Sengit! Eks Mendag Muhammad Lutfi Sebut Singapura ‘Mainkan’ Bursa Saham dan Karhutla, Begini Respon OJK

Sengit! Eks Mendag Muhammad Lutfi Sebut Singapura 'Mainkan' Bursa Saham dan Karhutla, Begini Respon OJK

Sekolapedia – 21 Oktober 2026 | Panggung ekonomi dan politik nasional kembali dihangatkan oleh pernyataan tajam dari mantan Menteri Perdagangan, muhammad lutfi. Dalam pandangannya yang diungkapkan melalui media sosial, ia menyoroti sejumlah dugaan manuver pihak asing, khususnya institusi asal Singapura, yang dinilai berupaya menekan stabilitas pasar modal Indonesia serta lepas tangan dalam isu lingkungan.

Sorotan utama pertama diarahkan pada langkah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengusulkan potensi perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Menurut muhammad lutfi, ancaman penurunan klasifikasi tersebut tidak wajar dan diduga digerakkan oleh tekanan dari institusi investasi raksasa asal Singapura seperti Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC).

Ia menduga bahwa penurunan status ini sengaja dihembuskan untuk memicu kepanikan massal di lantai bursa, sehingga harga saham domestik jatuh. Dengan harga yang terdiskon, investor asing diyakini memiliki peluang emas untuk memborong kembali aset-aset di Indonesia dengan harga murah, terlebih setelah sekitar 80 persen dana asing dilaporkan telah keluar dari pasar namun gagal meruntuhkan bursa secara total.

Kendati demikian, klaim tersebut langsung mendapat tanggapan dingin dari otoritas dalam negeri. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penyedia indeks global tetap bekerja secara independen. Senada dengan BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi memilih untuk tidak ambil pusing dan fokus melanjutkan agenda reformasi pasar modal alih-alih terjebak dalam spekulasi liar.

Selain polemik bursa saham, muhammad lutfi juga melayangkan kritik keras terhadap pemerintah Singapura terkait penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menyoroti langkah Singapura yang hanya melayangkan surat peringatan kepada sejumlah perusahaan tanpa menyentuh akar permasalahan yang lebih dalam.

Berdasarkan laporan Greenpeace Oktober 2026, sebagian perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan justru terdaftar di Bursa Singapura (SGX) dan menjalankan praktik penghindaran pajak melalui model bisnis kantor keluarga (family office) serta pengalihan keuntungan (transfer pricing). Kritik terbuka ini sempat memicu reaksi keras dari kalangan politisi Singapura di dunia maya, yang bersikeras membela posisi negara mereka di tengah memanasnya hubungan kedua belah pihak.

Secara keseluruhan, polemik yang diangkat oleh muhammad lutfi membuka kembali perdebatan panjang mengenai kedaulatan ekonomi nasional, transparansi emiten, hingga tata kelola perusahaan lintas batas. Meskipun berbagai pihak di dalam negeri memilih untuk tetap fokus pada penguatan fondasi ekonomi ketimbang merespons spekulasi politik, isu intervensi asing ini tetap menjadi peringatan penting bagi ketahanan pasar keuangan Indonesia.

Post Comment