan fenotipe anak-anaknya?

Diketahui:

  • Laki-laki buta warna = XⁿY
  • Perempuan normal bukan carrier = XᴺXᴺ

Persilangan:

XⁿY × XᴺXᴺ

Anak perempuan akan mendapatkan Xⁿ dari ayah dan Xᴺ dari ibu, sehingga genotipenya:

XᴺXⁿ

Anak perempuan normal tetapi carrier.

Anak laki-laki mendapatkan Y dari ayah dan Xᴺ dari ibu, sehingga:

XᴺY

Anak laki-laki normal.

Jadi, hasilnya adalah semua anak perempuan normal carrier dan semua anak laki-laki normal, dengan asumsi ibu benar-benar bukan carrier.

Tips Mengerjakan Soal Silsilah Keluarga

Soal pedigree terkadang terlihat rumit karena melibatkan beberapa generasi sekaligus. Agar lebih mudah, jangan langsung menghitung peluang. Baca diagram dari generasi ke generasi.

Perhatikan terlebih dahulu siapa yang mengalami kelainan, jenis kelaminnya, dan hubungan keluarganya. Setelah itu, tentukan genotipe yang sudah pasti. Baru kemudian tentukan kemungkinan genotipe anggota keluarga lainnya.

Hal penting lainnya adalah mengingat bahwa pada sifat resesif terpaut kromosom X, laki-laki hanya mempunyai satu kromosom X. Oleh karena itu, jika kromosom X yang dimilikinya membawa alel penyebab kelainan, sifat tersebut dapat muncul.

Sebaliknya, perempuan mempunyai dua kromosom X. Untuk kelainan resesif terpaut X dapat diperlukan dua alel resesif agar kondisi tersebut muncul, sedangkan satu alel resesif dapat membuat perempuan menjadi carrier.

Kesimpulan

Silsilah keluarga atau pedigree digunakan untuk menganalisis pola pewarisan sifat dalam keluarga. Hemofilia dan buta warna merupakan contoh yang sering digunakan dalam soal genetika karena dalam model pembelajaran sekolah keduanya biasanya dijelaskan sebagai sifat resesif terpaut kromosom X.

Cara mengerjakannya dapat dimulai dengan membaca simbol pedigree, menentukan jenis kelamin dan individu yang mengalami kelainan, menentukan genotipe, kemudian melakukan persilangan untuk mengetahui kemungkinan keturunannya.

Kunci utama mengerjakan contoh soal silsilah keluarga hemofilia dan buta warna adalah memahami hubungan antara kromosom X, kromosom Y, jenis kelamin, serta sifat dominan dan resesif. Dengan latihan membaca pedigree dan membuat tabel Punnett, soal genetika yang awalnya terlihat sulit akan menjadi lebih mudah dan sistematis.

Penulis: Shofiya M.P

Post Comment