Sekolapedia – 08 November 2026 | Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tengah menghadapi tantangan serius seiring dengan munculnya fenomena ‘makan tabungan’ yang dialami oleh kelompok kelas menengah. Fenomena ini terjadi ketika pendapatan bulanan tidak lagi mampu menutupi kebutuhan dasar sehari-hari, sehingga simpanan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun terpaksa digunakan untuk menambal defisit pengeluaran. Alih-alih digunakan untuk investasi atau dana darurat, tabungan kini beralih fungsi menjadi penyambung hidup demi menghindari jeratan utang.
Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait struktur demografi ekonomi di tanah air. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia dilaporkan menyusut hampir 10 juta orang. Pada tahun 2019, kelompok ini mencakup sekitar 57 juta orang atau 21,5% dari populasi, namun angka tersebut merosot menjadi hanya 47,85 juta orang atau sekitar 17% pada tahun 2024. Penurunan ini menandakan adanya pergeseran kelas ekonomi yang signifikan di tengah dinamika global.
Faktor Pendorong Penyusutan dan Tekanan Ekonomi
Penyusutan jumlah penduduk dalam kategori ini tidak hanya disebabkan oleh penurunan daya beli secara langsung, tetapi juga dipicu oleh transformasi struktur lapangan kerja. Disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta perubahan geopolitik global telah mengubah lanskap pekerjaan di Indonesia. Beberapa sektor tradisional seperti tekstil dan alas kaki mengalami tekanan hebat, sementara sektor jasa mulai berkembang namun menuntut adaptasi keterampilan yang cepat.
Selain faktor pekerjaan, perubahan perilaku konsumsi juga menjadi indikator penting. Masyarakat kini cenderung melakukan strategi trading down, yaitu menurunkan standar belanja dengan beralih ke produk yang lebih murah namun tetap memenuhi fungsi kebutuhan. Fenomena frugal living yang semula dianggap sebagai gaya hidup sadar finansial, kini bergeser menjadi strategi bertahan hidup (survival mechanism) bagi banyak keluarga.
| Indikator Ekonomi | Keterangan Tren |
|---|---|
| Pertumbuhan Belanja (YoY) | Melambat ke angka 5,9% pada Kuartal III 2026 |
| Indeks Belanja (MSI) | Mengalami kontraksi selama enam minggu berturut-turut |
| Sektor Konsumsi Tumbuh | Telekomunikasi, Transportasi, Hotel, dan Restoran (6-7%) |
| Sektor Konsumsi Melambat | Makanan, Minuman, Alas Kaki, dan Tekstil (3-4%) |
Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi Nasional
Jika fenomena makan tabungan ini berlangsung dalam jangka waktu lama, risiko finansial yang dihadapi masyarakat akan semakin membesar. Selain saldo rekening yang menipis, hilangnya dana darurat membuat kelompok kelas menengah menjadi sangat rentan terhadap guncangan ekonomi mendadak. Kondisi ini secara sistemik dapat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat konsumsi rumah tangga selama ini merupakan penopang utama PDB Indonesia.
Perubahan perilaku belanja yang semakin selektif dan rasional menuntut pelaku bisnis untuk melakukan reposisi strategi. Konsumen modern kini lebih berbasis nilai (value-driven), di mana mereka sangat teliti dalam membandingkan harga, kualitas, dan manfaat jangka panjang sebelum melakukan transaksi. Hal ini terlihat dari meningkatnya penggunaan kanal belanja daring dan pemilihan produk dalam kemasan yang lebih kecil untuk efisiensi biaya.
Pemerintah sendiri tengah berupaya mengantisipasi tekanan ini melalui berbagai program, mulai dari hilirisasi industri, penguatan sektor pariwisata, hingga pemberian insentif seperti pemangkasan PPh untuk gaji di bawah Rp10 juta dan penyediaan KPR subsidi. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang lebih stabil guna mengembalikan posisi ekonomi kelas menengah ke level yang lebih aman.
Secara keseluruhan, situasi ini merupakan alarm bagi stabilitas ekonomi domestik. Ketidakpastian global dan disrupsi teknologi menuntut masyarakat untuk lebih adaptif, sementara kebijakan pemerintah diharapkan mampu memberikan jaring pengaman yang kuat agar masyarakat tidak terus terperosok ke kelas ekonomi di bawahnya.
