Sekolapedia – 10 Oktober 2026 | Kepemimpinan baru di lingkungan Polda Metro Jaya resmi dimulai setelah Komjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto menerima amanah sebagai Kapolda Metro Jaya yang baru. Penunjukan perwira tinggi Polri ini menandai babak baru dalam pengamanan wilayah hukum Jakarta dan sekitarnya, menggantikan Komjen Pol. Asep Edi Suheri yang kini mengemban tugas sebagai Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri.
Upacara serah terima jabatan (sertijab) tersebut dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Rupatama Mabes Polri pada Jumat, 9 Oktober 2026. Prosesi ini merupakan bagian dari rotasi strategis yang melibatkan 88 perwira tinggi dan perwira menengah di tubuh Polri, termasuk pengisian posisi Kapolda di berbagai wilayah Indonesia.
Rekam Jejak Karier: Dari Kapolsek hingga Sang Profesor
Sosok dadang hartanto bukanlah nama baru dalam dunia kepolisian. Sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1994, ia dikenal memiliki rekam jejak yang sangat komprehensif, mencakup fungsi kewilayahan, reserse, hingga dunia pendidikan. Julukan “Sang Profesor” disematkan kepadanya karena kualifikasi akademisnya yang tinggi, sebuah pencapaian yang jarang dimiliki oleh perwira tinggi di jajaran Polri.
Perjalanan kariernya mencerminkan dedikasi yang panjang di lapangan. Beberapa pos penting yang pernah ia duduki antara lain:
- Kapolsek Senen (2005)
- Kapolres Subang (2009)
- Kapolres Cianjur (2011)
- Wakapolrestabes Bandung (2012)
- Sekretaris Pribadi Kapolri
- Kapolrestabes Medan (2017)
- Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi Bareskrim Polri
- Kapolda Maluku (sebelum menjabat Kapolda Metro Jaya)
Pengalaman yang luas ini, mulai dari tingkat Polsek hingga kepemimpinan di wilayah Maluku, menjadi modal kuat bagi dadang hartanto dalam menghadapi kompleksitas tantangan keamanan di ibu kota.
Rincian Harta Kekayaan Berdasarkan LHKPN
Seiring dengan jabatan barunya, laporan harta kekayaan milik dadang hartanto juga menarik perhatian publik. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada Maret 2026, ia mencatatkan total kekayaan sebesar Rp8.030.200.300 atau sekitar Rp8,03 miliar. Berikut adalah rincian aset yang dilaporkan:
| Kategori Aset | Nilai (Estimasi) | Keterangan |
|---|---|---|
| Tanah dan Bangunan | Rp7.720.000.000 | Tersebar di Jakarta Selatan, Cianjur, Cimahi, Surabaya, dan Subang |
| Kendaraan | Rp150.000.000 | Satu unit Toyota Fortuner G tahun 2012 |
| Kas dan Setara Kas | Rp160.200.000 | Tabungan dan aset likuid lainnya |
| Utang | Rp0 | Tidak memiliki utang yang dilaporkan |
Aset properti mendominasi lebih dari 96 persen dari total kekayaan yang dilaporkan, menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan tersebut terakumulasi dalam bentuk aset tetap.
Harapan Masyarakat dan Pendekatan Humanis
Penunjukan dadang hartanto sebagai Kapolda Metro Jaya juga menuai berbagai harapan dari berbagai elemen masyarakat. Ulama asal Malang Raya, Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, secara khusus menyampaikan ucapan selamat dan memberikan masukan strategis bagi kepemimpinan baru ini.
Habib Syakur mendorong agar Polda Metro Jaya di bawah komando Kapolda yang baru dapat mengedepankan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif) dalam menangani perkara-perkara tertentu, terutama yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik yang memenuhi syarat hukum. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pembedaan yang cermat antara pengguna narkotika yang membutuhkan rehabilitasi dengan pelaku peredaran gelap narkotika.
Dengan latar belakang akademis yang kuat dan pengalaman lapangan yang mumpuni, masyarakat menaruh ekspektasi tinggi agar penegakan hukum di Jakarta dapat berjalan lebih profesional, objektif, dan tetap mengedepankan rasa keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Secara keseluruhan, transisi kepemimpinan di Polda Metro Jaya ini merupakan langkah strategis Polri untuk memperkuat organisasi melalui penempatan personel yang memiliki kompetensi, kapabilitas, dan integritas tinggi sesuai dengan prinsip meritokrasi.
Post Comment