Street Fighter 2026 Review: Kacau, Konyol, tetapi Tetap Menghibur

Dalam street fighter 2026 review ini, satu hal segera terlihat: film garapan Kitao Sakurai lebih tertarik merayakan kekacauan daripada membangun cerita yang rapi. Energinya riuh, penuh jurus khas gim dan karakter nyentrik, tetapi penjelasan mengenai dunia serta kekuatan di dalamnya terasa seadanya. Hasilnya memang sering sulit dipercaya, namun hiburannya juga sulit disangkal.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 Oktober. Dengan Psycho Power, petarung yang melontarkan serangan fantastis, dan sosok-sosok aneh yang muncul tanpa banyak basa-basi, Street Fighter bergerak seperti pesta yang tak ingin berhenti. Logika sesekali tersingkir, tetapi film tetap mengandalkan semangat dan komedi untuk menjaga penonton ikut larut.

Street Fighter 2026 Review: cerita berpusat pada Ryu dan Ken

Film dibuka dengan prolog bergaya anime yang memperkenalkan Ryu (Andrew Koji) dan Ken (Noah Centineo), dua sahabat yang berlatih bersama di bawah bimbingan Gouken (Don Lee). Hubungan mereka berubah ketika Ryu menghilang dari perhatian publik, sementara Ken menjadi figur terkenal. Meski begitu, Ken masih dihantui perasaan bahwa Ryu adalah petarung yang lebih hebat.

Perbedaan kemampuan mereka berkaitan dengan Hado, energi mistis yang hanya dapat dikuasai para pejuang terkuat. Naskah karya Sakurai dan T.J. Fixman tidak banyak meluangkan waktu untuk menerangkan konsep tersebut. Keterbatasan itu terasa makin penting ketika M. Bison (David Dastmalchian), pemimpin organisasi kriminal Shadaloo, mengadakan turnamen untuk menyerap Hado dan mendapatkan kekuatan khususnya sendiri, yang di lingkarannya disebut Psycho Power.

Premis tersebut menyediakan alasan untuk mempertemukan banyak tokoh dari gim, tetapi tidak berkembang menjadi cerita yang mendalam. Film tampak lebih bersemangat memasukkan sebanyak mungkin karakter dan pengaruh budaya daripada memastikan setiap bagian dunia fiksinya saling terhubung. Penonton yang berharap aturan kekuatan dan motivasi tokoh dijelaskan dengan terperinci mungkin akan merasa kurang puas.

Performa pemeran lebih kuat daripada motivasi tokoh

Ken mendapat porsi lebih besar untuk menunjukkan rasa tidak amannya hidup dalam bayang-bayang Ryu. Noah Centineo memainkan tokoh ini dengan kegelisahan dan energi seperti adik yang selalu ingin membuktikan diri. Namun, alasan Ken terus terlibat dalam turnamen tidak pernah benar-benar jelas: ia ingin menandingi Ryu, menghormati gurunya, menyelamatkan dunia, atau sekadar mengejar hal lain?

Ketidakjelasan tersebut mengurangi bobot konflik Ken, terutama ketika film mencoba memberi ruang bagi momen emosional menjelang akhir. Tokoh ini punya bahan yang menarik, tetapi naskah tidak cukup fokus mengolahnya. Penampilan Centineo membantu menjembatani kekurangan itu lewat humor dan hubungan dinamisnya dengan Ryu.

Ryu menghadapi persoalan lain. Ia berusaha menahan kekuatan gelap dalam dirinya, tetapi jalur konflik tersebut tidak dibangun secara konsisten. Akuma, yang diperankan Roman Reigns, menjadi representasi ancaman itu. Film berkali-kali kembali ke kilas balik masa awal Ryu dan Ken, sehingga penjelasan tentang arti Akuma terasa berulang dan menghambat alur.

Andrew Koji tetap memberi Ryu ketenangan yang meyakinkan tanpa membuatnya terasa kaku. Kontras antara sikap Ryu yang terkendali dan Ken yang meledak-ledak menjadi salah satu kekuatan film. Adegan perkelahian mereka di kamar hotel, misalnya, memadukan koreografi sederhana, persaingan kecil, dan komedi dengan efektif.

Aksi berlebihan menjadi sumber keseruan

Perkelahian muncul dengan frekuensi tinggi, bahkan ketika alasan cerita untuk memulainya tidak terlalu kuat. Saat turnamen menjadi pusat bagian kedua film, kompetisi itu sendiri justru terasa seperti latar bagi rangkaian bentrokan. Aksi menggabungkan pengaruh film Hong Kong, anime, serta film-film era 1980-an dan 1990-an, dengan perpaduan koreografi pertarungan dan momen heroik yang sengaja dibuat besar.

Gaya tersebut mengingatkan pada energi aksi terinspirasi gim dalam Scott Pilgrim vs. The World. Seperti film itu, adegan laga Street Fighter berusaha menghadirkan adrenalin sekaligus lelucon. Namun, Sakurai kerap memasukkan terlalu banyak gag dalam satu rangkaian. Sebelum satu lelucon atau gerakan sempat dinikmati, film sudah beralih ke kejutan berikutnya.

Para pemeran dan tim stunt menyajikan banyak gerakan dengan baik, termasuk Koji dalam adegan yang lebih rumit. Seiring berjalannya cerita, efek visual semakin banyak ditambahkan. Efek tersebut memperbesar tampilan aksi, tetapi tidak selalu membuat pukulannya terasa lebih kuat atau lebih nyata.

Street Fighter 2026 review untuk karakter dan pemain pendukung

Deretan petarung dari gim menjadi daya tarik utama. Chun-Li (Callina Liang), Guile (Cody Rhodes), Vega (Orville Peck), Dhalsim (Vidyut Jammwal), dan Cammy (Mel Jarnson) diperkenalkan sebelum turnamen dimulai di MetroLao City. Alasan pribadi mereka menerima undangan kemudian kurang berpengaruh terhadap cerita, tetapi masing-masing tetap memberi warna tersendiri.

Andrew Schulz mencuri perhatian sebagai Dan Hibiki, sahabat pengganti Ken setelah Ryu pergi. Dan awalnya tampak seperti agen yang hanya mengejar uang, tetapi kepeduliannya kepada Ken berkembang menjadi salah satu ikatan emosional yang lebih terasa. Schulz juga memanfaatkan kontras antara kepercayaan dirinya dan ketidakmampuannya menghadapi para petarung tangguh untuk menghasilkan humor.

Eric Andre tampil sebagai pembawa acara Don Sauvage dengan energi kacau yang sejalan dengan persona komedinya. Guile versi Cody Rhodes juga meninggalkan kesan kuat: kemunculannya, yang didahului rambut khas dan diiringi tema musiknya, memanfaatkan karisma serta kemampuan komedinya. Sayangnya, durasi tampilnya tidak banyak. Balrog dan Zangief lebih berfungsi sebagai penampilan singkat, sementara Blanka yang diperankan Jason Momoa memberi kejutan melalui tubuh hasil CGI dan cara bicara yang ganjil.

M. Bison versi David Dastmalchian juga menjadi sumber humor yang tak terduga. Hubungannya dengan kekuasaan membuat karakter ini terasa berbeda dari sosok diktator mengintimidasi yang mungkin dibayangkan penonton. Dastmalchian memainkan keanehan tersebut dengan kesungguhan penuh, sehingga absurditasnya justru semakin menonjol.

Kelemahan representasi dan nuansa 1990-an

Kekuatan para pemeran tidak selalu cukup untuk menutupi tokoh yang kurang berkembang. Hal ini terutama terasa pada karakter perempuan utama. Chun-Li dan Cammy memiliki sejarah sebagai tokoh gim yang kerap diseksualisasi, tetapi film tidak menawarkan sudut pandang yang cukup tajam untuk mengkritik kecenderungan itu. Akibatnya, penggambaran mereka berisiko mengulang hal yang seharusnya bisa disikapi dengan lebih cermat.

Latar waktu 1990-an juga belum dimanfaatkan secara konsisten. Film tampaknya menginginkan nuansa nostalgia dan kamp, tetapi desain produksinya tidak banyak menguatkan periode tersebut. Lagu-lagu yang muncul terlalu sering akhirnya memikul sebagian besar tugas membangun suasana, bahkan ada pilihan musik yang berasal dari bagian lain dalam dekade itu.

Kesimpulan

Street Fighter bukan adaptasi yang mengutamakan keteraturan cerita. Motivasi tokohnya sering kabur, penjelasan dunianya tipis, dan beberapa adegan laga terlalu penuh hingga kehilangan fokus. Meski demikian, pemain yang menikmati karakter masing-masing, humor yang tak terduga, serta energi visual yang terus bergerak membuat film ini punya daya hibur.

Bagi penonton yang mencari drama karakter yang matang, film ini mungkin terasa dangkal. Namun, bagi penggemar pertarungan bergaya gim dan komedi yang sengaja kelewat batas, kekacauan Street Fighter dapat menjadi bagian dari kesenangannya. Film ini memang tidak selalu masuk akal, tetapi sering kali tahu cara membuat ketidakmasukakalan itu terasa seru.

Sumber referensi: www.ign.com

Post Comment