Limit merupakan salah satu materi penting dalam pelajaran matematika, khususnya pada cabang kalkulus. Materi ini mulai diperkenalkan di jenjang SMA dan menjadi dasar utama untuk memahami turunan, integral, serta berbagai aplikasi matematika lanjutan. Salah satu bentuk limit yang sering muncul dalam latihan maupun ujian adalah limit pengurangan. Banyak siswa menganggap limit pengurangan sebagai materi yang sulit karena sering menghasilkan bentuk tak tentu seperti nol per nol.
Padahal, jika dipahami dengan konsep yang tepat dan langkah penyelesaian yang runtut, soal limit pengurangan dapat diselesaikan dengan mudah. Artikel ini akan membahas secara lengkap contoh soal limit pengurangan beserta pembahasan yang mudah dipahami. Penjelasan disusun secara sistematis dan menggunakan bahasa sederhana agar cocok untuk siswa SMA, mahasiswa awal, maupun pembaca umum yang ingin memahami kembali konsep limit.
Baca juga:10 Contoh Soal Kasus Keperawatan Bencana Lengkap dengan Pembahasan
Pengertian Limit Secara Umum
Limit adalah nilai yang didekati oleh suatu fungsi ketika variabelnya mendekati nilai tertentu. Limit tidak selalu sama dengan nilai fungsi di titik tersebut, melainkan nilai yang didekati oleh fungsi ketika variabelnya semakin dekat ke suatu bilangan.
Secara matematis, limit dituliskan sebagai lim x mendekati a f(x). Artinya, kita ingin mengetahui nilai f(x) ketika x mendekati a. Konsep mendekati inilah yang menjadi inti dari pembahasan limit.
Limit digunakan untuk menjelaskan perilaku fungsi di sekitar suatu titik. Tanpa konsep limit, pembahasan tentang turunan dan integral tidak akan bisa dipahami dengan baik.
Pengertian Limit Pengurangan
Limit pengurangan adalah limit yang melibatkan operasi pengurangan dalam bentuk aljabar, baik pada pembilang, penyebut, maupun keduanya. Limit jenis ini sering menghasilkan bentuk tak tentu ketika dilakukan substitusi langsung.
Sebagai contoh, pada limit yang melibatkan pengurangan dua bentuk yang nilainya sama, hasilnya bisa menjadi nol. Jika nol tersebut berada di pembilang dan penyebut, maka akan muncul bentuk tak tentu nol per nol. Inilah yang membuat limit pengurangan perlu diselesaikan dengan langkah tambahan seperti pemfaktoran atau penyederhanaan.
Limit pengurangan banyak muncul dalam soal ujian karena menguji pemahaman siswa terhadap konsep aljabar dan sifat-sifat limit.
Bentuk Tak Tentu dalam Limit Pengurangan
Bentuk tak tentu yang paling sering ditemui pada limit pengurangan adalah nol per nol. Bentuk ini tidak dapat langsung disimpulkan nilainya karena nol per nol tidak memiliki nilai pasti. Oleh sebab itu, diperlukan proses manipulasi aljabar agar bentuk tersebut dapat disederhanakan.
Selain nol per nol, bentuk tak tentu lain yang lebih jarang muncul antara lain tak hingga dikurangi tak hingga. Namun, dalam pembahasan limit pengurangan tingkat SMA, fokus utama biasanya pada bentuk nol per nol.
Mengidentifikasi bentuk tak tentu merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum menentukan metode penyelesaian limit.
Sifat-Sifat Limit yang Perlu Dipahami
Untuk menyelesaikan soal limit pengurangan dengan baik, siswa perlu memahami beberapa sifat dasar limit. Limit dari selisih dua fungsi sama dengan selisih dari limit masing-masing fungsi, selama limit tersebut ada. Limit dari konstanta adalah konstanta itu sendiri. Limit dari hasil kali dan hasil bagi juga dapat dihitung dari limit masing-masing fungsi dengan syarat tertentu.
Pemahaman sifat-sifat limit akan mempermudah proses penyederhanaan dan membantu siswa menentukan langkah yang tepat dalam menyelesaikan soal.
Langkah Umum Menyelesaikan Limit Pengurangan
Langkah pertama dalam menyelesaikan limit pengurangan adalah melakukan substitusi langsung. Jika hasil substitusi tidak menghasilkan bentuk tak tentu, maka nilai limit dapat langsung ditentukan. Namun, jika muncul bentuk tak tentu, maka perlu dilakukan penyederhanaan.
Langkah penyederhanaan bisa berupa pemfaktoran, menghilangkan faktor yang sama, atau mengalikan dengan sekawan jika terdapat bentuk akar. Setelah bentuk aljabar disederhanakan, barulah substitusi dilakukan kembali untuk mendapatkan nilai limit.
Langkah-langkah ini perlu dilakukan secara runtut agar tidak terjadi kesalahan perhitungan.
Baca juga:Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara Nasional Lomba Karya Ilmiah RnDC 2025
Contoh Soal Limit Pengurangan Sederhana
Contoh soal pertama adalah menentukan nilai limit dari x dikurangi tiga ketika x mendekati tiga. Pada soal ini, substitusi langsung dapat dilakukan karena tidak menghasilkan bentuk tak tentu. Ketika x diganti dengan tiga, hasilnya adalah nol. Jadi, nilai limitnya adalah nol.
Soal ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep limit pengurangan yang paling sederhana dan menunjukkan bahwa tidak semua limit pengurangan menghasilkan kesulitan.
Contoh Soal Limit Pengurangan Bentuk Aljabar
Contoh soal berikutnya adalah menentukan nilai limit dari x kuadrat dikurangi empat dibagi x dikurangi dua ketika x mendekati dua. Jika dilakukan substitusi langsung, hasilnya adalah nol per nol sehingga termasuk bentuk tak tentu.
Untuk menyelesaikannya, pembilang difaktorkan menjadi x dikurangi dua dikali x ditambah dua. Setelah itu, faktor x dikurangi dua pada pembilang dan penyebut dapat disederhanakan. Bentuk limit kemudian menjadi x ditambah dua. Dengan mengganti x dengan dua, diperoleh nilai empat sebagai hasil limit.
Contoh ini menunjukkan pentingnya kemampuan memfaktorkan dalam menyelesaikan limit pengurangan.
Contoh Soal Limit Pengurangan dengan Pecahan
Contoh lain adalah menentukan nilai limit dari x kuadrat dikurangi satu dibagi x dikurangi satu ketika x mendekati satu. Pembilang dapat difaktorkan menjadi x dikurangi satu dikali x ditambah satu. Setelah disederhanakan dengan penyebut, bentuk limit menjadi x ditambah satu.
Substitusi x sama dengan satu menghasilkan nilai dua. Dengan demikian, nilai limitnya adalah dua. Soal ini sering muncul dalam latihan karena memiliki pola yang mudah dikenali.
Contoh Soal Limit Pengurangan dengan Akar
Limit pengurangan juga sering melibatkan bentuk akar. Sebagai contoh, menentukan nilai limit dari akar x dikurangi dua dibagi x dikurangi empat ketika x mendekati empat. Substitusi langsung akan menghasilkan nol per nol.
Untuk menyelesaikannya, pembilang dan penyebut dikalikan dengan sekawan dari pembilang, yaitu akar x ditambah dua. Setelah dikalikan dan disederhanakan, bentuk limit menjadi satu dibagi akar x ditambah dua. Dengan mengganti x dengan empat, diperoleh nilai satu per empat.
Contoh ini mengajarkan teknik penggunaan sekawan yang sangat penting dalam limit pengurangan bentuk akar.
Contoh Soal Limit Pengurangan Bentuk Trigonometri
Limit pengurangan juga dapat melibatkan fungsi trigonometri. Misalnya, menentukan nilai limit dari sinus x dikurangi x dibagi x ketika x mendekati nol. Dengan memanfaatkan sifat limit trigonometri dasar, diketahui bahwa limit sinus x per x adalah satu.
Dengan memisahkan bentuk aljabar, limit tersebut dapat disederhanakan menjadi satu dikurangi satu, sehingga hasilnya adalah nol. Soal ini biasanya muncul pada materi limit trigonometri dasar.
Kesalahan Umum dalam Mengerjakan Soal Limit Pengurangan
Banyak siswa melakukan kesalahan dengan langsung menyubstitusi tanpa memeriksa apakah bentuk yang dihasilkan merupakan bentuk tak tentu. Kesalahan lain adalah kurang teliti dalam memfaktorkan atau salah dalam menyederhanakan bentuk aljabar.
Ada juga siswa yang lupa mengalikan dengan sekawan pada soal yang melibatkan akar, sehingga tidak dapat menghilangkan bentuk tak tentu. Kesalahan-kesalahan ini dapat dihindari dengan memahami konsep dasar dan berlatih secara rutin.
Tips Mudah Memahami Limit Pengurangan
Untuk memudahkan pemahaman limit pengurangan, biasakan melakukan substitusi awal untuk mengetahui bentuk limit. Jika muncul bentuk tak tentu, jangan panik dan segera cari cara untuk menyederhanakan bentuk tersebut.
Menguasai operasi aljabar dasar seperti pemfaktoran dan penyederhanaan pecahan sangat membantu dalam menyelesaikan soal limit. Selain itu, pahami juga sifat-sifat limit dan rumus dasar limit trigonometri.
Latihan soal secara bertahap dari yang mudah hingga yang lebih kompleks akan meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri dalam mengerjakan soal limit pengurangan.
Manfaat Menguasai Materi Limit Pengurangan
Menguasai limit pengurangan memberikan banyak manfaat bagi siswa. Selain membantu dalam menyelesaikan soal ujian, pemahaman limit juga menjadi bekal penting untuk mempelajari turunan dan integral.
Limit pengurangan melatih kemampuan berpikir logis dan ketelitian dalam menyelesaikan masalah matematika. Dengan pemahaman yang baik, siswa tidak hanya mampu mengerjakan soal, tetapi juga memahami makna dari setiap langkah penyelesaian.
Pentingnya Latihan Soal Secara Rutin
Latihan soal merupakan kunci utama untuk menguasai limit pengurangan. Semakin sering berlatih, siswa akan semakin mudah mengenali pola soal dan menentukan metode penyelesaian yang tepat.
Latihan juga membantu mengurangi kesalahan dan meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan soal. Oleh karena itu, disarankan untuk mengerjakan berbagai variasi contoh soal limit pengurangan secara rutin.
Kesimpulan
Limit pengurangan adalah materi penting dalam kalkulus yang sering dianggap sulit oleh siswa. Namun, dengan pemahaman konsep yang tepat dan langkah penyelesaian yang sistematis, soal limit pengurangan dapat diselesaikan dengan mudah.
Melalui pembahasan contoh soal limit pengurangan lengkap dengan pembahasan yang mudah dipahami, diharapkan pembaca dapat memahami konsep limit secara lebih mendalam. Pemahaman ini akan sangat membantu dalam menghadapi ujian dan mempelajari materi matematika lanjutan.
Dengan latihan yang konsisten dan pemahaman yang kuat terhadap konsep dasar, limit pengurangan bukan lagi menjadi materi yang menakutkan, melainkan menjadi bagian penting dari proses belajar matematika yang menyenangkan.
Penulis:kiara Salsabilla
![Dalam materi statistika, simpangan baku dan varian data tunggal menjadi salah satu topik penting yang perlu dipahami. Keduanya digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Jika data memiliki penyebaran yang kecil, nilai simpangan baku dan variannya juga cenderung kecil. Sebaliknya, semakin jauh data tersebar dari rata-rata, semakin besar pula nilai simpangan baku dan varian. Materi ini sering muncul dalam pembelajaran matematika, terutama ketika membahas statistika dasar. Untuk menguasainya, tidak cukup hanya menghafalkan rumus. Kita juga perlu memahami langkah-langkah menghitung mean, selisih setiap data dengan rata-rata, kuadrat selisih, varian, hingga simpangan baku. Artikel ini akan membahas pengertian, rumus, perbedaan, serta beberapa contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal lengkap dengan cara mengerjakannya secara bertahap. Apa Itu Varian? Varian adalah ukuran statistik yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Varian dihitung dengan mencari rata-rata dari kuadrat selisih setiap data terhadap mean. Dalam data tunggal, terdapat dua jenis rumus varian yang umum digunakan, yaitu varian populasi dan varian sampel. Untuk populasi, rumusnya adalah: σ² = Σ(xᵢ − μ)² / N Keterangan: σ² = varian populasi xᵢ = nilai setiap data μ = rata-rata populasi N = banyak data Σ = jumlah keseluruhan Sementara itu, untuk sampel, rumus varian adalah: s² = Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1) Keterangan: s² = varian sampel xᵢ = nilai setiap data x̄ = rata-rata sampel n = banyak data Dalam soal matematika sekolah, apabila soal menyebutkan sekumpulan data sebagai keseluruhan data yang sedang dianalisis, biasanya digunakan rumus varian populasi. Apa Itu Simpangan Baku? Simpangan baku atau standard deviation adalah akar kuadrat dari varian. Simpangan baku digunakan untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran data dari nilai rata-ratanya. Rumus simpangan baku populasi adalah: σ = √[Σ(xᵢ − μ)² / N] Sedangkan untuk sampel: s = √[Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1)] Karena simpangan baku merupakan akar dari varian, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Jika diketahui: Varian = 16 maka: Simpangan baku = √16 = 4 Jadi, semakin besar nilai varian, biasanya semakin besar pula simpangan bakunya. Perbedaan Varian dan Simpangan Baku Meskipun saling berkaitan, varian dan simpangan baku bukanlah hal yang sama. Varian merupakan rata-rata kuadrat penyimpangan data dari mean. Sementara itu, simpangan baku merupakan akar kuadrat dari varian. Contohnya, jika suatu kumpulan data memiliki varian sebesar 25, maka simpangan bakunya adalah: √25 = 5 Perbedaan lainnya terletak pada satuan. Varian menggunakan satuan yang dikuadratkan, sedangkan simpangan baku memiliki satuan yang sama dengan data aslinya. Karena alasan tersebut, simpangan baku sering kali lebih mudah digunakan untuk menginterpretasikan penyebaran data. Langkah-Langkah Menghitung Varian dan Simpangan Baku Data Tunggal Untuk menyelesaikan soal, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Hitung nilai rata-rata Jumlahkan seluruh data, kemudian bagi dengan banyaknya data. Mean = jumlah seluruh data / banyak data 2. Hitung selisih setiap data dengan mean Setiap nilai data dikurangi dengan rata-rata. xᵢ − x̄ 3. Kuadratkan setiap selisih Hasil pengurangan tadi kemudian dikuadratkan. (xᵢ − x̄)² 4. Jumlahkan seluruh kuadrat selisih Setelah semua data dihitung, jumlahkan hasil kuadrat tersebut. Σ(xᵢ − x̄)² 5. Hitung varian Untuk populasi, jumlah kuadrat selisih dibagi dengan banyak data. 6. Hitung simpangan baku Simpangan baku diperoleh dengan mencari akar kuadrat dari varian. Contoh Soal 1: Menghitung Varian Data Tunggal Soal: Diketahui data nilai ulangan matematika lima siswa sebagai berikut: 6, 7, 8, 9, 10 Tentukan nilai varian dari data tersebut! Pembahasan Langkah pertama adalah menghitung rata-rata. Jumlah data: 6 + 7 + 8 + 9 + 10 = 40 Banyak data: n = 5 Maka: Mean = 40 / 5 = 8 Selanjutnya, hitung selisih setiap data dengan rata-rata. Data (x) x − mean (x − mean)² 6 -2 4 7 -1 1 8 0 0 9 1 1 10 2 4 Jumlah 0 10 Jumlah kuadrat selisih adalah: Σ(x − x̄)² = 10 Karena data tersebut dianggap sebagai populasi, maka: Varian = 10 / 5 Varian = 2 Jadi, varian data tersebut adalah 2. Contoh Soal 2: Menghitung Simpangan Baku Data Tunggal Soal: Tentukan simpangan baku dari data berikut: 5, 6, 7, 8, 9 Pembahasan Pertama, tentukan rata-rata. Jumlah data: 5 + 6 + 7 + 8 + 9 = 35 Banyak data: 5 Maka: Mean = 35 / 5 = 7 Selanjutnya, buat tabel perhitungan. Data x − mean (x − mean)² 5 -2 4 6 -1 1 7 0 0 8 1 1 9 2 4 Jumlah 0 10 Varian: σ² = 10 / 5 = 2 Simpangan baku: σ = √2 Jadi, simpangan bakunya adalah: √2 ≈ 1,41 Dengan demikian, simpangan baku data tersebut sekitar 1,41. Contoh Soal 3: Varian dan Simpangan Baku Sekaligus Soal: Diketahui data tinggi tanaman dalam satu kelompok adalah: 10, 12, 14, 16, 18 Tentukan: Mean Varian Simpangan baku Pembahasan Langkah 1: Menghitung Mean Jumlah seluruh data: 10 + 12 + 14 + 16 + 18 = 70 Banyak data: 5 Maka: Mean = 70 / 5 = 14 Langkah 2: Menghitung Kuadrat Selisih Data x − 14 (x − 14)² 10 -4 16 12 -2 4 14 0 0 16 2 4 18 4 16 Jumlah 0 40 Langkah 3: Menghitung Varian Karena terdapat lima data: σ² = 40 / 5 σ² = 8 Jadi, variannya adalah 8. Langkah 4: Menghitung Simpangan Baku Simpangan baku merupakan akar dari varian. σ = √8 Karena: √8 = √(4 × 2) maka: σ = 2√2 Jika dibulatkan: σ ≈ 2,83 Jadi, hasil akhirnya adalah: Mean = 14 Varian = 8 Simpangan baku ≈ 2,83 Contoh Soal 4: Data dengan Nilai yang Lebih Bervariasi Soal: Perhatikan data berikut: 4, 6, 8, 10, 12, 14 Hitunglah varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Jumlah data: 4 + 6 + 8 + 10 + 12 + 14 = 54 Banyak data: 6 Mean: 54 / 6 = 9 Selanjutnya: Data x − 9 (x − 9)² 4 -5 25 6 -3 9 8 -1 1 10 1 1 12 3 9 14 5 25 Jumlah 0 70 Maka varian: σ² = 70 / 6 σ² = 11,67 Kemudian simpangan baku: σ = √11,67 σ ≈ 3,42 Jadi, varian data adalah sekitar 11,67, sedangkan simpangan bakunya sekitar 3,42. Contoh Soal 5: Menghitung Simpangan Baku dari Data Nilai Siswa Soal: Nilai lima siswa dalam sebuah tes adalah: 70, 75, 80, 85, 90 Tentukan varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Pertama, hitung rata-rata: Mean = (70 + 75 + 80 + 85 + 90) / 5 Mean = 400 / 5 Mean = 80 Kemudian hitung kuadrat selisih setiap data. Nilai Selisih dari Mean Kuadrat Selisih 70 -10 100 75 -5 25 80 0 0 85 5 25 90 10 100 Jumlah 0 250 Varian: σ² = 250 / 5 σ² = 50 Simpangan baku: σ = √50 σ = 5√2 σ ≈ 7,07 Jadi, varian data adalah 50 dan simpangan bakunya sekitar 7,07. Contoh Soal 6: Menentukan Varian Jika Simpangan Baku Diketahui Soal: Sebuah kumpulan data memiliki simpangan baku sebesar 6. Tentukan nilai variannya! Pembahasan Hubungan antara varian dan simpangan baku adalah: Simpangan baku = √Varian Karena simpangan baku diketahui sebesar 6, maka: Varian = 6² Varian = 36 Jadi, nilai variannya adalah 36. Soal seperti ini relatif lebih mudah karena tidak perlu menghitung mean dan penyimpangan masing-masing data. Contoh Soal 7: Membandingkan Penyebaran Dua Data Soal: Diketahui dua kelompok data berikut. Kelompok A: 7, 8, 9, 10, 11 Kelompok B: 3, 6, 9, 12, 15 Kelompok manakah yang memiliki penyebaran data lebih besar berdasarkan simpangan baku? Pembahasan Kedua kelompok memiliki mean yang sama. Kelompok A: Mean = 9 Kuadrat selisih: 4 + 1 + 0 + 1 + 4 = 10 Varian: 10 / 5 = 2 Simpangan baku: √2 ≈ 1,41 Untuk Kelompok B: Mean = 9 Kuadrat selisih: 36 + 9 + 0 + 9 + 36 = 90 Varian: 90 / 5 = 18 Simpangan baku: √18 ≈ 4,24 Dari hasil tersebut, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki rata-rata yang sama, tetapi penyebarannya berbeda. Kelompok A memiliki simpangan baku sekitar 1,41, sedangkan Kelompok B sekitar 4,24. Artinya, nilai-nilai pada Kelompok B tersebar lebih jauh dari rata-ratanya dibandingkan Kelompok A. Tips Cepat Mengerjakan Soal Simpangan Baku dan Varian Agar tidak mudah salah ketika mengerjakan soal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Jangan langsung menggunakan rumus simpangan baku Pastikan nilai rata-rata sudah benar terlebih dahulu. Kesalahan pada mean akan memengaruhi seluruh perhitungan berikutnya. 2. Perhatikan tanda negatif Ketika menghitung selisih data dengan mean, hasilnya bisa negatif. Namun, setelah dikuadratkan, hasilnya selalu positif. Misalnya: (6 − 8)² = (-2)² = 4 Bukan -4. 3. Bedakan varian dengan simpangan baku Varian dan simpangan baku memiliki hubungan, tetapi nilainya berbeda. Jika varian = 9, maka: Simpangan baku = √9 = 3 4. Perhatikan apakah data merupakan populasi atau sampel Jika soal meminta varian atau simpangan baku populasi, pembaginya adalah N. Jika soal meminta ukuran sampel dengan rumus sampel, pembaginya adalah n − 1. 5. Gunakan tabel untuk mengurangi kesalahan Untuk data yang cukup banyak, tabel dengan kolom data, selisih dari mean, dan kuadrat selisih akan membuat proses perhitungan lebih teratur. Kesalahan yang Sering Terjadi Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat mengerjakan soal simpangan baku dan varian. Pertama, salah menghitung mean. Karena mean menjadi dasar untuk mencari penyimpangan, kesalahan kecil pada tahap ini dapat membuat hasil akhir salah. Kedua, lupa mengkuadratkan selisih. Varian menggunakan kuadrat dari selisih data dengan rata-rata, bukan selisih biasa. Ketiga, salah menentukan pembagi. Untuk populasi digunakan N, sedangkan pada rumus sampel digunakan n − 1. Keempat, menganggap varian sama dengan simpangan baku. Padahal, simpangan baku adalah akar kuadrat dari varian. Kelima, terburu-buru melakukan pembulatan. Sebaiknya gunakan nilai yang lebih presisi selama proses perhitungan dan lakukan pembulatan pada hasil akhir. Kesimpulan Simpangan baku dan varian data tunggal merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran suatu kumpulan data terhadap nilai rata-ratanya. Varian diperoleh dengan menghitung rata-rata kuadrat selisih setiap data terhadap mean, sedangkan simpangan baku diperoleh dengan mengambil akar kuadrat dari varian. Untuk mengerjakan soal, langkah yang paling aman adalah menghitung mean terlebih dahulu, kemudian mencari selisih setiap data dengan mean, mengkuadratkan selisih tersebut, menjumlahkannya, dan membaginya sesuai jenis data yang digunakan. Setelah mendapatkan varian, simpangan baku dapat diperoleh dengan cara mengambil akar kuadratnya. Dengan memahami alur tersebut, berbagai contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal dapat dikerjakan secara lebih mudah dan sistematis. Kunci utamanya bukan hanya menghafal rumus, tetapi memahami hubungan antara rata-rata, penyebaran data, varian, dan simpangan baku.](https://daftarsekolah.spmb.teknokrat.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Gemini_Generated_Image_stezgqstezgqstez.jpeg)


Post Comment