Pertandingan Pacers vs Nuggets di Mexico City bukan sekadar laga pramusim biasa. Bagi Eduardo Najera, pertemuan Indiana Pacers dan Denver Nuggets di ibu kota Mexico itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang ia rintis sejak dua dekade lalu, ketika NBA masih terasa jauh dari jangkauan penggemar di negaranya.

Najera, satu-satunya pemain kelahiran Mexico yang dipilih di draft NBA sebelum tahun ini, menyaksikan langsung bagaimana minat terhadap basket di Mexico tumbuh pesat. Duel Pacers vs Nuggets menjadi bukti nyata bahwa Mexico City kini rutin menjadi tuan rumah laga resmi NBA.

Membangun Jembatan Basket di Chihuahua

Pada musim panas 2005, Najera mengumpulkan sejumlah rekan setimnya di Denver untuk sebuah pertandingan amal di kampung halamannya, Chihuahua. Ia ingin menghadirkan atmosfer NBA bagi anak-anak yang tidak mampu menonton langsung ke Amerika Serikat.

Jason Richardson, juara kontes slam dunk NBA, menjadi bintang utama edisi perdana. Dalam beberapa tahun berikutnya, Marcus Camby, Kenyon Martin, dan JR Smith ikut bergabung. Najera lalu menggelar eksibisi serupa di berbagai kota Mexico dengan mendatangkan nama-nama seperti Kevin Love, DeAndre Jordan, dan DeMar DeRozan.

Saat itu, baru satu pertandingan musim reguler NBA digelar di Mexico. Laga pramusim memang mulai marak, tetapi belum ada jaminan para bintang akan tampil. Karena itu, upaya Najera membawa NBA ke tanah airnya terasa begitu berarti.

Perjalanan Najera Bersama Nuggets

Najera menghabiskan 12 tahun berkarier sebagai pemain dan mengenakan seragam Nuggets lebih banyak daripada tim lain, yakni 243 pertandingan. Ia menjadi pemain peran tangguh di era Carmelo Anthony dan berkontribusi pada empat tim playoff antara 2005 hingga 2008.

Di Mexico, namanya setara dengan Michael Jordan. Camby bahkan pernah menjulukinya “raja Mexico”. Namun, Najera enggan menyandang gelar itu, sebagian karena menghormati generasi pemain Mexico sebelumnya yang tak dikenal publik NBA.

Ia menantikan penerusnya. Harapan baru itu adalah Karim Lopez, yang dipilih Memphis pada urutan ke-16 tahun ini. “Saya pikir dia akan menjadi pemain terbaik yang pernah dimiliki negara kami,” ujar Najera.

Kenangan Tak Terlupakan di Denver

Najera tiba di Denver melalui pertukaran pada 2005 setelah empat tahun di Dallas dan setengah musim di Golden State. Ia langsung merasakan kedekatan dengan kota itu karena Chihuahua dan Denver sama-sama dikelilingi pegunungan serta berada di ketinggian sekitar satu mil.

Momen paling membekas adalah keributan melawan New York Knicks di Madison Square Garden, ketika Anthony memukul lawan dan diskors 15 pertandingan. Beberapa hari setelah insiden itu, Nuggets mendatangkan Allen Iverson. Tim yang sempat goyah justru bersatu dan menyelamatkan musim mereka.

Meski begitu, Najera tak pernah merasakan kemenangan di playoff bersama Denver. Empat tahunnya di sana diwarnai kekalahan di putaran pertama dengan rekor 3-16. Ia pergi pada 2008 dan menandatangani kontrak empat tahun dengan Nets.

Mexico City Siap untuk Waralaba NBA?

Kedatangan Nuggets ke Mexico untuk menghadapi Pacers bertepatan dengan wacana ekspansi NBA. Mexico City disebut-sebut sebagai kandidat, meski Las Vegas dan Seattle dianggap lebih di depan untuk mendapatkan tim ke-31 dan ke-32.

Najera, yang kini tinggal di Playa del Carmen dan bekerja sebagai duta Mavericks untuk Mexico, tetap optimistis. Baginya, duel Pacers vs Nuggets di Mexico City adalah pengingat bahwa kota ini telah lama siap menjadi bagian tetap dari peta NBA.

Sumber referensi: www.denverpost.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *