Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Dendam: Iran Meradang Pasca Serangan Mematikan

Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Dendam: Iran Meradang Pasca Serangan Mematikan

Sekolapedia – 11 Juli 2026 | Tehran – Di tengah memanasnya ketegangan regional dan ancaman balasan, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan pertamanya pasca-pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam sebuah pesan tertulis yang dirilis melalui media sosialnya, Mojtaba Khamenei berjanji akan membalas ‘darah para syuhada’ yang gugur dalam konflik yang semakin memburuk antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada 28 Februari 2026, pada hari pertama perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel. Serangan terhadap kediamannya, yang dikenal sebagai ‘Operation Epic Fury’, dilaporkan menyisakan kepulan asap hitam pekat terlihat dari citra satelit. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa intelijen AS dan sistem pelacakan canggih mereka tidak dapat dihindari oleh pemimpin Iran tersebut. Jasad Ayatollah Ali Khamenei ditemukan di antara puing-puing kediamannya yang runtuh akibat serangan udara tersebut.

Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa ‘balas dendam adalah permintaan bangsa kami dan harus pasti dilaksanakan.’ Ia juga berterima kasih kepada jutaan pelayat yang membanjiri prosesi pemakaman ayahnya, menyebut kehadiran mereka sebagai ‘kehadiran yang mematahkan musuh dan bersejarah’. Pesan ini muncul setelah Trump mengeluarkan ancaman balasan yang keras, menyatakan bahwa ‘rudal-rudal sudah terkunci dan siap’ untuk menyerang Iran jika ada upaya pembunuhan terhadapnya, menyusul intelijen yang dibagikan oleh agen Israel mengenai dugaan ancaman tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke beberapa pangkalan AS dan pusat strategis di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Tindakan balasan ini terjadi setelah kota-kota Iran menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari sebelumnya. Sirene peringatan serangan udara terdengar di Bahrain, yang merupakan markas Armada Kelima AS, menyusul peluncuran rudal dan drone Iran ke target-target di Teluk. Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang masuk. Qatar juga dilaporkan menjadi sasaran dalam respons Iran, meskipun negara tersebut memainkan peran penting dalam kontak diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat Fasilitas Nuklir Bushehr, serta di beberapa lokasi lain di Iran selatan seperti Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik. Seorang pejabat AS membantah keterlibatan pasukan Amerika dalam ledakan terbaru di dalam Iran, dan tidak ada pihak lain yang secara publik mengklaim bertanggung jawab.

🔖 Baca juga:
OWASP Top 10 for LLM Applications in 2026: A Complete Guide to Securing AI and Large Language Models

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz telah secara efektif mengakhiri gencatan senjata sementara. Pernyataannya menimbulkan pertanyaan baru tentang masa depan kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Trump juga memperingatkan Iran untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut terhadap pelayaran komersial, menyatakan bahwa tindakan tersebut akan memicu respons yang jauh lebih keras, dan mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat dapat ‘menyelesaikan pekerjaan itu’.

Konfrontasi terbaru ini terjadi setelah serangan terhadap tiga kapal tanker komersial yang melintasi perairan dekat Selat Hormuz. Washington menuduh Iran mengancam kebebasan navigasi melalui salah satu jalur energi paling kritis di dunia. Menanggapi hal ini, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Washington bahwa serangan terhadap Iran akan memiliki konsekuensi langsung. Tehran bersikeras bahwa gencatan senjata sementara memungkinkan mereka untuk mengatur lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan berada di Oman untuk membahas situasi di Selat Hormuz, di mana lalu lintas pelayaran melambat akibat serangan terbaru. Para mediator dilaporkan bekerja untuk mengembalikan pembicaraan antara AS dan Iran ke jalur yang benar. Sementara itu, pejabat senior AS menyatakan bahwa Washington mengharapkan Tehran segera mengeluarkan pernyataan bahwa selat tersebut terbuka dan kapal-kapal komersial tidak akan diserang.

Di tengah eskalasi ini, Pakistan dan Arab Saudi menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar dan mitranya dari Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, sepakat bahwa konflik yang diperbarui ini ‘tidak menguntungkan siapa pun dan merusak upaya perdamaian dan stabilitas regional’. Kedua negara, yang telah berperan sebagai mediator, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap komitmen yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani antara AS dan Iran pada Juni lalu.

Pernyataan Mojtaba Khamenei yang menyerukan pembalasan ini menggarisbawahi tekad Iran untuk merespons apa yang mereka anggap sebagai agresi. Ketegangan yang terus meningkat di kawasan ini, ditambah dengan retorika keras dari kedua belah pihak, meningkatkan kekhawatiran akan potensi perang skala penuh di Timur Tengah.

Kesimpulan: Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan ancaman balasan dari kedua belah pihak telah memperburuk situasi di Timur Tengah. Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, berjanji akan membalas dendam, sementara AS dan sekutunya menunjukkan kesiapan untuk merespons lebih lanjut. Diplomat dan upaya mediasi terus dilakukan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas, namun situasi di Selat Hormuz dan ketegangan regional tetap menjadi perhatian utama.

Post Comment