Pertandingan AZ vs Groningen di Alkmaar pada akhir pekan ini bukan sekadar perburuan tiga poin. Kedua klub merupakan dua tim Eredivisie yang paling banyak memberi menit bermain kepada pemain hasil didikan sendiri. Sepanjang musim ini, lebih dari separuh total menit kedua tim jatuh ke tangan para jebolan akademi mereka, persentase tertinggi di antara seluruh peserta liga. ESPN menyebut laga ini sebagai battle of the youth dan berbincang dengan Byron Bakker, kepala akademi FC Groningen, soal arah perkembangan pembinaan di klubnya.

AZ vs Groningen: Dua Akademi, Dua Cerita Berbeda

Perbandingan antara kedua klub memang sering muncul. Bakker mengakui hal itu menyenangkan, namun ia menegaskan ada banyak perbedaan mendasar. Menurutnya, Groningen dan AZ beroperasi di wilayah tangkapan yang sangat tidak sama, terutama dari sisi kepadatan penduduk.

Wilayah Kerja yang Tidak Sebanding

Groningen berada di kawasan utara yang berpenduduk relatif jarang, sehingga pilihan calon pesepakbola berkualitas jauh lebih sedikit. Sebaliknya, di wilayah barat, jumlah klub profesional level Eredivisie dalam radius tertentu jauh lebih banyak, sehingga persaingan yang dihadapi AZ lebih ketat. Meski demikian, Bakker menilai keunggulan kompetitif tersebut tidak cukup menutup kerugian akibat wilayah yang sepi penduduk. Karena itu, ia menyebut klubnya menghadapi tantangan yang lebih berat.

Titik Balik yang Membentuk Kebijakan

Kedua klub sama-sama terpaksa mengandalkan pemain muda karena kondisi mendesak. Di AZ, momentum itu terjadi jauh lebih awal, tepatnya saat sponsor utama DSB Bank bangkrut pada 2009. Sebelumnya klub bersandar pada dana besar dan pembelian pemain mahal, lalu harus mengubah haluan setelah kesulitan finansial. Pembinaan pemain sendiri pun menjadi prioritas, dan pilihan strategis itu menjadi fondasi profesionalisasi akademi AZ yang kini dikenal luas.

Yang membedakan AZ menurut Bakker adalah betapa alaminya orientasi pembinaan itu menyatu dalam kebijakan klub. Groningen juga mencatat kemajuan besar dalam menanamkan budaya pembinaan, tetapi AZ sudah konsisten menjalankannya sejak lama. Bakker menekankan bahwa pihaknya tetap harus berkembang sesuai konteks, peluang, dan tantangan sendiri.

Angka yang Bicara

Setelah sebelas pekan, dua belas pemain didikan AZ mencatat total 7.354 menit. Dari 10.890 menit yang tersedia untuk sebuah tim (11 pemain x 11 laga x 90 menit), jebolan akademi menyumbang 67,5 persen. FC Groningen menyusul dengan dua belas pemain dan 5.821 menit, setara 53,5 persen. Keduanya melampaui capaian musim lalu, ketika AZ berada di 42,2 persen dan Groningen 40,4 persen.

Klub besar Belanda masih tertinggal jauh: FC Twente 32,0 persen, Ajax 28,4 persen, dan Feyenoord 12,7 persen. Seorang pemain dihitung sebagai didikan sendiri jika pernah bermain di minimal satu tim muda klub, sedangkan Jong Ajax, Jong PSV, Jong AZ, dan Jong FC Utrecht tidak diperhitungkan karena tampil di sepak bola profesional.

Di Groningen, kapten Thijmen Blokzijl menjadi yang paling menonjol tanpa melewatkan satu menit pun (990). Thom van Bergen (970) dan Tika de Jonge (958) menyusul. Di kubu AZ, Lewis Schouten dan Peer Koopmeiners masing-masing 985 menit, disusul Mexx Meerdink dengan 922 menit.

Degradasi 2023 sebagai Katalis

Gelombang pemain muda Groningen jauh lebih baru dibandingkan AZ. Pembinaan memang sudah lama menjadi urat nadi klub, dilengkapi pembelian cerdas dari Skandinavia dan Amerika Selatan. Namun degradasi pada 2023 memaksa klub merapikan keuangan sekaligus menemukan kembali identitasnya.

Setelah turun ke Keuken Kampioen Divisie, Groningen memilih skuad muda yang sarat talenta daerah, dan langsung membawa klub kembali ke Eredivisie. Luciano Valente berkembang dari talenta menjadi bintang, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FC Groningen pada 2025, lalu dilepas ke Feyenoord dengan nilai sekitar tujuh juta euro. Nama seperti Thom van Bergen, Jorg Schreuders, Wouter Prins, Tika de Jonge, Romano Postema, dan Leandro Bacuna juga berperan penting dalam promosi.

Sabar, tapi Tak Berhenti Berkembang

Bakker menyebut klubnya sangat sabar, karena penampilan pemain usia 13, 14, atau 15 tahun tidak selalu menggambarkan hasil akhirnya. Meski begitu, Groningen tidak berpuas diri. Klub memperkuat program fisik, meningkatkan fasilitas melalui Topsport Zorgcentrum, dan menyusun jalur pembelajaran yang lebih terencana.

Ambisi pun naik: tampil stabil di paruh atas dan berpeluang ke Eropa menuntut pemain mampu bermain dengan tekanan tinggi, intensitas, dan dinamika. Bakker menegaskan klub tidak bisa terus bersandar pada kesuksesan masa lalu, dan memberi pujian kepada Dick Lukkien beserta stafnya yang berani memberi kesempatan kepada pemain muda.

Bagi kedua klub, pilihan mengandalkan pemain sendiri berawal dari kebutuhan mendesak, tetapi hasilnya justru mengesankan. AZ vs Groningen akan menunjukkan siapa yang berhasil membawa pulang tiga poin. Laga ini disiarkan langsung di ESPN 3 mulai pukul 16.45.

Sumber referensi: www.espn.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *